Cerita Histaria, 30 Tahun Jadi 'Dokter' Jam di Pangandaran

Serba-serbi Warga

Cerita Histaria, 30 Tahun Jadi 'Dokter' Jam di Pangandaran

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Selasa, 07 Apr 2026 07:30 WIB
Histaria sedang memperbaiki jam tangan rusak di Pasar Pananjung.
Histaria sedang memperbaiki jam tangan rusak di Pasar Pananjung. (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Di sudut Pasar Pananjung, seorang pria berusia 60 tahun bernama Histaria tampak sibuk. Kedua tangannya masih terampil mengutak-atik jam tangan. Berbagai kerusakan jam diselesaikannya setiap hari.

Mayoritas 'pasien' yang datang adalah jam tangan merek lama milik warga senior. Meski begitu, tak sedikit pula jam digital yang diperbaiki Histaria.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski lokasinya berada di pasar tradisional yang didominasi pedagang kebutuhan pokok, Histaria tak gentar kehilangan pelanggan. Ia mengaku telah membuka jasa servis jam sejak tahun 1995.

"Wah sudah lama kang, sejak taun 1995, waktu itu pasar baru 2 tahunan lah," ucap Histaria kepada detikJabar, Senin (6/5/2024).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, saat pertama kali membuka jasa perbaikan jam tangan, setidaknya ada 15 jongko serupa di sana. "Namun seiring berjalannya waktu sekarang hanya sisa bertiga. Yang lainnya ganti profesi dan pensiun," katanya.

Belasan tahun lalu, dalam sehari ia bisa menerima satu dus jam tangan hingga pelanggan harus antre. "Kalau sekarang menerima 3-5 pasien saja sudah alhamdulillah," ucapnya.

Histaria sedang memperbaiki jam tangan rusak di Pasar Pananjung.Histaria sedang memperbaiki jam tangan rusak di Pasar Pananjung. (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)

Tak hanya jasa servis, jam tangan bekas dan baru yang ia jual pun sempat laku keras. "Wah dulu mah laku cepat jam tangan modifan, jam tangan baru. Kalay menjelang Lebaran pasti ramai yang servis dan beli jam baru," katanya.

Ia mengenang masa kejayaan tukang servis jam tangan di Pasar Pananjung Pangandaran pada era tahun 1998. "Tahun itu alhamdulillah bukan sombong ya. Sehari kadangkala masih perlu lagi dibawa ke rumah perbaikannya," kenangnya.

Untuk sekali servis jam, ia mematok harga mulai dari Rp 10.000-25.000. "Tergantung persoalan jamnya, harganya mulai Rp 10 ribu sampai 25 ribu," ucapnya.

Dalam sehari, dia mengaku bisa mengantongi Rp 100-300 ribu dari hasil penjualan unit maupun servis. "Rp 100-300 ribu, 10 tahun lalu itu gede. Sekarang dapat Rp 50-100 ribu dalam sehari alhamdulillah," katanya.

Berkat ketekunannya membuka jasa servis jam, Histaria bersyukur bisa membiayai kedua anaknya hingga lulus sarjana. "Alhamdulillah kalay apa yang sudah didapatkan cukup. Semua anak kuliah, sekarang sudah kerja," ucapnya.

Histaria memilih tetap bertahan hingga kini karena kecintaannya pada dunia arloji yang terus berkembang. "Dulu dari mulai memperbaiki jam analog, sekarang jam digital memang punya kenangan tersendiri. Senang aja menjalaninya," tutupnya.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads