Banyak Cabang Kampus LN di RI, Wamen Stella: Bantu Tambah Dana Riset

ADVERTISEMENT

Banyak Cabang Kampus LN di RI, Wamen Stella: Bantu Tambah Dana Riset

Cicin Yulianti - detikEdu
Sabtu, 27 Jun 2026 19:00 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie
Wamendiktisaintek, Prof Stella Christie. Foto: Devita Savitri/detikEdu
Jakarta -

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menanggapi terkait permintaan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Wening Udasmoro soal evaluasi perguruan tinggi luar negeri yang kini banyak dibuka di Indonesia.

Berbagai perguruan tinggi luar negeri kini sudah banyak dibuka di Indonesia, misalnya Monash University, Deakin-Lancaster University, hingga King's College London. Menurut Wening, keberadaan kampus-kampus tersebut perlu ditinjau ulang.

"Kita perlu saya kira meninjau ulang masuknya perguruan tinggi dari luar negeri ke Indonesia. Ini semakin banyak. Jadi perlu kita lihat bermanfaat (atau) tidak perguruan tinggi luar negeri masuk ke Indonesia," jelasnya dalam rapat dengar pendapat panja seleksi penerimaan mahasiswa baru bersama Komisi X DPR RI pada Rabu (24/6/2026), dikutip dari siaran ulang TVR Parlemen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kampus LN Tambah Dana Riset Besar

Wamendiktisaintek Stella menjelaskan bahwa dalam melihat keberadaan kampus luar negeri tersebut harus dilihat dari hasil, jangan hanya persepsi. Sejauh ini, keberadaan mereka turut membawa dana riset bagi Indonesia.

ADVERTISEMENT

"Ya, kita lihat dari hasil, bukan dari persepsi saja. Dan kalau kita lihat misalnya perguruan tinggi Monash itu sudah membawa dana riset yang cukup besar yang dikerjakan bersama dan ini kuncinya bersama dengan peneliti Indonesia," kata Stella di sela-sela acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Stella mencontohkan salah satu proyek kolaborasi Monash University dan Universitas Hasanuddin (Unhas) berhasil memberikan dampak nyata bagi warga. Sehingga tidak hanya dana riset, tapi dampak bagi masyarakat.

"Saya akan memberikan contoh nyata namanya RISE (Revitalising Informal Settlements and their Environments). RISE ini adalah program kepanjangannya saya lupa tetapi itu mengenai program riset mengenai sanitasi bersih di pemukiman yang padat. Dan itu dilakukan bersama antara lain dengan Universitas Hasanuddin," tutur Stella.

Stella melihat hasilnya sangat berdampak signifikan. Pasalnya saat ini masih banyak wilayah yang terbatas lahan untuk septic tank.

"Dan itu meneliti bahwa di pemukiman kumuh kita bukan kumuh, pemukiman padat kita itu sering walaupun tidak terlihat dengan mata, kotoran-kotoran dari toilet kita itu menyebar di tanah. Dan bagaimana membuat sistem septic tank dengan lahan yang terbatas tetapi juga menggunakan tanaman jadi bukan menggunakan chemical itu tetap baik," paparnya.

"Nah, jadi dari situ ini salah satu contoh, tapi inilah yang kita lihat apakah sebenarnya kalau ada universitas yang berkualitas, di sini itu berarti kita bisa mengakses juga dana riset dari negara itu. Nah, ini satu," sambungnya.

Naikkan Index Sitasi Hasil Riset Ilmuwan RI

Dampak lainnya menurut Stella adalah semakin banyak masyarakat dan peneliti di dunia yang melakukan sitasi terhadap hasil riset ilmuwan tanah air. Tentunya ini baik untuk Field-Weighted Citation Index.

"Yang kedua, saya berikan contoh nyata bahwa kalau kita lihat kualitas dari riset kita, itu terukur dari yang namanya Field Weighted Citation Index. Jadi berapa orang ilmuwan lainnya yang mensitasi karya kita. Karena itulah sitasi, artinya digunakan untuk membesarkan ilmu," kata Stella.

Ia menyebut angka Indonesia untuk index tersebut masih di bawah satu. Ia berharap kerja sama perguruan tinggi dalam dan luar negeri dapat membantu kenaikan index itu.

"Indonesia ini masih di bawah satu, terakhir kalau enggak salah itu sekitar 0,84. Berarti di bawah, kualitasnya itu di bawah yang lain. Tapi begitu Indonesia bekerja sama dengan periset internasional tapi ini bukan hanya Indonesia, tapi semua jika bekerja sama dengan periset internasional ini bisa naik. Kalau Indonesia dari 0,84 sampai mungkin bisa ke 3,2 sekian," harapnya.

Stella mengajak masyarakat dan kalangan dari kampus untuk melihat dampak baik dari pembukaan perguruan tinggi luar negeri ini.

"Jadi ini membawa untung yang banyak untuk Indonesia. Itu mungkin secara konkret saya sampaikan data-datanya. Silakan publik menilai bagus tidaknya, kita lihat dari hasil bukan hanya dari konsepnya saja," seru Stella.

Sebagai informasi, pendirian perguruan tinggi dari negara lain salah satunya diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 23 tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Lembaga Negara Lain.

Dalam Bab II dijelaskan perguruan tinggi lembaga negara lain yang terakreditasi dan/atau diakui di negara asal bisa menyelenggarakan pendidikan tinggi di wilayah NKRI. Kriteria universitas dari luar negeri yang membangun kampus di Indonesia di antaranya:

  • Perguruan tinggi termasuk ranking 200 terbaik dunia.
  • Perguruan tinggi memiliki prodi yang termasuk peringkat 200 terbaik di dunia.
  • Menteri dapat menetapkan kriteria selain di atas untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Universitas dari luar negeri yang memenuhi kriteria di atas, kemudian wajib mengajukan izin kepada menteri dan penyelenggaraannya berada di wilayah yang disetujui kementerian. Dosen dan tenaga kependidikan dapat berasal dari warga negara Indonesia maupun warga negara asing.

Dalam catatan detikEdu, beberapa universitas luar negeri yang sudah membuka kampus di Indonesia antara lain:

  • Monash University di BSD, Banten (Australia)
  • Deakin-Lancaster University di Regol, Bandung (Australia-Inggris)
  • Western Sydney University di Surabaya (Australia)
  • King's College London di Singosari-Malang (Inggris)

Beberapa waktu lalu Presiden Prabowo Subianto bahkan mengundang perguruan tinggi terkemuka Inggris untuk bekerja sama membangun 10 universitas baru berstandar internasional di Indonesia. Universitas dengan bahasa pengantar bahasa Inggris ini direncanakan berfokus pada pendidikan kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, serta bidang sains dan teknologi.




(cyu/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads