Dari Lahan Tidur, Ratusan Ton Jagung Dipanen di Bandung Barat

Dari Lahan Tidur, Ratusan Ton Jagung Dipanen di Bandung Barat

Whisnu Pradana - detikJabar
Rabu, 10 Jun 2026 00:30 WIB
Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra panen jagung hibrida
Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra panen jagung hibrida (Foto: Istimewa)
Bandung Barat -

Lahan-lahan tak produktif di wilayah Kabupaten Bandung Barat kini mulai memberikan manfaat buat masyarakat. Jutaan batang jagung yang ditanam sejak beberapa bulan lalu, mulai menampakkan hasilnya.

Berbekal bibit dan alat dari Polres Cimahi, para penggarap yang tersebar dari ujung utara hingga selatan Bandung Barat gigih dan telaten merawat tanaman penghasil karbohidrat selain padi dan gandum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Polres Cimahi sendiri menargetkan penanaman jagung dengan luas 1.700 hektare. Produksi jagung itu nantinya akan diserap oleh Bulog dengan target sebesar 2.500 ton. Syarat yang sesuai dengan aturan bulog kadar air di bawah 14 persen dan antitoksin di bawah 50 ppb.

"Sampai saat ini Polres Cimahi terus berproses dalam swasembada pangan ini, dengan luas lahan yang sudah ditanami jagung 334,50 hektar, dan lahan yang berhasil panen sebanyak 377,5 ton, yang sudah diserap bulog sebanyak 165 ton," kata Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra saat dikonfirmasi, Selasa (9/6/2026).

ADVERTISEMENT

Bantuan yang sudah disalurkan pada kelompok tani di wilayah berupa traktor bajak, pupuk NPK, juga Bibit jagung unggul Hibrida. Bantuan itu demi meningkatkan kualitas panen serta efisiensi penggarapan lahan oleh petani.

"Tentunya kami juga memberikan bantuan, sebagai langkah dukungan agar meningkatkan produksi panen jagung. Semua bantuan yang kita berikan harus dimanfaatkan sebaik mungkin," kata Niko.

Ita Sumitra (60), salah seorang petani jagung yang terlibat, senang bisa produktif lagi. Sudah 4 bulan, Ita dan puluhan petani lain di Desa Kanangasari, Kecamatan Cikalongwetan. Ia mengelola tanaman jagung di lahan perbukitan yang sebelumnya ditanami tanaman keras.

"Sudah 4 bulanan, sebelumnya ya serabutan. Jadi sebelum ikut bertani, ada pelatihan dulu. Untuk menanam jagung saya pribadi baru sekarang," kata Ita.

Ita mengaku tak begitu mengalami kesulitan dalam menanam hingga merawat tanaman jagung di lokasi tersebut. Hal yang menjadi tantangan adalah kontur tanah yang berbukit-bukit.

"Kalau kesulitan, ya itu lokasinya kan nggak rata di sini. Banyak bukitnya, jadi lumayan capek. Mudah-mudahan bisa manjang dan bikin kami sejahtera," kata Ita.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads