Cerita Warga Kertanegla Tasikmalaya Bertahan Hidup dari Air Masjid

Cerita Warga Kertanegla Tasikmalaya Bertahan Hidup dari Air Masjid

Deden Rahadian - detikJabar
Minggu, 28 Jun 2026 14:30 WIB
Warga Kabupaten Tasikmalaya antre mengambil air di masjid dampak kekeringan
Warga Kabupaten Tasikmalaya antre mengambil air di masjid dampak kekeringan (Foto: Deden Rahadian/detikJabar).
Tasikmalaya -

Pagi masih remang-remang di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya. Namun, halaman Masjid Jami Al Ihsan sudah tampak riuh pada Minggu (28/6). Puluhan jeriken dan galon berjejer rapi di sana. Ibu-ibu, bapak-bapak, hingga remaja tampak antre dengan sabar menanti giliran.

Mereka tengah berjuang mendapatkan air bersih dari penampungan masjid. Selama dua bulan terakhir, masjid kecil ini memang mengalami alih fungsi secara alami. Selain menjadi tempat ibadah, masjid tersebut kini menjadi satu-satunya tumpuan hidup bagi ratusan keluarga di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat.

"Air sumur sudah mulai kering dari akhir April. Dulu paling dalam 3 meter sudah keluar air. Sekarang digali 10 meter juga nggak ada. Jadi kami ambil air ke mesjid," cerita Dedeh Rohayati, warga Dusun Cipari, sambil menata jeriken miliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Musim kemarau baru berjalan dua bulan, namun dampaknya sudah sangat mencekik. Hampir 60 hari tanpa guyuran hujan deras membuat sumur-sumur warga mengering, tak lagi menyisakan setetes pun air untuk kebutuhan harian.

ADVERTISEMENT

"Sudah kering sumur di rumah, sumber air dari gunung masuknya ke mesjid. Maka kami antre tiap pagi sore ke mesjid ambil air," kata Yayah, warga lainnya yang ikut mengantre.

Kehadiran ratusan warga setiap hari tentu sempat membuat pengurus masjid dilema. Demi menjaga kesucian dan kelancaran ibadah, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) akhirnya menerapkan aturan, pengambilan air harus dihentikan 10 menit sebelum azan salat lima waktu berkumandang. Hal ini dilakukan agar jemaah tetap bisa mendapatkan air untuk berwudu.

"Ya sebetulnya mengganggu ambil air di mesjid, wudu juga nggak cukup, tapi gimana lagi kami izinkan untuk kebutuhan masyarakat. Tapi, sepuluh menit sebelum adzan jangan ambil air di mesjid, biar buat wudlu," ungkap Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar, kepada detikJabar.

Keputusan DKM akhirnya bulat untuk tetap membuka pintu masjid bagi warga. Alasannya sederhana namun mendesak, tidak ada lagi titik air lain yang bisa dijangkau warga tanpa harus merogoh kocek dalam untuk biaya transportasi belasan kilometer ke luar desa.

"Ya kami izinkan ini kan kebutuhan dasar kalau air.Insyaallah aktivitasibadahmah aman," tambahUun.

Warga Kabupaten Tasikmalaya antre mengambil air di masjid dampak kekeringanWarga Kabupaten Tasikmalaya antre mengambil air di masjid dampak kekeringan (Foto: Deden Rahadian/detikJabar).

Berdasarkan data Pemerintah Desa Kertanegla, tercatat sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan ini. Mereka terpaksa berjalan kaki memikul beban air setiap hari menuju Masjid Jami Al Ihsan, satu-satunya sumber air yang masih bertahan di tengah kemarau.

Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, menyebutkan bahwa krisis ini bukanlah fenomena baru. Setiap musim kemarau tiba, Dusun Cipari dan Cipatat selalu menjadi langganan krisis air bersih yang parah.

"Ada dua dusun yang terdampak kekeringan, yaitu Dusun Cipari dan Dusun Cipatat yang ditinggali 600 kepala keluarga. Sumber air satu-satunya disalurkan ke masjid. Warga mengantre di sini dan pengambilan air dibatasi," jelas Bunyamin.

Pihak Pemerintah Desa (Pemdes) mengaku sudah melapor ke Pemkab Tasikmalaya dengan harapan ada bantuan dropping air bersih dari BPBD. Namun, hingga penghujung Juni, bantuan tangki air yang dinanti-nanti belum juga tiba di lokasi.

Bagi warga, bantuan darurat memang sangat mendesak, namun mereka lebih mendambakan solusi jangka panjang agar penderitaan tahunan ini berakhir.

"Musim kemarau masih berlangsung dan sumber air di wilayah kami belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali mengalir. Kami butuh bantuan sekarang juga. Bantuanya yang pernanen misalnya dibangunkan sumur bor biar air warga terjaga," tegas Bunyamin.

Demi memastikan seluruh warga mendapatkan bagian, setiap keluarga kini dibatasi hanya boleh mengambil dua hingga tiga jeriken air per hari.

Selama langit Bojonggambir belum menumpahkan hujan, Masjid Jami Al Ihsan akan terus menjadi nadi kehidupan bagi warga Desa Kertanegla. Sebuah tempat untuk bersujud, sekaligus tempat untuk bertahan hidup.




(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads