Dari pinggir Jalan Ir H Juanda, Desa Singajaya, Kecamatan Indramayu, aroma gorengan hangat menyebar setiap hari. Di sanalah Amin (37) menggantungkan hidupnya sejak 2010. Selama 15 tahun lebih, ia setia berjualan gorengan sederhana; bala-bala, cireng, sukun, tempe, singkong, pisang cokelat, hingga risol isi bihun, yang menjadi sumber nafkah bagi istri dan tiga anaknya.
Anak-anak Amin kini beranjak besar. Yang pertama berusia 13 tahun, kedua 8 tahun, dan si bungsu 5 tahun. Dari lapak kecilnya di depan salah satu minimarket, Amin menjalani hari-hari dengan penuh ketekunan.
"Saya jualan dari 2010, berarti sudah 15 tahun lebih, ya. Alhamdulillah bisa menghidupi keluarga," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghasilannya tak menentu, namun cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam sehari, Amin bisa membawa pulang antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu. Berapa saja uang yang dibawa pulang tidaklah penting. Baginya, yang terpenting adalah dapur tetap mengepul dan anak-anaknya bisa makan.
Di balik kesederhanaan usahanya, Amin menghadapi berbagai tantangan. Kenaikan harga bahan pokok seperti cabai dan minyak goreng kerap memaksanya beradaptasi. Bahkan, saat ini kenaikan harga kantong plastik pun ikut berdampak.
"Kalau bahan naik, biasanya ukuran gorengan dikurangi sedikit," katanya.
Tak hanya itu, cuaca juga menjadi faktor yang tak bisa ia kendalikan. Hujan yang turun seharian bisa membuat dagangannya sepi pembeli.
"Kalau hujan terus, orang jadi malas keluar. Pembeli juga berkurang," tambahnya.
Amin (37), penjual gorengan di Jalan Ir H Juanda, Desa Singajaya, Kecamatan Indramayu. Foto: Burhannudin |
Namun, di tengah segala keterbatasan, Amin memiliki satu prinsip yang ia pegang teguh, yakni menjaga kualitas. Menurut Amin, rasa adalah segalanya. Ia memastikan semua adonan yang dibuat harus habis digoreng di hari yang sama.
"Adonan hari ini harus habis hari ini. Jangan sampai ada sisa," tegasnya.
Prinsip itu bukan tanpa alasan. Ia pernah mencoba menggunakan adonan sisa keesokan harinya, namun hasilnya tak memuaskan.
"Rasanya beda, kurang enak. Dari situ saya kapok. Sekarang tidak pernah pakai adonan kemarin," kenangnya.
Kesederhanaan dan konsistensi itulah yang membuat pelanggan terus kembali. Di tengah persaingan dan kondisi ekonomi yang tak selalu ramah, Amin tetap bertahan; menggoreng harapan demi masa depan keluarganya.
Bagi Amin, mungkin usahanya kecil. Namun dari wajan panas dan adonan yang tak pernah disisakan, ia membuktikan bahwa ketekunan dan kejujuran pada kualitas bisa menjadi resep bertahan dalam kehidupan.
(yum/yum)

