Taman Bappeda Kabupaten Sukabumi di kawasan Jajaway, Palabuhanratu, kini kondisinya memprihatinkan. Tak hanya fasilitas publiknya yang rusak parah, enam tiang besi pembatas jalan di area ruang terbuka hijau tersebut bahkan raib digondol pelaku pencurian fasilitas umum yang terbuat dari besi, baja, atau dikenal dengan 'rayap besi'.
Ironisnya, taman yang berada tepat di seberang Gedung DPRD Kabupaten Sukabumi ini sekarang malah terkesan dibiarkan. Minimnya pengawasan membuat area yang semestinya jadi tempat rekreasi keluarga tersebut kerap disalahgunakan untuk aktivitas negatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan detikJabar di lokasi pada Rabu (20/5/2026), kerusakan fasilitas umum terlihat hampir di seluruh area taman. Lantai pembatas atau paving block berwarna abu-abu di bagian depan tampak terkelupas, mencuat tidak beraturan, dan berserakan. Kondisi ini jelas membahayakan keselamatan pejalan kaki.
Tak hanya itu, dinding berwarna kuning dengan tulisan "TAMAN BAPPEDA" juga menjadi sasaran aksi vandalisme. Coretan cat semprot berwarna hitam dan hijau tampak memenuhi permukaan dinding.
Bahkan, dua ornamen patung kura-kura laut di depan dinding ikut dirusak. Salah satunya hancur mengenaskan hingga meninggalkan lubang besar pada bagian kepala. Kesan telantar makin diperparah dengan tumpukan sampah plastik dan undakan tangga semen yang sudah berlumut.
Di area trotoar depan, kini hanya tersisa dua buah tiang pembatas jalan. Padahal, kawasan tersebut sebelumnya dilengkapi sekitar delapan tiang besi yang berfungsi menghalau kendaraan agar tidak masuk ke area pejalan kaki.
Hilangnya enam tiang pembatas tersebut hanya menyisakan lubang bekas pembongkaran paksa di tanah. Warga setempat menduga tiang-tiang besi tersebut telah menjadi sasaran empuk aksi pencurian.
Beni (26) , salah seorang pengunjung taman, menyayangkan lemahnya pengawasan di kawasan tersebut. Apalagi, lokasi taman berada di pusat pemerintahan daerah.
""Kawasan ini merupakan kompleks perkantoran dinas dan berada tepat di depan Gedung DPRD. Sangat ironis jika tiang pembatas berukuran besar bisa hilang satu per satu tanpa ada tindakan tegas. Ini jelas pencurian yang terkesan dibiarkan," ujar Beni saat ditemui di lokasi.
Masalah lain yang muncul akibat telantarnya taman ini adalah kerawanan sosial ketika malam hari. Minimnya lampu penerangan membuat sudut-sudut taman yang rindang kerap disalahgunakan oleh kalangan remaja. Di lokasi, banyak ditemukan sampah bungkus obat batuk saset yang berserakan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga bahwa lokasi ini kerap digunakan sebagai tempat berkumpul untuk mengonsumsi obat batuk cair secara berlebihan demi mendapatkan efek memabukkan.
Pengunjung lainnya, Dian (23) , mengaku resah dengan perubahan fungsi taman yang kini terkesan kumuh dan rawan tindakan kriminal.
"Tujuan ke sini sebenarnya untuk mencari udara segar, tetapi justru merasa tidak nyaman melihat banyaknya bungkus obat batuk yang berserakan. Kalau malam, suasananya sangat gelap dan remang-remang, sehingga memicu rasa takut bagi warga yang ingin berkunjung," kata Dian.
Warga berharap instansi terkait segera mengambil langkah untuk membenahi taman dan mengembalikan fungsinya sebagai ruang publik yang aman dan nyaman.
(sya/sud)