Mbah Riyan Tukang Bangunan Asal Kudus Itu Ternyata Ulama Tahqiq Dunia

Mbah Riyan Tukang Bangunan Asal Kudus Itu Ternyata Ulama Tahqiq Dunia

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 09 Agu 2026 12:00 WIB
Masduki Baidlowi
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Digital MUI, KH Masduki Baidlowi. Foto: Kurniawan/BeritaKlik
Jakarta -

Publik media sosial dibuat takjub oleh sosok Mbah Riyan, seorang ulama bersahaja asal Kudus, Jawa Tengah. Di balik kesehariannya yang berprofesi sebagai tukang bangunan, pria yang menggunakan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi ini ternyata menyimpan keilmuan Islam yang luar biasa hingga dianugerahi penghargaan bergengsi MUI Awards 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-51 Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar berbarengan dengan penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Digital MUI, KH Masduki Baidlowi, mengungkapkan Mbah Riyan terpilih berkat dedikasinya yang tekun melakukan tahqiq (penyuntingan dan penelitian mendalam) terhadap kitab-kitab klasik karya ulama Nusantara. Tak main-main, hasil karyanya bahkan diakui hingga mancanegara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beliau memiliki karya-karya ilmiah yang luar biasa. Selama ini beliau mentahqiq kitab-kitab klasik karya ulama Nusantara yang menjadi bagian penting dari khazanah keilmuan Islam," kata Kiai Masduki dikutip dari laman MUI, Minggu (9/8/2026).

ADVERTISEMENT

Pilih Tak Hadir Penerimaan Hadiah Karena Tawaduk

Di dunia literasi Islam, nama penanya-Ibnu Harjo Al-Jawi-sering kali mengingatkan orang pada ulama hadis legendaris dunia, Ibnu Hajar Al-Asqalani. Namun, di balik nama penanya yang megah, kehidupan nyata Mbah Riyan sangat jauh dari kesan glamor.

Para tetangga dan warga sekitar di Kudus mengenalnya sehari-hari hanya sebagai seorang tukang bangunan. Sifatnya yang amat rendah hati membuat tak banyak orang tahu bahwa ia adalah peneliti sekaligus intelektual muslim jempolan.

Bahkan, keputusannya saat diundang menerima penghargaan MUI Awards makin membuat publik terenyuh.

"Beliau termasuk sosok al-mastur, yakni orang yang tidak menampakkan keistimewaan dirinya. Ketika diundang untuk menerima penghargaan pun beliau memilih tidak hadir karena sikap tawaduk dan kezuhudannya," ungkap Kiai Masduki.

Kisah "ilmuwan tersembunyi" ini pun langsung menyedot perhatian netizen dan viral di berbagai lini masa serta forum kajian keislaman. Menurut MUI, momen ini membuktikan bahwa penghargaan tersebut berhasil mengangkat figur-figur hebat yang selama ini mengabdi dalam hening.

Kiai Masduki menjelaskan, MUI Awards digelar bukan sekadar seremoni, melainkan ajang apresiasi bagi tokoh maupun lembaga yang memberi dampak nyata bagi kemajuan umat sekaligus mengukuhkan syiar positif Islam.

Seluruh pemenang disaring secara ketat oleh dewan juri independen dengan melihat rekam jejak, integritas, keunikan, hingga besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat.

Selain kategori karya ilmiah keislaman yang disabet Mbah Riyan, MUI Awards 2026 juga menganugerahkan penghargaan di bidang lain, seperti ekonomi syariah. Salah satu penerimanya adalah PT Permodalan Nasional Madani (PNM) atas perannya menopang ekonomi kerakyatan lewat pembiayaan syariah.

"Mudah-mudahan MUI Awards terus menjadi syiar yang baik dan mampu menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif yang memperkokoh nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta kehidupan masyarakat yang rukun dan damai," pungkas Kiai Masduki.



(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads