Pelaksanaan salat Jumat di Madinah pada pekan ini tercatat sebagai salah satu khutbah terpanjang dalam beberapa tahun terakhir. Rangkaian ibadah berlangsung sekitar 50 menit, dengan isi khutbah yang sarat nasihat tentang makna waktu, iman, dan keselamatan manusia sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-'Asr.
Dilihat dari akun instagram Madeenahalmunawwara dan channel YouTube Haramain Recordings, rangkaian salat Jumat dimulai dengan taslim khatib pada pukul 12.33, kemudian dilanjutkan dengan kumandang adzan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khutbah pertama dimulai pukul 12.36 dan berakhir pukul 13.05, dengan durasi sekitar 29 menit.
Khutbah kedua dimulai pukul 13.05 dan berakhir pukul 13.12.
Salat Jumat dilaksanakan pukul 13.13 dan selesai sekitar 13.20.
Setelah itu, dilanjutkan dengan salat jenazah yang berakhir pukul 13.23.
Secara keseluruhan, ibadah Jumat berlangsung selama kurang lebih 50 menit.
Isi Khutbah Kisahkan Perjalanan Isra Miraj
Khutbah dibawakan oleh Sheikh 'Abdullah Hunainy dengan mengangkat peristiwa agung Isra dan Miraj, sebuah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW yang bukan hanya menjadi mukjizat, tetapi juga titik balik penguatan risalah Islam.
Khatib menegaskan bahwa Isra Miraj adalah salah satu tanda besar kekuasaan Allah SWT, sekaligus bentuk pemuliaan dan penghiburan bagi Rasulullah di masa paling berat dalam hidupnya.
Khutbah diawali dengan pujian kepada Allah SWT, Pemilik keagungan, kemuliaan, dan kekuasaan sempurna atas segala sesuatu. Khatib menegaskan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang mampu menunaikan hak Allah secara sempurna, namun Allah Maha Pengampun dan Maha Pemberi karunia.
Jamaah diajak untuk bertakwa semampunya, karena ketakwaan menjadi sebab turunnya petunjuk, penghapusan dosa, dan limpahan ampunan Allah sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an.
Dalam khutbah dijelaskan bahwa Isra (perjalanan malam) dan Miraj (kenaikan ke langit) adalah bagian dari tanda-tanda terbesar Allah SWT. Allah Maha Kuasa atas waktu dan jarak; Dia mampu menjadikan waktu yang singkat cukup untuk peristiwa besar dan jarak yang jauh menjadi dekat.
Allah SWT membuka kisah Isra dengan firman-Nya:
"Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa..."
Penggunaan kalimat tasbih di dalam surah Al Isra ayat pertama tersebut menunjukkan bahwa peristiwa ini berada di luar jangkauan logika manusia, namun sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.
Isra Miraj terjadi setelah Rasulullah SAW melewati masa paling berat, yang dikenal sebagai 'Aamul Huzn (Tahun Kesedihan). Dalam periode ini, beliau kehilangan dua sosok penopang dakwah:
Khadijah RA, istri yang menghibur dan mendukung dengan jiwa dan hartanya
Abu Thalib, paman yang melindungi beliau dari gangguan kaum Quraisy
Setelah itu, Rasulullah juga mengalami penolakan dan kekerasan di Thaif. Dalam kondisi inilah beliau memanjatkan doa penuh kepasrahan kepada Allah, sebuah doa yang menunjukkan puncak tawakal dan keyakinan.
Perjalanan Isra dan Penyucian Rasulullah
Dalam khutbah dijelaskan bahwa sebelum Isra Miraj, Rasulullah SAW mengalami pembedahan dada sebagai bentuk penyucian dan persiapan ilahi. Hatinya dibersihkan dan diisi dengan iman dan hikmah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih Bukhari dan Muslim.
Beliau kemudian diperjalankan dengan Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu dinaikkan ke langit, bertemu para nabi terdahulu hingga mencapai Sidratul Muntaha, tempat yang tidak mampu dicapai makhluk manapun selain beliau.
Puncak Miraj adalah ditetapkannya salat lima waktu, yang awalnya diperintahkan sebanyak 50 kali, lalu diringankan menjadi lima waktu, namun tetap bernilai 50 dalam pahala. Salat menjadi satu-satunya ibadah yang diwajibkan langsung di langit, tanpa perantara, menandakan kedudukannya yang sangat agung.
Khutbah Jumat ini menegaskan bahwa Isra Miraj terjadi dengan ruh dan jasad, bukan sekadar mimpi. Rasulullah SAW membuktikannya dengan menggambarkan Masjidil Aqsa dan menceritakan peristiwa yang beliau lihat di perjalanan, yang kemudian terbukti kebenarannya.
Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menjadi teladan keimanan sejati. Ketika mendengar kabar Isra Miraj, beliau berkata:
"Jika Muhammad yang mengatakan, maka itu benar."
Khutbah ditutup dengan seruan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW serta doa panjang yang berisi harapan untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin, keamanan negeri dan keberkahan pemimpin, kesembuhan bagi orang sakit, perlindungan dari musibah, wabah, dan kezaliman serta memuat doa untuk kemenangan dan pertolongan bagi Palestina.
(dvs/inf)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan