Sebuah foto yang memperlihatkan seorang pasien wanita terbaring lemas beralaskan kain seadanya di lantai selasar rumah sakit beredar luas dan memicu keprihatinan masyarakat.
Pasien tersebut diketahui bernama Ade (52), warga Kampung Cicariang, Desa Ridogalih, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Ibu rumah tangga yang didiagnosis mengidap mioma (tumor rahim) ini terpaksa bertahan di selasar luar RSUD Palabuhanratu dalam kondisi pendarahan hebat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak rumah sakit menyarankan pasien untuk pulang terlebih dahulu lantaran kartu BPJS Kesehatan/KIS miliknya baru akan aktif pada tanggal 1 Juli mendatang. Dalam foto yang beredar, tampak Ade yang mengenakan jilbab ungu terbaring lemas beralaskan kain bermotif batik di atas lantai keramik selasar.
Tiga orang anggota keluarganya terlihat duduk melingkar di atas lantai sambil menjaganya di antara botol-botol air mineral dengan raut wajah cemas.
Menantu pasien, Budiman (38), membenarkan situasi pilu yang dialami mertuanya tersebut. Ia menceritakan, Ade sebenarnya sempat dilarikan ke rumah sakit pada Sabtu (20/6/2026) malam karena mengalami pendarahan. Setelah kondisinya sempat dinilai stabil, mereka sempat diminta pulang.
"Namun sampai di rumah, kondisi Ibu kembali memburuk. Pendarahannya terjadi lagi. Makanya tadi pagi-pagi sekali langsung saya bawa lagi ke sini untuk berobat," kata Budiman saat ditemui di selasar RSUD Palabuhanratu, Senin (22/6/2026).
Setelah kembali dibawa ke Poliklinik Kandungan dan menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG), dokter menegaskan bahwa tumor di perut Ade sudah harus segera diangkat melalui tindakan operasi. Namun, rencana tindakan penyelamatan nyawa itu terbentur masa aktif jaminan kesehatan.
"Hasil dari berobat di-rontgen katanya ini tumor harus diangkat. Sedangkan saya kan enggak punya biaya, terkendala biayanya KIS-nya enggak aktif. Katanya harus pakai BPJS, sedangkan BPJS mertua saya enggak aktif, aktif tanggal 1 gitu kan. Terus ya udah disuruh pulang aja sama dokter," ujar Budiman lesu sembari memperlihatkan kertas hasil USG.
Kondisi tersebut membuat keluarga semakin megap-megap. Selain diminta pulang, mereka hanya dibekali resep dokter tanpa jaminan obat gratis.
"Tadi dikasih obat juga beli di luar. Cuma dikasih resep-resep doang, cuma obat beli di luar saya," ucapnya.
Pihak keluarga kini memilih nekat bertahan di emperan terbuka rumah sakit karena tidak berani membawa Ade pulang ke Kampung Cicariang lantaran jarak tempuh yang jauh dan kondisi fisik Ade yang terus menurun drastis.
"Karena kalau saya dibawa pulang lagi mertua saya, karena udah repot, saya kasihan, karena dari sini ke rumah jauh perjalanan juga. Sedangkan ini di sini pun juga masih pendarahan. Takut ada apa-apa di rumah," tutur Budiman cemas.
Penjelasan Pihak RSUD Palabuhanratu
Merespons hal tersebut, Kepala Seksi Pelayanan Medis RSUD Palabuhanratu, dr. Rizky Tanzil, memberikan klarifikasi terkait kondisi medis pasien dan prosedur administrasi jaminan yang sedang berjalan.
Menurutnya, pasien Ade sudah diperiksa secara komprehensif oleh dokter spesialis kandungan di poliklinik.
"Ibu Ade ini tadi sudah diperiksa oleh spesialis kandungan di poli kandungan. Bahwa pasien kondisinya stabil, tanda vital bagus, dan pendarahan minimal. Sehingga sementara ini bisa untuk berobat jalan," ujar Rizky.
Terkait keberadaan pasien di selasar rumah sakit, Rizky menjelaskan bahwa hal itu didasari oleh rasa kekhawatiran dan kebingungan dari pihak keluarga, bukan karena pihak rumah sakit menelantarkan mereka.
"Mereka itu memang khawatir terhadap keluhan yang akan terjadi, karena sebelumnya pernah ada pendarahan yang agak banyak, sehingga pasien itu bingung. Sebenarnya pendarahannya minimal, jadi secara medis belum perlu untuk dirawat inap karena kondisi pasien stabil," jelasnya.
Pihak RSUD Palabuhanratu menegaskan tidak tinggal diam dan telah melakukan atensi serta edukasi kepada keluarga pasien beserta aparatur desa setempat. Berdasarkan pengecekan data jaminan, Ade sebelumnya memiliki fasilitas BPJS KIS namun statusnya dinonaktifkan.
"Sudah dipanggil pihak keluarga dan pihak desa, juga sudah dijelaskan bagaimana prosedurnya untuk bisa mengaktifkan kembali BPJS-nya. Kami sudah koordinasi dengan pihak desa untuk mengusahakan dan membantu pengaktifan kembali KIS pasien. Nanti kalau sudah aktif, bisa segera direncanakan untuk tindakan operasi sesuai keluhan pasien," pungkas Rizky.
(sya/dir)
