Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan Jawa Barat mulai memasuki musim kemarau 2026. Hingga dasarian II Juni, hampir separuh wilayah zona musim di provinsi ini telah beralih ke musim kemarau dengan potensi kondisi yang lebih kering dari biasanya.
Plt Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Edi Wibowo, mengatakan sebanyak 20 dari 41 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 49 persen wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau. Sementara 20 ZOM lainnya masih berada pada musim hujan dan satu ZOM merupakan wilayah dengan pola satu musim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sampaikan, berdasarkan update perkembangan musim, sebanyak 20 ZOM sudah memasuki musim kemarau. Sementara itu, untuk 20 ZOM lainnya masih musim hujan dengan satu ZOM merupakan tipe satu musim," kata Edi, Senin (29/6/2026).
Berdasarkan pemantauan BMKG, sejumlah wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, hingga Kabupaten Cirebon, baik di seluruh maupun sebagian besar wilayahnya.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Jawa Barat akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Pada periode tersebut, curah hujan diprediksi berada pada kategori rendah dengan intensitas hujan yang lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.
"Curah hujan dengan kategori rendah diprediksi akan mendominasi wilayah Jawa Barat," ujarnya.
Pada Juli 2026, sekitar 99,8 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan mengalami curah hujan kategori rendah, sedangkan hanya 0,2 persen wilayah yang masih berada pada kategori menengah. Kondisi itu diprediksi semakin meluas pada Agustus hingga September ketika seluruh wilayah Jawa Barat diprakirakan mengalami curah hujan rendah.
"Pada bulan Juli hingga September 2026, seluruh wilayah Jawa Barat diprediksi akan mengalami hujan yang bersifat bawah normal," ungkap Edi.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau seluruh pihak segera melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi ancaman kekeringan, terlebih musim kemarau tahun ini diperkirakan dipengaruhi fenomena El Nino.
Edi menilai upaya antisipasi perlu dilakukan sejak dini, mulai dari pengelolaan penggunaan air secara bijak hingga percepatan pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih yang melibatkan pemerintah, lembaga terkait, maupun sektor swasta.
"Langkah mitigasi dapat berupa percepatan pembangunan jaringan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau. Dengan dukungan dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan," imbaunya.
Menurut Edi, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mengurangi dampak kemarau terhadap masyarakat, sektor pertanian, maupun lingkungan.
"Ya langkah tersebut penting untuk meminimalkan risiko kekeringan, menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat, menjaga ketahanan pangan, serta memperkuat pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan," katanya.
"Dan upaya mitigasi musim kemarau 2026 kami harapkan dapat berjalan dengan lebih efektif," lanjut Edi.
Simak Video "Video: Siap-siap! Awal Musim Kemarau di Indonesia Dimulai Juli"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
