Kisah Para Disabilitas Peserta SNBT 2026: Berjuang Wujudkan Mimpi Kuliah

ADVERTISEMENT

Kisah Para Disabilitas Peserta SNBT 2026: Berjuang Wujudkan Mimpi Kuliah

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Rabu, 22 Apr 2026 16:30 WIB
Yogi Ardiansyah, peserta penyandang disabilitas fisik (kelainan tulang belakang), usai mengikuti UTBK SNBT 2026 di Universitas Jember, Selasa (21/04/2026) (Dok Unej)
Foto: Yogi Ardiansyah, peserta penyandang disabilitas fisik (kelainan tulang belakang), usai mengikuti UTBK SNBT 2026 di Universitas Jember, Selasa (21/04/2026) (Dok Unej)
Jakarta -

Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SNBT 2026 resmi dimulai pada Selasa (21/4/2026) hingga Kamis (30/4/2026). Sebanyak 871.496 peserta dari seluruh Indonesia mengikuti ujian ini, termasuk para peserta disabilitas yang turut mengikuti UTBK-SNBT 2026.

Di balik semangat para peserta disabilitas mengikuti UTBK-SNBT, ada tekad kuat untuk mewujudkan mimpi kuliah serta cita-cita yang ingin diraih. Hal ini terlihat di IPB University (IPB), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Jember (Unej). Seperti apa perjuangan mereka saat mengikuti ujian di lokasi?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harapan 2 Peserta Disabilitas Daksa di IPB University

Muhammad Tegar Bimo Santoso, peserta disabilitas daksa, memiliki tekad yang kuat dalam menuntut ilmu. Lulusan sekolah formal di Jakarta sekaligus juara IT disabilitas internasional di Korea Selatan (Korsel) ini, tengah berjuang keras menembus perguruan tinggi impiannya.

Sang ayah, Mukmin, yang turut mendampingi di lokasi ujian, menaruh harapan besar agar putranya dapat lolos dan melanjutkan studi sesuai cita-citanya.

ADVERTISEMENT

"(Semangatnya) merupakan kesadaran murni dari sang anak sebagai bekal hidupnya di masa depan," ungkap Mukmin.

Bimo, panggilan akrab Tegar Bimo Santoso, rupanya memiliki pilihan cita-cita dan studi yang spesifik, yakni ingin menjadi seorang ahli atau expert di bidang marketing digital serta memperdalam bahasa Jepang. Sang kakak, M Ariek Dimas Santoso yang juga mengidap distrofi muscular progressive (DMP), sebelumnya sukses menjadi alumni IPB University angkatan 50.

"Dulu Ariek dikasih kursi roda elektrik lho sama Pak Herry (Rektor IPB periode 2007-2017)," kenang Mukmin terkait perhatian kampus terhadap mahasiswa disabilitas.

Sementara itu, peserta disabilitas daksa lainnya, Kevin Christian Rihandi, telah mematangkan persiapan menjelang ujian. Lulusan homeschooling entrepreneur ini memiliki target jurusan tersendiri yang diincarnya pada UTBK kali ini, yaitu program studi Management Property.

"(Harapannya) dapat masuk jurusan sesuai keinginan karena dia sudah semangat dan belajar terus setiap hari," tutur Ibunda Kevin, Devi.

22 Peserta Disabilitas Ikut SNBT di Unair

Di Unair sendiri, 22 peserta disabilitas memperjuangkan mimpinya untuk masuk perguruan tinggi. Salah duanya adalah Muhammad Pasha Fawwazdian dan Khalifah Nisyapuri.

Muhammad Pasha Fawwazdian, siswa SMAN 16 Surabaya, menjadi salah satu pejuang yang mengikuti UTBK-SNBT 2026. Sebagai peserta disabilitas tuli, ia bercerita bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mengejar impian masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Pasha mengaku telah mempersiapkan diri dengan maksimal. Baginya, ragam soal UTBK kali ini cukup menantang karena terdiri dari tingkat kesulitan yang berbeda-beda

"Alhamdulillah saya sudah mempersiapkan UTBK ini dengan sebaik mungkin. Soalnya ada yang sulit dan ada juga yang gampang, tapi insyaallah bisa saya kerjakan," ujar Pasha, dikutip dari laman Unair, Selasa (21/4/2026).

Siswa asal Surabaya ini mantap memilih Program Studi Psikologi Universitas Airlangga (Unair). Ketertarikannya untuk membantu sesama, terutama dalam bidang konseling, menjadi alasan utama. la bahkan bercita-cita menjadi seorang psikiater di masa depan. Dukungan keluarga dan teman-teman menjadi bahan bakar utamanya.

"Pesan saya, disabilitas bukanlah halangan. Jadikan disabilitas sebagai power dan kelebihan tersendiri. Saya banyak mengalami pembullyan verbal, tapi itu justru membuat saya semakin kuat," tuturnya dengan penuh semangat.

Peserta lain, Khalifah Nisyapuri, seorang disabilitas daksa asal SMAN 4 Sidoarjo. Siswa yang mengikuti ujian di Pusat UTBK Unair ini mengaku sempat merasa gugup (nervous) sebelum memasuki ruang ujian. Namun, rasa khawatir itu sirna saat melihat kesiapan panitia. Khalifah bercerita bahwa fasilitas kampus sangat memudahkan mobilitasnya.

"Awalnya nervous karena takut soalnya susah, tapi setelah masuk saya merasa senang. Saya banyak dibantu oleh petugas, mulai dari naik lift hingga masuk ke ruang ujian," ungkap Khalifah di lokasi UTBK Unair, Surabaya.

Khalifah sangat mengapresiasi aksesibilitas yang disediakan, terutama bantuan petugas yang mendampinginya hingga ke lantai sembilan. Baginya, dukungan teknis seperti ini sangat krusial dalam menjaga fokus.

"Ternyata kita punya kesempatan yang sama, dan itu keren banget," tuturnya.

la pun menitipkan pesan bagi seluruh rekan pejuang PTN agar tidak rendah diri dalam mengejar cita-cita. "

Pesan saya, jangan takut mencoba dan jangan pernah patah semangat," pungkasnya.

3 Peserta Disabilitas Berjuang di Unej

Muhammad Derbian Dwi Putra, peserta disabilitas daksa asal Bondowoso, menceritakan pengalamannya saat menempuh ujian. la merasa sangat percaya diri berhadapan dengan soal-soal berkat dukungan fasilitas ruangan yang sangat memadai.

"Ruangannya bagus, AC-nya dingin, posisi kursi dan komputer juga sesuai dan sama sekali tidak menyulitkan. Hal-hal seperti itu membuat saya lebih tenang dan bisa fokus mengerjakan soal," ucap peserta disabilitas yang akrab disapa Derbi itu.

Ketenangan di ruang ujian itu sejalan dengan kemantapannya membidik Program Studi

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNEJ. Mengidolakan sosok Tere Liye, Derbi menaruh harapan besar agar lolos seleksi demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penulis hebat di masa depan.

Berbeda dengan Derbi yang merasa cukup mulus saat mengerjakan soal, Yogi Ardiansyah, peserta disabilitas Daksa asal Jember, mengaku harus memutar otak lebih keras.

la bercerita sempat mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan soal penalaran matematika di layar komputernya.

Meski begitu, pengalaman menantang tersebut sama sekali tak menyurutkan tekad Yogi. la bersikeras ingin melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknologi Informasi UNEJ.

Yogi bercita-cita menjadi seorang dosen, terinspirasi dari gaya mengajar para dosen UNEJ yang menurutnya keren dan memotivasi.

Pengalaman memeras keringat di ruang ujian juga dirasakan oleh Carissa Vania Artamevira, peserta disabilitas tuli asal Jember. la menuturkan harus menghadapi tantangan berat saat mengerjakan soal-soal pengetahuan kuantitatif.

Namun, Vania tetap mengerahkan seluruh kemampuannya secara maksimal demi mengamankan satu kursi di program studi bidang Psikologi impiannya.

Usai menyelesaikan ujian dengan lancar, Derbi menaruh harapan agar fasilitas ramah disabilitas di lingkungan kampus dapat terus dipertahankan. Tak lupa, ia menitipkan pesan penyemangat bagi sesama pejuang UTBK.

"Untuk teman-teman penyandang disabilitas, tetap semangat dan jangan ragu untuk mencoba. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin, siapa tahu bisa berhasil dan meraih apa yang diimpikan," tutupnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Kenapa Ya Pengumuman Hasil UTBK Butuh Sekitar 20 Hari?"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads