Kemendikdasmen Ungkap Tantangan Besar yang Membayangi Anak Disabilitas

ADVERTISEMENT

Kemendikdasmen Ungkap Tantangan Besar yang Membayangi Anak Disabilitas

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Jumat, 01 Mei 2026 11:00 WIB
Webinar Solusi (Sosialisasi dan Diskusi) seri: Praktik Baik Penerapan 7KAIH di SLB yang dipantau secara daring pada Kamis (30/4/2026).
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati. Foto: YouTube/Cerdas Berkarakter Kemendikdasmen RI
Jakarta -

Peserta didik di Sekolah Luar Biasa (SLB) memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah melalui implementasi gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH). Hal ini diungkapkan oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati.

Rita menjelaskan, 7KAIH bukan sekadar rutinitas, melainkan gerakan penguatan karakter agar anak-anak Indonesia tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kedisiplinan dan akhlak yang baik.

"Gerakan ini berharap bahwa anak-anak Indonesia tidak hanya cerdas tetapi juga berkarakter, memiliki kedisiplinan, memiliki karakter yang baik, tidak hanya sehat fisik tetapi juga berakhlak dan siap berkontribusi untuk bangsa," ujar Rita dalam Webinar Solusi (Sosialisasi dan Diskusi) seri: Praktik Baik Penerapan 7KAIH di SLB yang dipantau secara daring pada Kamis (30/4/2026) melalui YouTube Cerdas Berkarakter Kemendikdasmen RI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

la menekankan implementasi 7KAIH di SLB menjadi bagian penting dari pemenuhan hak pendidikan inklusif. Menurutnya, setiap anak harus mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

"Setiap anak punya hak untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Dengan ragam disabilitas yang sangat bervariasi, maka penerapan 7KAIH juga memerlukan adaptasi," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Namun, di balik upaya penguatan karakter tersebut, Rita tidak menampik adanya tantangan besar yang masih membayangi anak-anak disabilitas di Indonesia. la menyoroti persoalan stigma sosial yang masih melekat kuat di tengah masyarakat.

"Kita masih sangat sering menerima tantangan terkait dengan bagaimana kita membesarkan anak-anak disabilitas. Tantangan dari masyarakat tentang stigma, kemudian juga orang tua lainnya, serta bagaimana kemudian mereka mash memandang anak-anak disabilitas sebagai warga kelas dua," tegas Rita.

Rita meyakini bahwa setiap anak lahir dengan kesempurnaan dan kelebihannya masing-masing. Oleh karena itu, masyarakat wajib mendorong agar mereka dapat mandiri dan produktif.

Adaptasi untuk Tumbuh Kembang

Dalam konteks SLB, penerapan tujuh kebiasaan ini dinilai sangat krusial untuk mendukung kebugaran fisik dan mental siswa. Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur cepat.

Rita menyebutkan bahwa aktivitas-aktivitas sederhana tersebut akan sangat membantu stimulasi potensi, minat, dan bakat peserta didik disabilitas jika dilakukan secara konsisten.

"Ini akan membantu kebugaran fisik mereka, mental mereka, dan juga membantu tumbuh kembang mereka agar tetap dapat tumbuh sebagai individu yang mandiri dan juga produktif," jelasnya.

Pentingnya Ekosistem dan Akomodasi Layak

Selain adaptasi kebiasaan bagi siswa, Rita menekankan keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada penerapan 7 pilar akomodasi yang layak di lingkungan sekolah. Hal ini mencakup kesiapan SDM hingga sistem pendukung di sekolah.

la merinci bahwa penguatan kapasitas guru menjadi kunci utama, diikuti dengan identifikasi identitas peserta didik yang akurat, adaptasi kurikulum yang fleksibel, hingga dukungan pembiayaan dan ekosistem sekolah yang inklusif.

"Penerapan 7 pilar akomodasi yang layak menjadi sangat krusial, mulai dari penguatan kapasitas guru, identifikasi identitas peserta didik, kemudian adaptasi kurikulum, hingga kemudian pembiayaan dan ekosistem sekolah," pungkasnya.

Melalui penguatan praktik baik ini, pemerintah berkomitmen untuk memastikan layanan pendidikan terbaik tersedia bagi seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali, demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads