SMA Unggulan CT ARSA Sukoharjo jadi peringkat 1 di Jawa Tengah yang siswanya terbanyak diterima di Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Apa sih rahasianya?
Dinas Pendidikan Jawa Tengah (Disdik Jateng) mengumumkan SMAU CT ARSA Sukoharjo merupakan peringkat 1 SMA yang siswanya terbanyak diterima SNBT 2026.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah (Jateng) mengungkap daftar SMA dengan siswa terbanyak yang diterima Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terbanyak SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo, dengan jumlah murid diterima SNBT ada 122 dari 168 siswa. Kedua, SMAN 1 Purworejo dengan 110 siswa diterima SNBT dari 350 siswa," kata Kepala Disdik Jateng Sadimin saat dihubungi detikJateng, Selasa (9/6/2026), dikutip Senin (22/6/2026).
Berikut daftar 10 SMA dengan siswa diterima SNBT terbanyak di Jateng, gabungan swasta dan negeri:
1. SMA Unggulan CT Arsa Foundation Sukoharjo, 122 siswa dari 168 siswa
2. SMA Negeri 1 Purworejo, 110 siswa dari 350 siswa
3. SMA Negeri 1 Magelang, 108 siswa dari 250 siswa
4. SMA Negeri 1 Muntilan, 100 siswa dari 275 siswa
5. SMA Negeri 1 Wonogiri, 99 siswa dari 300 siswa
6. SMA Negeri 2 Purwokerto, 92 siswa dari 174 siswa
7. SMA Negeri 1 Salatiga, 85 siswa dari 239 siswa
8. SMA Negeri 1 Baturetno, 85 siswa dari 143 siswa
9. SMA Negeri 1 Kota Mungkid, 84 siswa dari 150 siswa
10. SMA Negeri 1 Boyolali, 82 siswa dari 262 siswa
"Daftar sekolah di atas kami berikan piagam penghargaan sebagai apresiasi capaian yang luar biasa," ujar Sadimin.
Apa Rahasianya?
Kepala Sekolah SMAU CT ARSA Sukoharjo menyerahkan Piagam Penghargaan dari Kepala Dinas Pendidikan Prov Jateng kepada Wakil Kepala Sekolah Kurikulum, sebagai Petingkat 1 SNBT SMA Negeri dan Swasta se-Provinsi Jateng tahun 2026. Foto: (Dokumentasi SMA CT Arsa Sukoharjo) |
Kepala SMAU CT ARSA Sukoharjo Usdiyanto mengonfirmasi pencapaian itu. Menurutnya pencapaian SMAU CT ARSA Sukoharjo ini naik peringkat dibanding tahun 2025 lalu.
"Tahun lalu peringkat 4, tahun ini peringkat 1, untuk jumlah yang diterima di SNBT seluruh Provinsi Jawa Tengah, dari 168 siswa diterima 122 orang via SNBT jalur tulis. Kenapa SNBT dirilis Dinas? Karena ini salah satu pertarungan akademis seperti pertarungan bebas, diuji sama, mengerjakan tes yang sama. Kalau yang terbaik sengaja dirilis Kepala Dinas untuk memberi motivasi semua," tutur Usdiyanto kepada detikEdu, Senin (22/6/2026).
"Sekolah menerjemahkah apa yang diarahkan Pak CT dan Bu Anita, institusi memberdayakan semua sumber daya yang ada. Banyak puncak gunung, tapi tidak semua didaki. Mana puncak-puncak kita," imbuhnya berfilosofi.
Siswa-siswi SMAU CT ARSA Sukoharjo, menurut dia, terbanyak diterima di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo karena faktor lokasi kedekatan dengan rumah.
"UGM, ITB, UNS, Undip, ITS, IPB Bogor, Unair tersebar. Memang yang terbanyak UNS karena terdekat, ITB dan UGM, IPB, ITS banyak sebarannya. Secara rinci anak-anak pertimbangkan sekolah dekat dengan rumah, kalau nggak punya uang bisa pulang," imbuh Usdiyanto.
1. Analisis SWOT Tiap Individu Siswa
Usdiyanto lalu mengungkapkan rahasia agar siswa-siswinya tembus perguruan tinggi negeri (PTN). Menurutnya, upaya sekolah bukan upaya spontan yang terjadi tahun ini saja. Upaya itu dimulai sejak seleksi penerimaan murid baru (SPMB).
"Upaya pembedanya bukan spontan tahun ini, tahun kemarin. SMAU CT Arsa punya strategi step by step mempertahankan kualitas akademik. Sejak input siswa baru, data siswa dianalisis kekurangan dan kelebihan mereka," jelas Usdiyanto.
Kemudian, setiap penerimaan rapor di tengah semester, para guru mengadakan sidang pleno membahas kekuatan dan kelebihan setiap siswa. Kemudian melakukan langkah-langkah pedagogis agar secara akademis rapor semester depan bisa meningkat. Hal ini terus dilakukan berjenjang tiap semester.
"Analisa SWOT per 6 bulan per masing-masing murid. Pertama mid-semester 1 nanti bagaimana kenaikannya progress-nya mid semester 1, mid semester dua, sampai menjelang lulus
semester 5 puncak terakhir persiapan semester 6 menempuh SNBT. Analisis dan pemetaan, weakness kita atasi atau terobos. Termasuk peminatan mereka, salah satu pemetaan juga peminatan bagaimana treatment bagi pembelajaran di depan kelas," jelas Usdiyanto.
2. Rombongan Belajar (Rombel) 20-25 Siswa Per Kelas
SMAU CT ARSA menerapkan rombel yang cukup kecil. Satu angkatan, imbuh Usdiyanto, bisa mencapai 200 orang. 200 orang ini dibagi 8 kelas, yang mana tiap kelas maksimal menampung 25 siswa. Kelas yang kecil ini memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung cukup intensif.
"Tahun ini paling banyak setiap kelas sesuai petunjuk Pak CT, 20-25 siswa per kelas. Kecil itu, rombel semakin dikit, intensitas dan komunikasi dengan siswa semakin lebih bagus. Kalau seangkatan 200, bisa 8 kelas. Perbandingan guru dan murid, rasio 1:10 atau 1:12," urai Usdiyanto.
3. Tidak Ada Remedial Test, Adanya Remedial Teaching
Di SMAU CT ARSA, tidak ada istilah her atau ulangan ulang. Adanya remedial teaching atau pembelajaran ulang.
"Nggak ada her, kalau kita ulangan nilai jelek, kita dulu biasanya ada her, ini nggak ada. Adanya remedial teaching. Her ini biasanya ada 2, standar soalnya diturunkan atau kedua, dipermak nilainya. Kalau remedial teaching, dari 5 tes utama, di mana yang nggak bisa, di mana kelemahannya. Nah, yang nggak bisa itu diajari kembali khusus buat materi yang menjadi kelemahan mereka. Setiap anak beda ada yang ABC, ada yang DEF, tidak bisa disamaratakan," ungkap Usdiyanto.
4. Mencontek Itu Haram
SMAU CT ARSA sangat mengharamkan siswa mencontek. Bila ada siswa yang ketahuan mencontek, siswa itu diberi surat peringatan 1 hingga 3. Bila masih mengulangi mencontek, maka siswa bisa dikembalikan kepada orang tuanya.
"Pernah ada kasusnya mencontek, kami beri surat peringatan 1, harus mengungkapkan melakukan kesalahan di depan teman-temannya. Sampai SP 2 diulang lagi, sampai SP 3 orang tua dipanggil dan kami beri tahu 'Kamu berarti nggak cocok sekolah di sini'. Harus kita lakukan supaya anak belajar jujur, tidak menipu orang tua. Di perguruan tinggi, di SNBT dia akan hancur karena bisanya mencontek. Kelihatannya sederhana, tapi nggak sederhana," tuturnya.
Usdiyanto juga mengabarkan dari peringkat yang belum resmi dirilis, namun sudah ada di media sosial, peringkat SMAU CT ARSA Sukoharjo naik dari 68 ke peringkat 22 dari 23.000 SMA/MA seluruh Indonesia.
"Tapi yang ini belum dirilis resmi ya, baru yang kami dengar dari media sosial," tuturnya.
(nwk/pal)












































