Apa Itu Sidang Isbat? Sejarah dan Fungsinya dalam Penentuan Awal Bulan Ramadan

Apa Itu Sidang Isbat? Sejarah dan Fungsinya dalam Penentuan Awal Bulan Ramadan

Tia Kamilla - detikHikmah
Minggu, 08 Feb 2026 19:00 WIB
Ramadan Kareem photography, Lantern with crescent moon shape on the beach with sunset sky, 2024 Eid Mubarak  greeting background
Ilustrasi Ramadan (Foto: Getty Images/sarath maroli)
Jakarta -

Sidang isbat selalu menjadi topik yang banyak dicari menjelang penetapan awal bulan Ramadan di Indonesia.

Setiap tahun, sidang isbat digelar pada akhir bulan Syaban untuk menentukan kapan 1 Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Namun, masih banyak masyarakat yang bertanya, apa itu sidang isbat, bagaimana sejarah pelaksanaannya, dan apa fungsinya dalam penentuan awal bulan Ramadan di Indonesia? Ini penjelasannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Sidang Isbat?

Mengutip dari buku Hisab Rukyat Indonesia: Diversitas Metode Penentuan Awal Bulan Kamariah karya Muhammad Awaludin, sidang isbat adalah sidang resmi yang digelar untuk menetapkan awal bulan dalam kalender Hijriah, yaitu 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijjah. Sidang ini dipimpin langsung oleh Menteri Agama RI dan dihadiri berbagai organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia.

Secara bahasa, kata isbat berasal dari bahasa Arab yang berarti penetapan atau penentuan. Dengan demikian, sidang isbat dapat dipahami sebagai forum untuk menetapkan awal bulan Hijriah berdasarkan metode yang digunakan.

ADVERTISEMENT

Dalam pelaksanaannya, sidang isbat juga melibatkan sejumlah pihak terkait, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), anggota DPR RI, perwakilan Mahkamah Agung (MA), duta besar negara sahabat, serta instansi lainnya.

Sidang isbat menjadi agenda penting karena berkaitan langsung dengan penetapan waktu ibadah umat Islam. Keputusan diambil dengan mempertimbangkan hasil perhitungan hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia, sehingga memberikan kepastian bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah.

Baca juga:

Sejarah dan Fungsinya dalam Penentuan Awal Bulan Ramadan

Sidang isbat di Indonesia mulai diterapkan sejak tahun 1950-an sebagai upaya pemerintah menyatukan penentuan awal bulan Hijriah. Hal ini dijelaskan dalam buku Mengapa Umat Islam Tertinggal? Tawaran Indonesia untuk Dunia Islam karya Dr. Ir. Muhammad Najib, M.Sc.

Sidang isbat digagas untuk menjembatani perbedaan pandangan ormas Islam dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah.

Pada masa awal, terdapat dua metode utama yang digunakan, yaitu hisab melalui perhitungan astronomi dan rukyat melalui pengamatan langsung hilal.

Perbedaan hasil antara hisab dan rukyat sering memicu perbedaan awal puasa dan hari raya di Indonesia. Sidang isbat hadir sebagai solusi agar masyarakat memiliki acuan bersama dalam menjalankan ibadah.

Menariknya, mekanisme sidang isbat seperti ini hanya diterapkan di Indonesia.

Seiring perkembangan teknologi, pengamatan hilal kini dibantu alat modern dan teknologi satelit. Dengan dukungan teknologi, rukyat dapat dilakukan lebih akurat tanpa terlalu terpengaruh kondisi cuaca.

Pada tahun 1972, Kementerian Agama RI membentuk Badan Hisab dan Rukyat (BHR). BHR bertugas mengikuti perkembangan metode penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia.

Salah satu tugas BHR adalah menetapkan hari besar Islam dan hari libur nasional. BHR juga berperan menyatukan penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Selain itu, BHR bertujuan menjaga persatuan umat Islam dengan meminimalkan perbedaan pandangan.

Saat ini, BHR berada di bawah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Lembaga tersebut kini dikenal sebagai Tim Hisab dan Rukyat, serta berkembang menjadi Tim Unifikasi Kalender Hijriyah.

Dengan adanya sidang isbat, umat Islam memiliki pegangan resmi dalam menentukan awal Ramadan setiap tahunnya. Termasuk untuk penetapan awal Puasa Ramadan 2026 yang hingga kini masih menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat.

Meski sejumlah ormas Islam seperti Muhammadiyah telah menetapkan lebih dulu melalui metode hisab, pemerintah tetap akan menggelar sidang isbat untuk memastikan kapan 1 Ramadan 1447 H dimulai berdasarkan hasil hisab dan rukyatul hilal.

Jadwal Sidang Isbat 2026 Kemenag

Kementerian Agama RI memastikan sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H akan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026. Sidang isbat dilaksanakan bertepatan dengan 29 Syaban 1447 H pada pukul 16.00 WIB di Auditorium HM Rasjidi. Sidang tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.

Agenda utama sidang isbat meliputi pemaparan hasil hisab, laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah, serta musyawarah penetapan awal puasa Ramadan.

Berdasarkan kalender, awal puasa Ramadan 2026 diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Namun, kepastian tanggal awal puasa versi pemerintah baru akan diumumkan secara resmi setelah sidang isbat selesai digelar.

Tahapan Sidang Isbat Awal Puasa 2026

Pelaksanaan sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H dilakukan melalui beberapa tahapan utama sebagai berikut.

  1. Pemaparan posisi hilal berdasarkan hasil perhitungan hisab yang telah dilakukan sebelumnya.
  2. Penerimaan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di seluruh wilayah Indonesia.
  3. Sidang penetapan awal Ramadan secara tertutup untuk membahas dan menyepakati hasil hisab serta rukyat.
  4. Pengumuman hasil sidang isbat yang disampaikan kepada masyarakat melalui konferensi pers resmi.

Sidang isbat ini akan dihadiri oleh Menteri Agama dan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia.

Selain itu, hadir pula pimpinan Komisi VIII DPR RI, Ketua MUI, Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, perwakilan ormas Islam, serta duta besar negara sahabat.

Puasa Pertama Ramadan 2026 Tanggal Berapa?

Puasa pertama Ramadan 2026 diperkirakan dapat berbeda karena adanya perbedaan metode penetapan awal bulan yang digunakan oleh pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU).

Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal Puasa Ramadan 1447 H berdasarkan metode hisab hakiki dengan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Berdasarkan perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan versi Muhammadiyah dilakukan tanpa menunggu rukyatul hilal karena menggunakan perhitungan astronomi dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama RI hingga kini belum mengumumkan secara resmi awal Puasa Ramadan 2026.

Mengacu pada kalender Hijriah resmi Kemenag, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Penetapan resmi versi pemerintah tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pada 29 Syaban dengan mempertimbangkan hasil hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah di Indonesia.

Nahdlatul Ulama (NU) juga belum menetapkan secara resmi awal Puasa Ramadan 2026.

NU menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh tim pemantau di berbagai titik pengamatan pada akhir bulan Syaban.

Namun, berdasarkan kalender Almanak NU, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, sejalan dengan perkiraan pemerintah.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads