Pemandangan mengharukan muncul ketika tim nasional Maroko lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Setelah meraih kemenangan, sejumlah pemain terlihat berlari ke arah ibu mereka dan memeluk hingga menciumnya.
Bahkan ada juga yang mengajak ibu mereka merayakan kemenangan di tengah lapangan. Momen tersebut menyita perhatian dunia, banyak warganet memuji akhlak terpuji mereka.
Aksi para pemain Maroko terhadap ibu mereka memperlihatkan nilai-nilai Islam di mata dunia. Mereka berdakwah tanpa kata, melainkan lewat akhlak terhadap ibu mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu aksi pemain yang terlihat adalah Ismael Saibari. Setelah timnya memastikan kemenangan adu penalti, gelandang berusia 25 tahun itu tidak langsung larut dalam pesta bersama rekannya melainkan berlari ke arah tribun penonton.
Saibari menghampiri ibunya, Fatima, dan memberikan sang ibu pelukan hangat. Hal tersebut menuai perhatian penggemar sepak bola, banyak yang menilai momen itu mencerminkan eratnya hubungan kekeluargaan yang jadi ciri khas para pemain Maroko yang melibatkan orang tua dan keluarga dalam keberhasilan yang mereka tuai di lapangan.
Sebagaimana diketahui, mencium, memeluk dan menunjukkan kasih sayang terhadap orang tua jadi salah satu ajaran Islam yang disebut birrul walidain atau berbakti kepada orang tua.
Perintah berbakti tertuang dalam surah Luqman ayat 14,
وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسٰنَ بِوَالِدَيۡهِۚ حَمَلَتۡهُ اُمُّهٗ وَهۡنًا عَلٰى وَهۡنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِىۡ عَامَيۡنِ اَنِ اشۡكُرۡ لِىۡ وَلِـوَالِدَيۡكَؕ اِلَىَّ الۡمَصِيۡرُ
Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."
Kemudian dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah menyebut kata ibu sebanyak tiga kali saat ditanya kepada siapa muslim harus berbakti pertama kali. Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:
"Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu.' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?', Nabi SAW menjawab 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' beliau menjawab 'ibumu.' Orang tersebut kemudian bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi menjawab 'Kemudian ayahmu'." (HR Bukhari dan Muslim).
Dilansir Morocco World News, eks pemain internasional Mesir Ahmed Hossam Mido memuji tim nasional Maroko. Dia bahkan mengatakan hal-hal positif terkait mentalitas serta hubungan para pemain dengan agama yang dianut serta keluarga mereka.
"Tim nasional Maroko adalah tim yang membuat kita bangga," katanya.
Mido juga memuji sikap para pemain Maroko yang tetap terhubung dengan agama dan ibu mereka meski menghabiskan sebagian besar karier di Eropa.
"Yang sangat saya sukai adalah ikatan antarpemain, meskipun bermain di Eropa, setiap kali mereka ditanya, jawaban mereka selalu bahwa mereka adalah muslim dan agama mereka didasarkan pada kelompok, bukan individu," sambung Mido.
Nilai-nilai Islam lainnya yang terlihat dari pemain Maroko adalah ketika mereka melakukan sujud syukur. Dilansir Gulf News, para pemain dengan julukan Singa Atlas itu membentuk lingkaran bersama pelatih Mohamed Ouahbi untuk berdoa, kemudian serempak melakukan sujud syukur begitu memastikan kemenangan.
Para pemain Maroko tidak sibuk berdiskusi mengenai strategi sataupun urutan penendang. Mereka justru merapat membentuk lingkaran kecil dengan seluruh staf pelatih.
Pada suasana yang hening itu, mereka melantunkan doa-doa sebelum para pemain berjalan menuju titik putih untuk menjalankan tugas masing-masing. Doa itu seolah menjadi penguat mental, Maroko akhirnya menang 3-2 lewat adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
(aeb/kri)

Komentar Terbanyak
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT