SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta memiliki antrean pendaftaran murid baru sampai tahun ajaran 2032/2033. Untuk tahun ajaran 2032 mendatang, baru saja penuh kuota antrean pendaftarannya pada Selasa, 27 Januari 2026 lalu.
"Jadi untuk (tahun ajaran) 2027 sampai 2032 itu sudah penuh, kemarin siang (Selasa, 27 Januari 2026). Ini sudah penuh inden-nya," kata Bagian Administrasi SD Muh Sapen, Nofita Saraswati, S Pd, saat ditemui di Ruangan Administrasi SD Muh Sapen, Rabu (28/1/2025).
Bahkan, untuk tahun ajaran berikutnya pada 2033/2034, sudah ada yang mendaftar untuk inden. Skema inden dilakukan hanya dengan mendaftar untuk mengantre dengan menitipkan akta lahir anak atau Kartu Keluarga (KK), tanpa berbayar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kita sistem inden itu syaratnya melampirkan akta salah satunya, jadi kalau mau mendaftarkan tanpa akta kita belum bisa. Titip nama dulu itu belum bisa," ujarnya.
"(Untuk tahun ajaran) 2033, sudah ada (yang daftar), 3 anak. (Meski) baru ditutup kemarin siang untuk yang 2032," terang Nofita.
Orang Tua Sudah Daftarkan Anak ke SD Muhammadiyah Sapen sejak Bayi
Nofita menyampaikan, beberapa anak yang didaftarkan orang tua ke SD Muh Sapen bahkan masih bayi. Para orang tua mendaftarkan anaknya sejak dini untuk mendapatkan antrean inden.
"Kemarin itu (ada) yang kelahiran baru, jadi masih di rumah sakit, (baru lahir). Tapi sekarang kan rumah sakit itu bisa memproses KK dan akta. Itu ibunya masih di rumah sakit, yang ke sini (ke SD Muh Sapen) ayahnya. Alhamdulillah dapat kuota inden, (untuk tahun ajaran) 2032," ungkapnya.
Hal yang serupa juga dilakukan oleh salah seorang ibu bernama Dini Yunitasari. Ia mendaftar ke SD Muh Sapen pada 2024 lalu, saat usia anaknya belum genap satu tahun.
"Jadi tuh kemarin aku iseng mendaftarkan anakku yang nomor tiga. Jadi anakku yang nomor tiga ini kan kelahiran 2023. Jadi kemarin pas aku daftarin (di 2024), usianya belum ada satu tahun," ucapnya kepada detikEdu, Kamis (29/1/2026).
"Jadi kalau anak aku kan (kelahiran) 2023, dia akan masuk (ke SD Muh Sapen) kalau tidak salah di 2030/2031," imbuhnya.
Menurut Dini, faktor penting yang ia sorot yakni nilai-nilai dalam keluarga yang turut diajarkan di lingkungan sekolah. Selain itu, juga faktor keseimbangan pengajaran akademis dan agama.
"Kenapa pilih (SD Muhammadiyah) Sapen, aku dan suami itu sepakat kalau mau pilih sekolah itu harus sesuai dengan nilai keluarga. Jadi nilai-nilai yang diajarkan di rumah itu diajarkan juga di sekolah, jadi sejalan," ujarnya.
"Nah, keluarga kami ini pengen membesarkan anak dengan nilai-nilai yang agamis tapi juga akademis. Sapen ini memenuhi faktor-faktornya, ya," tambahnya.
Melahirkan Siswa-siswi Berprestasi-Kredibilitas Teruji
Dini bercerita, awalnya ia tak sengaja untuk mendaftarkan anak ketiganya ke SD Muh Sapen sejak bayi. Namun, sekolah tersebut juga bukan hal baru baginya.
Sebab, kedua anak Dini sebelumnya sudah bersekolah di SD Muh Sapen. Kemudian sewaktu menjemput dua anaknya di Sapen, ia mendengar ada antrean inden untuk beberapa tahun mendatang. Di situlah ia mendaftarkan anak ketiganya.
"Jadi kemarin pas aku daftarin (di 2024), usianya belum ada satu tahun. Terus aku iseng aja pas jemput anakku. Kebetulan dua anakku yang sebelumnya, yang satu sekarang umur 12 tahun, yang satunya 9 tahun itu sudah bersekolah duluan di (SD Muh) Sapen. Nah, adeknya ini akhirnya saya daftarkan ke Sapen karena ternyata dengar-dengar itu sudah ada yang mendaftar, inden gitu dari bayi. Yaudah aku iseng aja, aku daftarlah, gak berbayar," ceritanya.
"Akhirnya (jadi) sekolah atau tidak di sana pun tidak dipungut biaya, nggak ada hukuman atau penalti. Yaudah (inden), titip aja aktanya," lanjutnya.
Ia menyampaikan, sejak awal mendaftarkan anak-anaknya ke SD Muh Sapen karena prestasi akademik dan penguatan agamanya seimbang. Terlebih, prestasi sekolah tersebut juga sudah dikenal sejak puluhan tahun lamanya.
"Jadi SD Muhammadiyah Sapen ini kan prestasi akademiknya sudah nggak diragukan lagi. Kalau di Jogja itu nomor satu, prestasi akademiknya, agamanya juga jalan. Dua-duanya seimbang. Jadi untuk itulah kami pilih SD Muhammadiyah Sapen," ungkapnya.
"Jadi Sapen dipilih faktor-faktornya ya selain tadi prestasi-prestasi yang sudah tidak diragukan lagi dari zaman aku sekolah dulu. Dari zaman aku SD tuh, aku juga kebetulan dari SD Muhammadiyah. Nah SD Muhammadiyah-ku cukup bagus, cuman nomor satu tetap Sapen. Dan prestasi itu masih bisa dipertahankan sampai dengan aku punya anak sekarang ini. Jadi kami sepakatlah untuk memutuskan memilih Sapen untuk sekolah anak-anak kami," terang lulusan S1 Mikrobiologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Mengutip laman resminya, pada 2025 saja, siswa-siswi SD Muh Sapen menorehkan berbagai prestasi. Mulai dari meraih 5 medali di International Young Inventors Award IID-INNOPA 2025, 23 medali Olimpiade Nasional Matematika, Sains, dan Bahasa Inggris (OMNAS) 14 Tingkat Nasional, hingga medai emas dalam kompetisi bergengsi Asia All Stars Festival International Dance and Music Competition 2025 di Korea Selatan.
Meski telah memilih SD swasta untuk anak-anaknya, Dini tidak menampik bahwa sekolah-sekolah di Yogyakarta memiliki kualitas yang bagus. Hanya saja, setiap orang tua memiliki pertimbangan sendiri-sendiri untuk anaknya.
"Menurut kami, sekolah di mana pun bagus. Tiap orang tua pasti punya pertimbangan sendiri memilihkan untuk anaknya. Tinggal (nanti terpenting) orang tua turut serta membersamai anak-anak dalam tiap langkahnya," tuturnya.
(faz/twu)










































