Dugaan kasus perundungan di Kota Bandung tengah menjadi sorotan. Seorang siswa SMP penyandang disabilitas keterlambatan bicara (speech delay) dilaporkan putus sekolah setelah diduga menjadi korban perundungan.
Kabar tersebut awalnya mencuat melalui unggahan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, di akun Instagram pribadinya. Merespons hal itu, pihak sekolah memberikan klarifikasi terkait insiden yang terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala salah satu SMP Negeri di Kota Bandung, Aisyah Amiawaty, membenarkan bahwa siswa yang diduga menjadi korban perundungan tersebut adalah siswanya. Ia menjelaskan, siswa tersebut diterima melalui jalur zonasi pada penerimaan peserta didik baru.
"Anak ini Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK). Karena masuk melalui jalur zonasi, kami tidak bisa menolak. Kami tidak tahu (kondisinya) karena tidak ada tes saat masuk. Setelah diterima, baru kami ketahui bahwa anak ini PDBK," ujar Aisyah, Rabu (21/1/2026).
Mengetahui kondisi tersebut, pihak sekolah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung. Hal ini dilakukan karena siswa tersebut mengalami keterlambatan dalam aspek kognitif, seperti kesulitan membaca dan mencerna pelajaran.
Disdik kemudian memberikan penanganan khusus. Pihak sekolah juga mengarahkan orang tua siswa agar memindahkan anaknya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) demi mendapatkan penanganan yang lebih tepat sesuai kebutuhannya.
"Kami arahkan ke sekolah yang khusus menangani PDBK, bahkan sempat diantar oleh guru kami ke sana. Namun, pihak keluarga belum bersedia. Padahal kami terus berusaha agar anak ini tetap sekolah. Kasihan, anak yang sekolah saja banyak tantangannya, apalagi jika sampai tidak sekolah," bebernya.
Aisyah menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah mengeluarkan siswa tersebut. Hingga saat ini, sekolah masih berupaya membujuk siswa tersebut agar kembali belajar atau bersedia pindah ke SLB.
"Kami tidak mengeluarkan siswa tersebut, statusnya masih anak didik kami. Kami masih berusaha agar dia mau belajar lagi. Kalaupun memang tidak mau di sini, kami arahkan ke sekolah yang khusus," pungkasnya.
Sebelumnya, Muhammad Farhan mengunggah momen kunjungannya saat berbincang dengan anak difabel tersebut beserta orang tuanya. Farhan menekankan pentingnya keamanan bagi siswa di lingkungan sekolah.
"Setiap anak berhak merasa aman di sekolah. Tak ada ruang untuk bullying. Pemerintah Kota Bandung terus berupaya semaksimal mungkin (menangani kasus ini)," tulis Farhan dalam keterangan unggahannya yang dikutip detikJabar, Selasa (20/1/2026).
Simak Video "Menikmati Kebahagiaan Bersama di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(ral/mso)
