Pelajaran di Balik Kematian Peserta Lari Trail 'Lebarun' di Sentul

Pelajaran di Balik Kematian Peserta Lari Trail 'Lebarun' di Sentul

Andry Haryanto - detikJabar
Selasa, 31 Mar 2026 12:30 WIB
Pegiat olahraga ekstrem Hendra Gunawan
Pegiat olahraga ekstrem Hendra Wijaya (Foto: Andry Haryanto)
Bogor -

Lintasan trail run (lari lintas alam) di kawasan Sentul seharusnya menjadi ruang perayaan antara napas yang memburu dan semangat menaklukkan batas diri. Namun, Sabtu, 28 Maret 2026, suasana itu berubah. Seorang pelari, Roysi Adiputra Firdaus (34), tak pernah mencapai garis akhir. Perjalanannya terhenti di tengah jalur yang mestinya menghadirkan kemenangan personal.

Di tengah kabar yang berseliweran, suara dari kalangan pelaku lama olahraga ini mencoba memberi jarak sekaligus makna. Hendra Wijaya, sosok yang lama berkecimpung dalam dunia olahraga ekstrem khususnya lari dan sepeda dengan medan ekstrem, serta pernah terlibat dalam pengembangan berbagai ajang lari di Indonesia, melihat peristiwa ini bukan sekadar tragedi.

"Kalau saya lihat sih dia itu tim leader di komunitasnya. Almarhum juga sering memberi pelatihan-pelatihan, artinya dia sudah biasa dengan lari lintas alam," ujar Hendra saat berbincang dengan detikjabar, Senin (30/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hendra menekankan bahwa korban bukan pelari sembarangan. Pengalaman dan kapasitasnya membuat insiden ini tidak bisa serta-merta disederhanakan sebagai kelalaian individu.

"Ini memang sudah musibah," katanya sekaligus menegaskan bahwa risiko dalam olahraga ekstrem tidak selalu bisa dielakkan.

ADVERTISEMENT

Namun di balik kata "musibah", ada lapisan persoalan yang tak bisa diabaikan. Hendra menyoroti pentingnya sistem pencegahan yang bekerja sebelum keadaan menjadi darurat. Dalam olahraga dengan risiko tinggi seperti trail run, waktu sering kali menjadi pembeda antara selamat dan terlambat.

"Penanganan pertama itu penting. Apakah sebelum terjadi itu masih bisa dicegah," ucapnya.

Legs of male runner running on meadow high in mountains.Ilustrasi trail run Foto: Getty Images/simonkr

Hendra yang pernah ditempa dalam perhelatan ekstem Iditarod Trail Invitat Ional 320 Km di Alaska pada 2020 ini menilai, kehadiran titik pengawasan (water station/WS) dan tenaga medis bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan mutlak. Bahkan, menurutnya, ambulans di titik terdekat seharusnya menjadi standar minimal.

Kritik Hendra tidak berhenti pada aspek teknis. Ia menyoroti bagaimana banyak penyelenggara terjebak dalam euforia popularitas olahraga lari pascapandemi. Lonjakan peserta dari berbagai latar belakang, tanpa penyaringan yang memadai, justru membuka celah risiko.

"Kalau dia mau ikut 30 kilo, dia harus pernah ikut jarak sebelumnya," katanya.

Sistem kualifikasi, Hendra melanjutkan, bukan untuk membatasi, tetapi untuk melindungi. Tanpa itu, lintasan berubah dari tantangan menjadi jebakan.

Peserta Ultra Trail Ghobi 400 KM ini juga menyinggung fenomena pelari pemula yang langsung mengambil jarak panjang. Dalam konteks Lebarun yang menawarkan kategori 28 kilometer dan elevation gain 2700 meter, Hendra menilai jarak dan medan tersebut tidak bisa dianggap enteng.

"Kalau yang belum pernah trail, 28 kilo itu termasuk perlu ada pemanasan. Sebaiknya ada yang pendeknya," ujarnya.

Di lapangan, persoalan lain muncul, yaitu kesiapan petugas. Hendra menilai penjaga di checkpoint harus memiliki kemampuan dasar membaca kondisi peserta. Perubahan ekspresi, kelelahan yang tak wajar, hingga tanda-tanda gangguan fisik seharusnya bisa dikenali sejak dini.

"Semua petugas harus diberikan ilmu pengetahuan," katanya.

Ia mencontohkan ketika dirinya mengikuti ajang lari di ajang Ultra Trail Mount Fuji berjarak tempuh 161 kilometer pada 2013. Saat itu kondisi yang dihadapi adalah minus 5 derajat. Di setiap checkpoint pihak penyelenggara menyiapkan tim medis. Bukan itu saja, Hendra diharuskan lolos squatjump.

"Kalau tes itu lolos, saya dipersilakan untuk melanjutkan rute. Bukan apa-apa, penyelenggara akan melihat kesiapan akan apa yang dihadapi di lintasan depan sana," ujar Hendra yang baru menuntaskan rute Majestic Road, sebuah perjalanan bersepeda dari Sentul Bogor ke Mekkah, 100 hari pada 2025 lalu.

Persoalan klasik lain yang kerap menjadi alasan adalah anggaran. Namun bagi Hendra, keselamatan tidak bisa dinegosiasikan. Tim medis adalah bagian penting dari sebuah perhelatan olahraga ekstrem. Ia bahkan menyebut, dari struktur biaya pendaftaran saja, publik bisa menebak sejauh mana kesiapan sebuah event.

Di ujung pembicaraan, nada Hendra melunak. Ia tidak menempatkan diri sebagai hakim, melainkan bagian dari ekosistem yang juga harus berbenah.

"Ini menjadi pembelajaran bagi semua orang, termasuk saya," ujar founder beberapa event lari lintas alam seperti Bromo Tengger Semeru 170 Km, Gede Pangrango 100 dan 200 Km, dan lari untuk penggalangan dana gempa Palu-Lombok dengan rute 2176 km.

Kematian Peserta Trail Run

Peristiwa bermula saat Roysi Adiputra Firdaus (34), peserta asal Kabupaten Bekasi, mengikuti ajang trail run Lebarun 2026 di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Sabtu (28/3/2026).

Lomba lintas alam dengan jarak sekitar 28,7 kilometer itu melintasi rute Sentul Nirwana menuju Desa Karang Tengah hingga Desa Bojong Koneng. Di tengah jalur tersebut, tepatnya di Kilometer 5, Kampung Gunung Pipisan, korban mengalami kondisi kritis.

Menurut keterangan Kapolsek Babakan Madang Kompol Trias Karso Yuliantoro, korban tiba-tiba berhenti sebelum akhirnya terjatuh. Rekan sesama pelari yang berada di lokasi pertama kali menyadari kejadian itu dan langsung memberikan pertolongan awal.

Saat ditemukan, kondisi korban sudah menunjukkan tanda-tanda serius, dengan mulut mengeluarkan busa dan napas yang terdengar berat. Upaya penanganan segera dilakukan oleh rekan dan panitia sebelum korban dievakuasi menuju fasilitas medis terdekat.

Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit EMC Sentul City, kondisi korban terus menurun. Tim medis sempat memberikan penanganan darurat, namun nyawanya tidak tertolong. Korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 10.30 WIB.

Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan korban diduga meninggal akibat kelelahan saat mengikuti lomba. Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak menghendaki proses hukum lebih lanjut.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads