Trauma Berat, Siswi SD Korban Asusila di Sukabumi Alami Halusinasi

Trauma Berat, Siswi SD Korban Asusila di Sukabumi Alami Halusinasi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Jumat, 26 Jun 2026 12:00 WIB
ilustrasi anak trauma
ilustrasi anak trauma (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Sukabumi -

Kondisi psikologis seorang siswi kelas 3 Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, kian memprihatinkan. Bocah yang menjadi korban kekerasan seksual oleh teman sebayanya itu kini dilaporkan mengalami trauma berat hingga menunjukkan gejala halusinasi.

Fakta tersebut diungkapkan oleh kuasa hukum keluarga korban, Evelin Aprilianti, setelah mengunjungi kediaman korban pada Kamis (25/6/2026). Evelin menyebut memori kelam atas insiden tersebut terus membayangi keseharian sang anak.

"Kondisi anak korban saat ini dalam kondisi yang menurut saya cukup perlu pendampingan psikologis, yaitu karena efek daripada terjadinya tindakan tersebut berdampak kepada trauma psikologis. Yang saya khawatirkan adalah takutnya trauma ini berkepanjangan," ujar Evelin kepada detikJabar, Jumat (26/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan observasi tim hukum di lapangan, gangguan kesehatan mental korban mulai bermanifestasi dalam bentuk gangguan tidur. Anak berusia belia tersebut kerap mengigau dan berhalusinasi melihat sosok-sosok yang menakutkan.

ADVERTISEMENT

"Gambaran secara umumnya, anak sudah mengalami halusinasi. Dia bicara sih setiap tidur bermimpi didatangi hantu, kemudian kaki-kakinya dipegang," ungkap Evelin.

Meski secara umum korban masih terlihat responsif saat diajak berkomunikasi, Evelin mencatat adanya ingatan yang terkunci pada momen traumatis di area kebun. Halusinasi tersebut diduga diperparah oleh adanya dokumentasi visual saat peristiwa terjadi.

"Secara komunikasi, alhamdulillah baik, ya. Anaknya cukup komunikatif, responsif juga. Hanya saja, ada beberapa yang saya garis bawahi nih, dari halusinasi tersebut, kemudian adanya tontonan tanda kutip tindakan tersebut gitu, yang mengingatkan memori kepada anak saat terjadi kemarin," paparnya.

"Anak masih sangat ingat, di ingatannya itu terjadinya saat kejadian di kebun. Nah, itu yang menjadi concern untuk pendampingan secara lebih intens," sambung Evelin.

Mengingat kondisi mental korban yang terus merosot, tim kuasa hukum mendesak adanya intervensi medis yang lebih mendalam. Penanganan tidak lagi cukup hanya melalui psikolog, melainkan memerlukan bantuan psikiater untuk menangani respons trauma jangka panjang.

"Tentunya ini kita membutuhkan pendampingan psikolog dan psikiater, jika itu tidak cukup hanya di psikolog saja. Psikiater untuk bagaimana menanggapi responsif anak terhadap trauma yang sudah terjadi. Karena ini efeknya mungkin saja tidak hanya 1-2 bulan, tapi akan seterusnya," tegasnya.

Kasus memilukan ini melibatkan tiga pelaku di bawah umur. Satu pelaku berstatus siswa SMP diduga menjadi otak intelektual yang merekam aksi tersebut, sementara dua pelaku lainnya masih duduk di bangku SD. Saat ini, perkara tersebut tengah ditangani secara intensif oleh Unit PPA Satreskrim Polres Sukabumi.




(sya/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads