Aksi Senyap Mang Kiclik, Susuri Waduk Saguling Bersihkan Eceng Gondok

Aksi Senyap Mang Kiclik, Susuri Waduk Saguling Bersihkan Eceng Gondok

Whisnu Pradana - detikJabar
Sabtu, 16 Mei 2026 09:00 WIB
potret Mang Kiclik, warga Cililin yang terjun langsung bersihkan Waduk Citarum dari eceng gondok
potret Mang Kiclik, warga Cililin yang terjun langsung bersihkan Waduk Citarum dari eceng gondok (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar).
Bandung Barat -

Waduk Saguling di aliran Sungai Citarum, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kini dikepung hamparan eceng gondok. Permukaan air berubah menjadi hijau pekat seiring pesatnya pertumbuhan gulma air yang membentuk pulau-pulau hingga seolah-olah bisa dipijak.

Keberadaan eceng gondok di perairan Waduk Saguling itu menggerakkan Taufik Rahmat Wardani, seorang warga asli Kampung Bobojong, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Bandung Barat. Pergerakannya senyap, namun bermakna besar bagi keberlangsungan ekosistem.

Saban hari, jika kondisi fisiknya bugar, pria 33 tahun itu rela menceburkan diri hingga air sebatas leher demi mengangkat eceng gondok dari permukaan waduk ke daratan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria yang karib disapa Mang Kiclik itu bergerak senyap. Bermodal tangan kosong di tengah intaian bahaya, Mang Kiclik rela berbasah-basahan selama dua hingga tiga jam setiap hari.

"Awalnya dari 2017, cuma nggak rutin. Nah baru di Januari 2025, bersih-bersih eceng (gondok) ini saya rutinkan setiap hari. Ya seperti bisa kita lihat, kondisi Waduk Saguling semakin parah tertutup eceng (gondok)," kata Mang Kiclik saat ditemui, Jumat (15/5/2026).

ADVERTISEMENT

Sekali waktu, ia pernah menghitung jumlah eceng gondok yang diangkutnya. Tak disangka, bobot gulma air yang ia bersihkan mencapai 500 kilogram atau 5 kuintal. Sebuah capaian luar biasa mengingat ia bekerja secara manual tanpa bantuan alat berat.

"Ya pernah saya hitung, sekitar 5 kuintal, tapi kan tanamannya juga berat ya dan basah. Bukan itu sebetulnya yang penting, tapi dampaknya. Minimal kalau setiap hari, bisa berkurang meskipun enggak dibantu alat berat," ujar Mang Kiclik.

Pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali memicu keresahan. Bagi Mang Kiclik dan warga lain yang menggantungkan hidup dari Waduk Saguling, ruang gerak mereka kini terbatas. Mereka tak lagi leluasa menangkap ikan, ditambah lagi dengan serangan wabah nyamuk yang bersarang di tumpukan gulma tersebut.

"Ya perahu kita enggak bisa jalan karena kan perairannya penuh sama eceng, kita jadi enggak bisa men ari ikan. Terus sekarang warga lagi resah karena banyak nyamuk, ya karena rumahnya itu di sela-sela eceng gondok, nyamuk bertelur di situ," kata Mang Kiclik.

Mang Kiclik bertekad terus beraksi membersihkan eceng gondok di kala rekan seperjuangannya satu per satu mundur karena urusan pekerjaan. Ia tak akan goyah kendati aksinya dibayangi ancaman penyakit hingga serangan binatang buas.

"Sekarang sisa saya sendiri, yang lain sudah mulai sibuk bekerja. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan ini, bisa jadi inspirasi buat yang lain, apalagi pemerintah bergerak merawat Waduk Saguling," kata Mang Kiclik.




(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads