Misteri Rumah yang Bertahan di Tengah Desa Hantu

Misteri Rumah yang Bertahan di Tengah Desa Hantu

Sekar Aqillah Indraswari - detikJabar
Rabu, 17 Jun 2026 07:30 WIB
Rumah Terakhir di Desa Hantu Inggris
Rumah Terakhir di Desa Hantu Inggris (Foto: Paul Fosh via BBC)
Jakarta -

Di tengah rimbunnya pepohonan yang menutupi bekas permukiman, berdiri sebuah rumah yang menjadi saksi terakhir kejayaan sekaligus kemunduran sebuah desa pertambangan di Inggris. Rumah itu kini menjadi satu-satunya hunian yang masih tersisa di Troedrhiwfuwch, atau yang lebih dikenal dengan nama Troedy, sebuah desa yang telah berubah menjadi desa hantu.

Melansir detikProperti, rumah bernomor 2 Lawrence Terrace tersebut saat ini ditawarkan untuk dijual melalui lelang daring dengan harga awal sebesar 35.000 pound sterling atau sekitar Rp 832 juta.

Broker dari Paul Fosh Auctions, Sean Roper, mengatakan properti tersebut akan dilelang secara online mulai 23 Juni hingga 25 Juni 2026 waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bangunan itu memiliki dua ruang tamu, dapur, serta kamar mandi di lantai dasar. Sementara di lantai atas terdapat tiga kamar tidur. Rumah tersebut juga dilengkapi taman di bagian depan dan belakang serta sebuah gudang.

ADVERTISEMENT

Meski masih berdiri kokoh, rumah itu kini tampak terisolasi. Pepohonan tinggi dan lebat yang tumbuh di sekelilingnya menciptakan kesan seolah bangunan tersebut tersembunyi di tengah hutan, jauh dari kehidupan yang pernah ramai di kawasan itu.

Sebenarnya masih terdapat satu bangunan lain di lokasi tersebut. Namun bangunan itu tidak lagi dihuni dan hanya berupa bekas kantor pos. Selain itu, terdapat pula sebuah tugu peringatan perang yang menjadi penanda sejarah desa tersebut.

Puluhan tahun lalu, Troedrhiwfuwch merupakan permukiman yang hidup dan berkembang berkat industri pertambangan batu bara. Sebanyak 94 rumah pernah berdiri di desa itu.

Tak hanya perumahan, desa tersebut juga memiliki berbagai fasilitas yang menunjang kehidupan masyarakat, mulai dari kapel, gereja, toko, pub, sekolah, perpustakaan, hingga kantor pos.

Rumah-rumah warga tersebar di tiga ruas jalan utama, yakni High Street, Chapel Road, dan Lawrence Terrace. Aktivitas masyarakat berlangsung normal layaknya desa-desa pertambangan lain di wilayah tersebut.

Namun, semuanya berubah ketika pihak dewan lokal menemukan ancaman geologis yang serius. Pergerakan tanah di kawasan perbukitan sekitar desa dinilai berpotensi memicu longsor besar yang dapat menghancurkan seluruh permukiman dalam waktu singkat.

Demi keselamatan warga, pemerintah setempat meminta seluruh penduduk meninggalkan desa dan pindah ke lokasi yang lebih aman. Risiko bencana yang mengintai dianggap terlalu besar untuk diabaikan.

Seiring eksodus penduduk, bangunan-bangunan di desa itu satu per satu diratakan. Rumah-rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal keluarga pekerja tambang dibongkar hingga nyaris tidak menyisakan jejak kehidupan.

Anehnya, di antara puluhan bangunan yang dihancurkan, rumah nomor 2 Lawrence Terrace justru tetap dibiarkan berdiri.

Hingga kini, alasan pasti mengapa rumah tersebut selamat dari pembongkaran masih belum diketahui.

"Mengapa rumah tiga kamar tidur biasa ini bisa bertahan sementara yang lain hancur masih menjadi misteri, tetapi mungkin ini adalah kisah yang ingin diungkap oleh pemilik baru properti tersebut," kata Sean Roper.

Kini, rumah itu bukan sekadar properti yang dijual kepada penawar tertinggi. Bangunan tersebut juga menjadi simbol terakhir dari sebuah desa yang pernah hidup, berkembang, lalu perlahan menghilang akibat ancaman alam.

Bagi siapa pun yang kelak membelinya, rumah itu menawarkan lebih dari sekadar tempat tinggal. Ia menyimpan jejak sejarah sebuah komunitas yang pernah tumbuh di tengah industri batu bara, sebelum akhirnya lenyap dan meninggalkan satu-satunya saksi yang masih bertahan hingga hari ini.


Artikel ini sudah tayang di detikProperti




(aqi/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads