Tren Sekolah Swasta Lebih Dilirik dari Sekolah Negeri? Ini Kata Para Orang Tua

ADVERTISEMENT

Tren Sekolah Swasta Lebih Dilirik dari Sekolah Negeri? Ini Kata Para Orang Tua

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikEdu
Sabtu, 31 Jan 2026 19:00 WIB
Tren Sekolah Swasta Lebih Dilirik dari Sekolah Negeri? Ini Kata Para Orang Tua
Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya
Jakarta -

Ada tren sekolah swasta kini lebih dilirik dari sekolah negeri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan beberapa fenomena di lapangan menunjukkan hal itu. Lalu, apa ya kata para orang tua terkait pilihan sekolah negeri dan sekolah swasta ini?

Berdasarkan data BPS yang diolah CNBC, pada jenjang SD hingga SMP, preferensi sekolah negeri masih mendominasi dibanding sekolah swasta. Jenjang SD, SD negeri masih menjadi pilihan 86,75% jumlah total siswa SD. Sedangkan pada jenjang SMP, 55,86% siswa masih memilih SMP negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beranjak pada pendidikan menengah, preferensi yang mendominasi adalah sekolah swasta, yaitu sebesar 51,53% pada jenjang SMA dan 73,65% pada jenjang SMK.

Namun pada 2021 hingga 2024, jumlah siswa sekolah negeri terus menurun. Siswa sekolah swasta justru mencatat kenaikan, menandakan pergeseran pilihan sejak pendidikan dasar.

ADVERTISEMENT

Fenomena Ortu Daftarkan ke SD Sejak Bayi

Preferensi sekolah swasta ini tampak di Jogja, salah satunya di SD Muhammadiyah Sapen. SD swasta ini bahkan sudah penuh kuota inden sampai 2032. Para orang tua rela mendaftarkan anaknya bahkan sesaat setelah menerima akta kelahiran.

"Kemarin itu (ada) yang kelahiran baru, jadi masih di rumah sakit, (baru lahir). Tapi sekarang kan rumah sakit itu bisa memproses KK (Kartu Keluarga) dan akta. Itu ibunya masih di rumah sakit, yang ke sini (ke SD Muh. Sapen) ayahnya. Alhamdulillah dapat kuota inden, (untuk) 2032," ungkap Bagian Administrasi SD Muh Sapen, Nofita Saraswati, S Pd kepada detikEdu.

Selain itu, daftar ke sekolah ini tidak ada tes masuk. Namun banyak siswa berprestasi yang dihasilkan dari SD ini.

Apa Kata Orang Tua?

Salah satu orang tua calon siswa SD Muhammadiyah Sapen, Dini Yunitasari. Dini mendaftarkan anaknya ke SD Muh Sapen pada 2024 lalu, saat usia anaknya belum genap satu tahun.

"Kenapa pilih (SD Muhammadiyah) Sapen, aku dan suami itu sepakat kalau mau pilih sekolah itu harus sesuai dengan nilai keluarga. Jadi nilai-nilai yang diajarkan di rumah itu diajarkan juga di sekolah, jadi sejalan," ujarnya.

"Nah, keluarga kami ini pengen membesarkan anak dengan nilai-nilai yang agamis tapi juga akademis. Sapen ini memenuhi faktor-faktornya, ya," tambahnya.

Tak cuma di Jogja, Nita warga Beji, Depok, Jawa Barat mengatakan preferensi sekolah swasta buat anaknya untuk SD. Hal ini lantaran, usia SD merupakan usia emas (golden) pertumbuhan anak.

"Pola sistem pengajaran guru di negeri, lebih perhatian di swasta. Pengajarnya jauh lebih perhatian terhadap anak. Karena masa golden age, anak butuh perhatian, pendidikan dasar butuh pengajar yang perhatian," ujar Nita saat berbincang dengan detikEdu, Sabtu (31/1/2026).

Nita yang sejak SD sampai kuliah di negeri pun kini juga mikir berulang kali menyekolahkan anaknya ke negeri. Dari circlenya sesama orang tua, hanya segelintir yang memilih menyekolahkan anak ke negeri.

Alasan lain dikemukakan Rahmat. Dia lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta sejak SD.

"SD-SMP di yayasan yang sama, dekat rumah," ujar warga Sukatani, Depok, Jabar ini mengungkapkan alasan praktis menyekolahkan anaknya di swasta.

Selain itu, dia melihat rasio guru dan muridnya cukup sedikit, 1:25. Namun, dia mengakui kualitas sekolah swasta anaknya ini kurang.

"Tapi sekolah ini nggak masuk kategori bagus, guru-guru di situ kurang bisa nge-drive anak-anak di situ," katanya yang kurang puas atas kualitas sekolah anaknya.

Di akun TikTok @detikedu, beberapa orang tua mengungkapkan pendapatnya. Seperti kata akun @AkunKe**:

Masuk sekolah swasta itu:

1. Sekolah swasta bukan hanya tentang kemampuan finansial, tapi juga tentang pilihan dan kesempatan.
2. Tidak semua yang masuk sekolah swasta dari golongan menengah ke atas, ada banyak cerita dan perjuangan di balik setiap pilihan.
3. Sekolah swasta bukan hanya tentang gengsi, tapi juga tentang mencari lingkungan belajar yang tepat untuk berkembang.
4. Pilihan sekolah tidak hanya tentang kemampuan materi, tapi juga tentang visi dan misi untuk masa depan.

Sedangkan akun @ini *** mengatakan ada unsur pendidikan yang tidak didapatkan di negeri, meski dulu sekolahnya 'negeri minded'

"Aku didikan orang tua yang harus wajib negeri kalo, swasta berarti aku bodoh. Sekarang punya anak SD masuk swasta karena mencari sekolah yang menurutku sesuai dengan kriteriaku tidak aku dapatkan di negeri. Kalo jaman sekarang sepertinya harus jadi orang tua yang fleksibel lihat kondisi," tulisnya.

Akun @ARIEKA St*** mengatakan, "Sekarang justru homeschooling banyak peminat, kecenderungan yang dulu swasta sekarang homeschooling, yang dulu negeri sekarang swasta.... khusus SD yaaa,".

Menurut akun @eMul****, preferensi lebih ke swasta ini nggak berlaku di Jakarta.

"Nggak berlaku di Jakarta, pada berebut negeri sampe ditua-tuain umurnya, dan nyari zonasi," tulisnya.

Nah, detikers, sebagai orang tua, lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta atau sekolah negeri? Yuk berpendapat di kolom komentar!

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Pemprov DKI Jakarta Akan Gratiskan 100 Sekolah Swasta di 2026"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads