Isra Mi'raj kerap dipahami sebagai peristiwa spiritual yang bersifat personal dan sakral. Ia dikenang sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus batas ruang dan waktu, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Namun jika peristiwa ini hanya dibaca sebagai mukjizat individual, kita justru kehilangan pesan terpentingnya. Isra Mi'raj hadir sebagai jawaban ilahiah atas krisis kemanusiaan dan krisis etika kekuasaan.
Peristiwa Isra Mi'raj terjadi bukan dalam situasi ideal, melainkan pada fase paling gelap dalam kehidupan Nabi. Tahun itu dikenal sebagai 'ām al-ḥuzn, tahun kesedihan. Khadijah wafat, Abu Thalib meninggal, dan perlindungan sosial yang selama ini menopang posisi Nabi runtuh. Penolakan, intimidasi, dan kekerasan menjadi pengalaman sehari-hari. Secara sosial, ini adalah kegagalan sistem untuk melindungi yang lemah. Namun justru dalam situasi inilah Isra Mi'raj terjadi. Pesannya jelas: ketika dunia gagal menghadirkan keadilan, langit menurunkan tuntunan.
Alih-alih memerintahkan pembalasan atau perlawanan bersenjata, Allah justru menghadiahkan shalat. Ini bukan kebetulan. Shalat bukan hanya ibadah individual, tetapi latihan etika. Ia mengajarkan disiplin, keteraturan, dan kesetaraan. Semua berdiri dalam satu saf, tanpa membedakan status sosial, kekayaan, atau kekuasaan. Dalam dunia yang menormalisasi ketimpangan dan privilese, shalat adalah kritik diam terhadap sistem yang membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa rasa bersalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesan Isra Mi'raj menjadi semakin relevan jika kita melihat kondisi dunia hari ini. Kita menyaksikan penderitaan sipil dalam konflik bersenjata yang kerap diperlakukan sebagai "kerugian sampingan". Kita melihat hukum internasional bekerja tidak seimbang: tegas kepada yang lemah, ragu ketika berhadapan dengan yang kuat. Penyelidikan dan wacana penuntutan terhadap sejumlah pemimpin dunia-baik di Eropa Timur, Timur Tengah, maupun Amerika Latin-sering tersendat oleh kalkulasi politik. Dalam kasus Amerika Latin, misalnya, proses hukum internasional terhadap kepemimpinan Venezuela lama bergulir di meja penyelidikan, namun penegakan nyatanya terseret tarik-menarik geopolitik. Hukum ada, tetapi keberanian moral untuk menegakkannya kerap absen.
Kita juga menyaksikan pengungsian massal lintas kawasan, kelaparan akibat perang dan embargo, serta krisis iklim yang dampaknya paling berat justru ditanggung oleh masyarakat yang paling sedikit berkontribusi pada kerusakan lingkungan. Di banyak tempat, hak hidup warga sipil dinegosiasikan dalam forum diplomasi, seolah nyawa manusia dapat ditunda atau ditukar. Masalahnya bukan karena dunia kekurangan aturan, melainkan karena nilai telah dikalahkan oleh kepentingan.
Dalam banyak kasus, kekerasan dibenarkan atas nama stabilitas, keamanan, atau kepentingan nasional. Nyawa manusia direduksi menjadi angka statistik. Penderitaan menjadi bagian dari kalkulasi strategis. Inilah krisis etika global yang sesungguhnya: ketika kekuasaan berjalan tanpa nurani, dan hukum kehilangan jiwa keadilannya. Dunia tidak sedang kekurangan kecerdasan, tetapi kekurangan keberanian moral.
Isra Mi'raj juga menghadirkan perjumpaan Nabi Muhammad SAW dengan para nabi terdahulu. Ini bukan sekadar kisah simbolik, melainkan pesan sejarah yang kuat. Bahwa perjuangan kemanusiaan selalu bersifat lintas generasi. Bahwa nilai keadilan, kesabaran, dan pembelaan terhadap yang tertindas adalah warisan bersama umat manusia. Di tengah dunia yang mudah terjebak dalam konflik identitas dan klaim kebenaran tunggal, Isra Mi'raj mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada permusuhan, melainkan dapat menjadi dasar tanggung jawab moral bersama.
Isra Mi'raj menolak pemisahan total antara spiritualitas dan urusan dunia. Ia menegaskan bahwa kekuasaan harus tunduk pada etika, dan kekuatan harus dibatasi oleh nilai. Tanpa itu, stabilitas hanyalah ilusi, dan perdamaian hanya slogan. Spiritualitas dalam Isra Mi'raj bukan pelarian dari realitas, tetapi sumber keberanian moral untuk menghadapi realitas yang tidak adil.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik, kepentingan, dan normalisasi kekerasan, Isra Mi'raj hadir sebagai pengingat yang tenang namun tegas. Bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari kekuatan, tetapi dari pembenahan nilai. Bahwa keadilan tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kesadaran etis. Dan bahwa tanpa spiritualitas, kekuasaan kehilangan makna, sementara tanpa etika, peradaban kehilangan arah.
Eko Ernada
Penulis adalah Fungsionaris BPJI-PBNU, Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI
Artikel ini merupakan kiriman pembaca BeritaKlik. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)
(erd/erd)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan