Perjalanan Haru Asep, Mudik Jalan Kaki demi Obati Rindu Kepada Ibu

Perjalanan Haru Asep, Mudik Jalan Kaki demi Obati Rindu Kepada Ibu

Yuga Hassani - detikJabar
Rabu, 18 Mar 2026 09:00 WIB
Asep, pemudik jalan kaki
Asep, pemudik jalan kaki (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Deru mesin kendaraan bersahutan di sepanjang jalan. Di tengah riuhnya arus mudik, para pengendara melaju dengan satu tujuan yang sama, pulang dan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Namun di antara laju kendaraan yang tak henti, ada langkah kaki yang perlahan menyusuri kerasnya aspal. Sepasang sepatu boots menapak jarak demi jarak, digerakkan oleh semangat yang tak padam meski tubuh mulai kelelahan.

Langkah itu sesekali terhenti ketika napas terasa berat dan tenaga menuntut jeda. Terlebih perjalanan panjang tersebut dijalani dalam kondisi berpuasa di bulan Ramadan. Rasa lapar dan haus menjadi teman setia di sepanjang jalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebingungan kerap muncul setiap kali waktu berbuka tiba, tentang bagaimana mengisi tenaga agar perjalanan bisa dilanjutkan. Bahkan, hanya dengan seteguk air putih, tubuhnya sudah cukup kembali kuat untuk melangkah.

ADVERTISEMENT

Dalam perjalanan, ia sesekali bertemu orang-orang baik yang memberinya tumpangan. Namun, bantuan itu tidak selalu mengantarkannya hingga tujuan. Ia tetap harus turun di pinggir jalan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sosok itu adalah Asep Kumala Seta (31). Sehari-hari, ia berjualan cilok berkeliling kampung di kawasan Cibaduyut.

Lebaran tahun ini menjadi berbeda. Keterbatasan biaya membuatnya tak mampu membeli tiket untuk pulang. Namun kerinduan pada sang ibu mendorongnya tetap berangkat menuju kampung halaman di Kabupaten Ciamis, dengan cara berjalan kaki dan menumpang kendaraan seadanya.

"Saya tadi pergi jalan kaki dari Cibaduyut sekitar jam 12 siang, terus naik bus Damri dari Leuwi Panjang sampai Cibiru. Setelah itu uang saya pas-pasan, saya langsung naik truk sampai Rancaekek, dan dilanjut lagi truk lain sampai Nagreg," ujar Asep saat ditemui di depan Pos Pam Cikaledong, Nagreg, Selasa (17/3/2026) malam.

Asep, pemudik jalan kakiAsep, pemudik jalan kaki Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Perjalanan tak selalu berjalan sesuai rencana. Ia sempat mendapatkan tumpangan truk menuju arah Garut, namun kendaraan tersebut justru berbelok ke arah Kadungora. Tanpa pilihan lain, ia turun dan kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga tiba di Cikaledong.

"Iya saya kaget. Tadi truknya ternyata ke Kadungora, eh saya langsung turun aja. Jadi aja jalan kaki lagi, sampai tadi pas di Cikaledong saya istirahat we cape," katanya.

Dengan raut lelah, Asep beristirahat di depan sebuah warung. Perutnya kosong sejak berbuka hanya dengan air putih.

"Alhamdulillah tadi buka sama air putih aja. Sekarang baru jam 9-an masih di sini. Mungkin kalau jalan kaki ya ada lah sekitar 70 km lagi dan kayanya bisa sampai ke rumah sekitar jam 9 pagi," jelasnya.

Ia membawa tas ransel berisi pakaian, sepatu, perlengkapan camping, hingga kompor dari kontrakannya. Bekal Lebaran yang ia terima pun sederhana.

"THR sama si bos cuma dikasih cilok 50 biji sama sirop marjan. Ini juga ciloknya dibawa ada di dalem tas, jadi kalau laper ya saya masak aja," ucapnya.

"Kalau ongkosnya pas mah jarang pakai bus. Mending jalan kaki, sambil megat-megat truk aja," tambahnya.

Asep mengaku telah berjualan cilok selama dua tahun terakhir. Pola hidupnya pun berulang: bekerja beberapa bulan di Bandung, lalu pulang ke kampung halaman dengan berjalan kaki.

"Kalau ciloknya habis, setoran itu harus Rp700 ribu. Kalau kejual segitu mah batinya alhamdulillah besar dan bisa dipakai keperluan sehari-hari. Tapi ini sudah satu bulan lebih penjualan merosot, sehari teh cuma dapet Rp100 ribu, setorannya Rp70 ribu, saya dapet Rp30 ribu," ungkapnya.

Ke depan, ia berencana kembali ke kampung halaman dan mencoba peruntungan sebagai nelayan, pekerjaan yang pernah ia jalani di beberapa daerah.

"Sebelum jualan Cilok, saya sempet bekerja jadi buruh serabutan, dan sempat menjadi nelayan di Indramayu, terus di Jakarta juga pernah. Kayanya ini juga mau melaut lagi lah, tapi kalau engga ada kerjaan, ya balik lagi aja jualan Cilok," bebernya.

Selama perjalanan, ia juga tak selalu mendapatkan perlakuan baik. Karena itu, ia memilih beristirahat di tempat sepi dengan perlengkapan seadanya.

"Ini kan saya bawa flysheet buat kemping. Jadi tidur mah dimana aja, terus pakai ini," ucapnya.

Di tengah keterbatasan itu, kepedulian warga akhirnya datang. Beberapa orang membantu meringankan beban Asep dan menghentikan sebuah bus untuknya.

Tanpa berpikir panjang, Asep naik ke dalam bus tersebut, melanjutkan perjalanan pulang, mendekatkan diri pada tujuan utamanya: melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads