Viral Kawasan Gunungmasigit KBB 'Berselimut Salju' Bak di Luar Negeri

Viral Kawasan Gunungmasigit KBB 'Berselimut Salju' Bak di Luar Negeri

Whisnu Pradana - detikJabar
Senin, 22 Jun 2026 17:25 WIB
Kondisi Jalan Raya Padalarang-Cianjur yang memutih berselimut salju
Kondisi Jalan Raya Padalarang-Cianjur yang memutih 'berselimut salju' (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar).
Bandung Barat -

Suasana seperti di luar negeri terasa ketika melintasi Jalan Raya Padalarang-Cianjur, tepatnya Kampung Pamucatan, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Permukaan jalan, dinding dan atap bangunan, serta tanaman di tepi jalan nasional itu memutih seolah-olah diselimuti salju. Persis seperti jalanan bak di Jepang, Korea Selatan, hingga Swiss yang bernuansa sama ketika memasuki musim dingin.

Namun, warna putih yang mewarnai benda-benda di sepanjang jalan itu bukanlah salju sesungguhnya, melainkan debu-debu dari pabrik pengolahan batu kapur. Partikel-partikel kecil itu menempel di bodi dan kaca mobil maupun helm pengendara motor. Kondisi itu viral di media sosial hingga memicu beragam reaksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kebetulan saya agak sering lewat sini, jadi memang kondisinya seperti ini. Apalagi sekarang musim kemarau, jadi lebih nempel. Beda kalau musim hujan, mending bisa kebawa air," kata Rizaldi, warga Cimahi saat dikonfirmasi, Senin (22/6/2026).

ADVERTISEMENT

Jika sedang menggunakan sepeda motor, ia wajib menggunakan helm berkaca. Sementara jika menggunakan helm tanpa kaca, ia akan melengkapi diri dengan masker dan kacamata agar terhindar dari paparan debu pekat yang terasa perih di mata.

"Kalau polos tanpa kacamata atau masker, perig ke mata. Kan debu kapur, ditambah di sini banyak truk batu sama pasir. Kalau lagi pakai mobil ya tenang, enggak enaknya kalau lagi pakai motor," kata Rizaldi.

Kondisi Jalan Raya Padalarang-Cianjur yang memutih 'berselimut salju'Kondisi Jalan Raya Padalarang-Cianjur yang memutih 'berselimut salju' (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar).

Warga lainnya, Hidayat, mengaku anaknya kerap mengalami gangguan pernapasan karena kualitas udara yang buruk. Beberapa kali ke rumah sakit, sampai akhirnya ia menyekolahkan anaknya ke pesantren.

"Karena debunya tebal, jadi anak itu sering sesak napas. Namanya anak juga kan main di luar ya, akhirnya saya pesantren kan saja biar lingkungannya bersih dan sehat. Belum lagi saya suka gatal-gatal, karena kan tiap hari kena debunya," kata Hidayat.

Namun, di sisi lain, daerah Citatah dan Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Bandung Barat sendiri menjadi salah satu sentra pengolahan batu kapur, marmer, dan bebatuan hasil pertambangan di wilayah tersebut sejak lama.

Batu-batu diolah menjadi bahan baku untuk berbagai kebutuhan seperti pakan ternak, pupuk, pembuatan semen, dan keperluan lainnya. Sementara jenis batu lainnya ada yang diolah menjadi marmer untuk rumah.

Industri pertambangan dan pengolahan batu di kawasan itu menjadi tempat ribuan orang menggantungkan hidup dari sektor tersebut selama belasan bahkan puluhan tahun. Salah satunya Rochyadi.

"Selama ini saya cuma bekerja di tambang kapur. Tahun lalu sempat ditutup operasional sama pemerintah, sekarang sudah berjalan normal," kata Rochyadi.

Menanggapi keluhan dan viralnya kondisi di daerah Gunungmasigit, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat mengaku akan segera melakukan pengecekan ke lokasi tersebut.

"Informasi ini akan kami tindak lanjuti sebagai bagian dari proses pengaduan. Sesuai SOP, kami berencana turun ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya dan mencocokkan dengan informasi yang beredar," kata Petugas PPLH pada DLH KBB, Adhi Setyowibowo.




(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads