Pemerintah Kabupaten Sukabumi bergerak cepat merespons tragedi maut yang menewaskan ayah dan anak di Pantai Tenda Biru, Ujunggenteng.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) bersama jajaran TNI AU mendatangi rumah duka untuk menyerahkan tali asih kepada keluarga korban pada Selasa (24/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kadispar Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, memimpin langsung rombongan takziah ke tiga lokasi rumah duka yang berada di Desa Sukamanah dan Desa Kalibunder, Kecamatan Kalibunder.
Lokasi tersebut meliputi rumah duka almarhum Abdullah (ayah), rumah duka almarhum Abdul Tafsir (anak), serta rumah duka almarhum Acep (penolong).
"Giat silaturahmi dan takziah ke keluarga korban laka laut Tenda Biru telah dilaksanakan di tiga lokasi. Uang tali asih sudah disampaikan kepada keluarga korban di tiga titik tersebut," kata Ali Iskandar kepada detikJabar, Rabu (25/3/2026).
Ali menjelaskan bahwa kunjungan ini dilakukan secara terpisah lantaran makam ayah dan anak tersebut tidak berada di satu lokasi yang sama.
"Rumah duka orang tua almarhum Abdullah dan rumah duka ibu almarhum Abdul Tafsir dikunjungi terpisah karena kedua korban dimakamkan terpisah," jelasnya.
Dalam rombongan tersebut, hadir pula Sekretaris Dinas Pariwisata, Komandan Pos TNI AU Atang Sendjaja Ujunggenteng, Camat Kalibunder, hingga kepala desa setempat.
Kehadiran pihak TNI AU menjadi simbol tanggung jawab moral mengingat lokasi kejadian berada di bawah pengawasan otoritas mereka.
Ali berharap kejadian memilukan ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia pariwisata di Sukabumi. Ia meminta wisatawan lebih patuh pada larangan di pesisir pantai selatan, serta mendorong seluruh ekosistem pariwisata untuk segera berbenah.
"Semoga almarhum husnul khotimah. Ini jadi hikmah untuk wisatawan agar patuh terhadap larangan dan bijak berwisata. Juga untuk Dispar dan semua ekosistem pariwisata agar lebih baik dalam mengelola dan menata tempat wisata," pungkas Ali.
Diberitakan sebelumnya, tragedi memilukan terjadi di Pantai Alor Cilangkob Tenda Biru, Ujunggenteng pada Senin (23/3). Tiga orang dilaporkan tewas tenggelam setelah terseret arus kuat.
Peristiwa bermula saat bocah bernama Abdul Tafsir (7) terseret ombak saat berenang. Ayahnya, Abdullah (28), dan seorang warga bernama Acep (26) berupaya menolong, namun ketiganya justru hilang tergulung ombak.
Ketiga korban berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah korban terakhir, Acep, ditemukan mengapung sekitar 400 meter dari lokasi kejadian pada Selasa (24/3) pagi.
Insiden ini sempat memicu polemik mengenai tata kelola kawasan Tenda Biru. Pasalnya, setiap mobil yang masuk dipungut biaya Rp 25 ribu dengan dalih "Partisipasi Kebersihan", namun tidak dilengkapi dengan jaminan asuransi bagi keselamatan pengunjung.
Pihak TNI AU sendiri telah mengonfirmasi bahwa kawasan tersebut berstatus HPL di bawah pengawasan mereka dan pungutan tiket tersebut murni diperuntukkan bagi urusan kebersihan.
(sya/orb)