Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki

Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Jumat, 26 Jun 2026 14:00 WIB
In this handout picture provided by Iranian presidency, Irans President Masoud Pezeshkian addresses cabinet members, as they visit of the tomb of the late Iranian revolutionary leader Ayatollah Ruhollah Khomeini, in Tehran on January 31, 2026, ahead of the 47th anniversary of the 1979 Islamic Revolution. (Photo by Handout / Iranian Presidency / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Foto: AFP PHOTO/IRANIAN PRESIDENCY)
Jakarta -

Iran berencana membentuk NATO atau front keamanan bersatu untuk negara-negara muslim. Hal ini diungkap oleh Presiden Iren Masoud Pezeshkian dalam kunjungan kenegaraan ke Pakistan.

Dilansir dari Tasnim, Pezeshkian menekankan pentingnya memperkuat persatuan di dunia Islam dan meningkatkan koordinasi di antara negara-negara muslim. Ini bertujuan melindungi kepentingan bersama.

Presiden Iran itu juga menyebut dirinya telah berbicara dengan Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Mesir dan Turki. Pezeshkian menyerukan pembentukan kerangka keamanan regional baru yang berakar pada dialog, saling menghormati, dan kerja sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menegaskan perdamaian abadi dan kemakmuran di Asia Barat dan Teluk Persia hanya bisa terwujud melalui keterlibatan yang dipimpin negara-negara regional. Pezeshkian percaya kalau keamanan, stabilitas, pembangunan dan kemajuan ekonomi yang berkelanjutan memerlukan dialog jujur dan interaksi konstruktif antara negara-negara tetangga daripada intervensi eksternal.

ADVERTISEMENT

"Saya percaya umat muslim harus membentuk front bersatu," tegas Pezeshkian.

Melalui konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Islamabad, Pezeshkian menyebut Iran mengulurkan tangan persahabatan untuk membangun struktur keamanan regional baru.

"Berdasarkan fakta ini, kami mengulurkan tangan persahabatan untuk membangun pemahaman bersama dan menciptakan struktur keamanan baru bagi negara-negara di kawasan," terang Pezeshkian.

Kedatangan Presiden Pezeshkian di Islamabad atas undangan Perdana Menteri Shehbaz Sharif berlangsung beberapa hari setelah penandatanganan Islamabad Memorandum of Understanding (MoU) pada 17 Juni 2026. MoU yang dimediasi Pakistan antara Iran dan AS ini mencakup pengakhiran perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan langkah awal penyelesaian sengketa melalui negosiasi.




(aeb/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads