Awal Mula Terciptanya Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' Bupati Purwakarta

Awal Mula Terciptanya Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' Bupati Purwakarta

Dian Firmansyah - detikJabar
Kamis, 02 Jul 2026 13:28 WIB
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein (Foto: Dian Firmansyah/detikJabar)
Purwakarta -

Lagu berjudul 'Lalaki Langit Lalanang Bejat' ciptaan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein kian menjadi sorotan, mulai dari politikus, lembaga hukum hingga aktivis perempuan mengecam lirik lagu yang dinilai seksis terhadap kaum perempuan.

Om Zein sapaan akrab Bupati Purwakarta pun sudah menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan ketersinggungan pihak lain terkait lirik lagu itu. Ia memastikan tidak ada maksud untuk merendahkan atau melakukan pelecehan seksual secara verbal.

"Pertama-tama saya secara pribadi memohon maaf kepada seluruh masyarakat atas ketidaknyamanan ini, dan mohon maaf jika kata-kata dalam lagu itu membuat beberapa pihak ada yang tersinggung. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun dan tidak mendeskripsikan siapa pun," ujar om Zein Binzein ditemui di Lapangan Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, saat melakukan gempungan, Kamis (02/07/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bupati menjelaskan, lahirnya lirik lagu itu terjadi pada tahun 2020 saat ia masih menganggap dirinya nakal. Namun ia bersyukur menjadi seorang laki-laki yang tidak terjebak kenakalan remaja lebih dalam. Menurutnya, puisi itu merupakan refleksi perjalanan hidup dan perjalanan spiritual pribadinya saat masih menjadi seorang pengembara.

"Itu berawal dari sebuah puisi yang saya buat pada tahun 2020. Saat itu dibuat oleh seorang Om Zein yang masih seorang pengembara, bukan oleh Om Zein sebagai bupati, karena tahun 2020 saya belum menjadi bupati," katanya.

ADVERTISEMENT

Masih kata Om Zein, setiap orang memiliki perjalanan spiritual, kisah hidup, hingga pengalaman cinta yang berbeda-beda. Begitu pula dengan dirinya yang mengaku pernah berada dalam fase kehidupan yang menurutnya "berandalan" atau nakal.

"Dulu saya merasa dalam kategori berandalan atau nakal. Saya kemudian merenung dan berpikir, ya Tuhan, untung saya diciptakan menjadi laki-laki. Kalau menjadi perempuan bagaimana jadinya saya. Itulah yang ingin saya ungkapkan. Saat itu saja sebagai laki-laki rambut saya panjang, apalagi kalau menjadi perempuan. Hal-hal itulah yang kemudian tertuang dalam lirik lagu," ungkapnya.

Puisi itu kerap ia bacakan dalam berbagai kesempatan. Hingga pada 2023, seorang seniman datang kepadanya dan meminta izin untuk mengaransemen puisi tersebut menjadi sebuah lagu.

"Puisi itu sering saya bacakan. Tahun 2023, saat saya juga masih belum menjadi bupati, ada seorang seniman datang dan meminta agar puisi itu diaransemen menjadi lagu. Bagi saya tidak ada masalah, akhirnya dibuatlah menjadi lagu," katanya.

Om Zein juga menegaskan tidak menggunakan fasilitas negara ataupun Aparatur Negara (ASN) saat memproduksi lagu ciptaannya. Karena lagi diciptakan pada tahun 2020 dan di rilis tahun 2023, tahun itu ia belum menjadi seorang Bupati.

"Enggak ada. Video itu juga ditayangkan di akun pribadi, baik TikTok pribadi, Instagram pribadi maupun YouTube pribadi," imbuhnya.

Terkait adanya somasi maupun tuntutan agar lagu tersebut ditarik dari peredaran, Binzein mengaku belum mengambil keputusan. Ia menegaskan akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan kuasa hukumnya sebelum menentukan langkah selanjutnya.

"Untuk kata-kata yang dianggap kontroversial saya sudah meminta maaf. Kalau untuk somasi, karena ini kaitannya dengan aspek hukum, saya harus konsultasi dulu dengan lawyer saya. Apakah nanti akan di-takedown atau seperti apa. Karena sampai saat ini juga belum ada pelarangan terhadap lagu itu," pungkasnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads