Cerita Ressi, Perawat Viral Selamatkan Bocah PAUD dari Maut di Sukabumi

Cerita Ressi, Perawat Viral Selamatkan Bocah PAUD dari Maut di Sukabumi

Siti Fatimah - detikJabar
Selasa, 16 Jun 2026 16:45 WIB
Polisi saat mengecek TKP anak yang terpeleset di kolam renang
Foto: Istimewa
Sukabumi -

Baru-baru ini viral di media sosial aksi heroik seorang pengunjung yang menolong bocah PAUD. Bocah tersebut nyaris tewas tenggelam saat acara kenaikan kelas atau tradisi samen.

Sosok itu adalah Ressi Monica (35). Berbekal latar belakang pendidikan keperawatan yang dimilikinya, Ressi menjadi malaikat penolong bagi korban melalui tindakan resusitasi jantung paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) yang dramatis.

Ressi menceritakan, saat itu dirinya baru saja menginjakkan kaki di area wisata sekitar pukul 10.00 WIB. Sambil bersantai, ia sedang menyiapkan pakaian ganti untuk mendampingi anak-anaknya yang hendak berenang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak lama, suami datang setengah lari dan menginfokan ada anak kecil tenggelam. Suami meminta saya untuk segera memberikan pertolongan," ujar Ressi, Selasa (16/6/2026).

ADVERTISEMENT

Tanpa membuang waktu, Ressi berlari menuju titik kerumunan. Pemandangan pertama yang dilihatnya cukup mengejutkan. Tubuh lemas sang bocah sedang diangkat oleh seorang pria dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas, sebuah kekeliruan penanganan yang sering terjadi di masyarakat.

Ressi langsung mengambil alih situasi. Ia menginstruksikan agar tubuh bocah malang itu segera dibaringkan di lantai yang datar. Saat memeriksa kondisi fisik korban, jantung Ressi sempat berdesir kencang melihat tanda-tanda klinis yang kritis.

"Kondisi anak tersebut sudah tidak ada respons, lemah lunglai, nadi lemah hampir tidak teraba, akral (ujung jari) dingin, dan bibir sianosis atau biru keunguan," kenang Ressi menggambarkan situasi genting saat itu.

Berkejaran dengan Waktu di Tengah Kelelahan

Melihat tanda-tanda vital yang nyaris habis, Ressi langsung melakukan tindakan anamnesa cepat dan memulai siklus CPR. Sendirian, di tengah kepungan kepanikan pengunjung, jemari Ressi menekan dada sang bocah dengan ritme yang konstan.

Proses krusial itu berlangsung selama empat hingga lima menit yang terasa begitu lama. Ressi melakukan total empat hingga lima siklus kompresi dada dengan kecepatan luar biasa, sekitar 100 hingga 120 tekanan per menit.

"Secara teori, CPR itu harus bergantian setiap dua menit untuk mencegah kelelahan, karena kompresi dada yang efektif membutuhkan tenaga dan ritme yang kuat. Kalau kelelahan, kedalaman dan kecepatan kompresi pasti menurun," jelas Ressi.

Beban berat di pundaknya sempat membuat Ressi berteriak histeris di tengah kepulan kepanikan massa. "Kemarin sebetulnya saya sudah kelelahan dan meneriakkan, 'apakah ada nakes (tenaga kesehatan) lainnya di sini?'. Namun sampai CPR yang saya lakukan berhasil, baru ada seseorang yang mengaku perawat datang," tuturnya.

Di tengah ketegangan, beberapa pengunjung sempat mendesak agar bocah tersebut langsung digendong dan dilarikan ke rumah sakit. Namun, naluri keperawatan Ressi menolak keras. Memindahkan pasien dalam kondisi jantung dan napas berhenti tanpa penanganan awal justru bisa berakibat fatal.

Keputusan Ressi bertahan terbukti tepat. Di menit kelima, keajaiban itu datang. Dada kecil sang bocah mulai bergerak, disusul dengan respons tubuh yang dinanti-nanti.

"Alhamdulillah korban sudah menunjukkan ada refleks batuk, keluar cairan banyak sekali dari hidung dan mulut, disertai ada refleks anggota tubuh lainnya. Setelah itu, baru saya mengizinkan korban untuk dievakuasi ke RS," ucapnya dengan nada lega.

Selama proses penyelamatan, sang suami juga turut membantu menenangkan massa dan meminta pengunjung tidak berkerumun agar pasokan oksigen di sekitar korban tetap terjaga.

Belajar dari insiden mendebarkan ini, Ressi mengetuk kesadaran publik dan pihak pengelola wisata. Menurutnya, keahlian Bantuan Hidup Dasar (BHD) seperti CPR seharusnya bukan lagi monopoli tenaga kesehatan, melainkan kemampuan wajib masyarakat awam.

"Sangat penting pelatihan CPR diberikan pada masyarakat umum. Karena sedikit pertolongan dengan teknik dan waktu yang tepat, bisa menyelamatkan banyak nyawa," kata Ressi.

Ia juga melempar kritik membangun bagi pengelola destinasi wisata air agar mengevaluasi ketersediaan tim medis resmi di lapangan. "Untuk orang tua, sebaiknya jangan pernah lepas pengawasan saat anak bermain di arena air. Dan untuk pengelola wisata, sebaiknya seluruh staf karyawan diberikan pelatihan Bantuan Hidup Dasar agar siap jika ada kejadian darurat," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads