Percikan listrik dari instalasi luar milik PLN diduga menjadi pemicu bencana kebakaran hebat yang melanda permukiman padat penduduk di Kampung Pajagan, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Sabtu (27/6/2026) dini hari.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 00.30 WIB tersebut berdampak langsung pada lima unit rumah tinggal warga serta satu unit kendaraan roda dua.
Komandan Pos Damkar Wilayah I Palabuhanratu, Aceng Ismail, mengungkapkan bahwa titik api utama bukan berasal dari gangguan instalasi listrik di dalam rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malahan, api dipicu akibat adanya masalah teknis pada jaringan distribusi listrik luar yang posisinya sangat dekat dengan area rumah warga.
Berdasarkan hasil investigasi lapangan dan laporan tertulis tim Damkar, rambatan awal api mutlak bermula dari komponen luar permukiman.
"Dari gardu, dari gardu. Gak ada ledakan mah, cuma percikan aja, langsung ke rumah gitu, ke kabel rumah gitu," kata Aceng menjelaskan kronologi perambatan api saat dikonfirmasi detikJabar.
Aceng menambahkan, jarak antara gardu PLN tersebut dengan area tinggal warga memang sangat dekat. Kondisi inilah yang membuat lonjakan listrik memicu percikan hebat dari instalasi kabel pusat, yang kemudian langsung menyambar kabel KWH rumah warga.
Tim Pos I Palabuhanratu sendiri menerima laporan kebakaran dan langsung meluncur cepat ke lokasi sekitar pukul 00.52 WIB. Petugas langsung mengisolasi area dibantu oleh pihak PLN, Polsek Karangpapak, dan warga sekitar.
Akibat kejadian ini, total kerugian materil yang menimpa rumah-rumah milik Asmi, Pupun, Darna, Ajo, dan Yogi ditaksir mencapai kurang lebih Rp 450.000.000.
Beruntung, petugas mengonfirmasi nihilnya korban jiwa maupun luka-luka dalam petaka dini hari tersebut.
Sementara itu, Kepala Desa Cikahuripan, Heri Suryana, membeberkan bahwa seluruh korban yang tertimpa musibah ini merupakan masyarakat pesisir yang sehari-harinya menggantungkan hidup dari hasil laut.
"Profesi seluruh korban kebakaran adalah nelayan," ujar Heri saat dihubungi terpisah.
Heri juga merinci bahwa dampak kerusakan fisik bangunan di lapangan tidak semuanya rata dengan tanah. Dari lima bangunan yang terdampak, tiga unit di antaranya hangus terbakar tanpa sisa, sedangkan dua bangunan lainnya mengalami kerusakan pada bagian struktur atap.
"Lima rumah yang terdampak itu yang habis totalnya tiga rumah, yang dua rumah mah itu cuma atapnya saja. Yang tiga rumah mah habis semuanya," jelas Heri.
Sementara itu, Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq menyebutkan bahwa saat api pertama kali berkobar dari bagian atap, warga setempat sempat melakukan lokalisasi api secara swadaya menggunakan pasokan air dari saluran irigasi terdekat sebelum armada pemadam kebakaran tiba di lokasi. Api baru bisa dijinakkan sepenuhnya sekitar pukul 01.30 WIB.
Okih menjelaskan, sebagian besar perabot rumah tangga dan kebutuhan pokok para penyintas sama sekali tidak dapat diselamatkan.
"Langkah penanganan awal di lapangan, kami dan pemdes telah menyalurkan bantuan stimulan darurat berupa lima set kompor gas lengkap dengan regulator, tabung gas, penanak nasi, dan perlengkapan sanitasi. Kebutuhan konsumsi harian juga disokong penuh melalui penyediaan makanan siap saji dari pemerintah desa, sementara para korban kini diungsikan sementara ke rumah kerabat masing-masing," beber Okih.
Sementara untuk pemulihan jangka panjang, pihak kecamatan kini tengah berkoordinasi intensif dengan Dinas Sosial (Dinsos) serta BPBD Kabupaten Sukabumi untuk mengajukan bantuan logistik kedaruratan pangan, perlengkapan tidur, pakaian layak, serta kebutuhan asesmen teknis pascabencana.
(sya/sud)
