Wajah Muram Pusat Kota Tasik, Trotoar Bolong Setahun-Lampu Merah Mati

Wajah Muram Pusat Kota Tasik, Trotoar Bolong Setahun-Lampu Merah Mati

Faizal Amiruddin - detikJabar
Jumat, 03 Jul 2026 17:30 WIB
Kondisi trotoar jebol di Jalan Empang Kota Tasikmalaya.
Kondisi trotoar jebol di Jalan Empang Kota Tasikmalaya. (Foto: Faizal Amiruddin)
Tasikmalaya -

Wajah pusat Kota Tasikmalaya kini tampak muram dan semrawut. Dua fasilitas publik vital di jantung kota dibiarkan rusak tanpa penanganan cepat, memicu keluhan dari warga hingga muncul sindiran pedas dari warga yang menyebut kota ini sedang berjalan dengan mode 'autopilot'.

Dua titik utama yang menjadi sorotan adalah lubang raksasa di trotoar Jalan Empang, sekitar kawasan kuliner Pasar Mambo yang sudah telantar hampir setahun, serta matinya lampu lalu lintas di Simpang Empat Masjid Agung yang membuat arus kendaraan terganggu.

Di tengah ramainya denyut nadi ekonomi Pasar Mambo, sebuah lubang besar sedalam lebih dari satu meter dan lebar tiga meter menganga di jalur trotoar Jalan Empang, Kelurahan Yudanegara, Kecamatan Cihideung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kerusakan yang disebabkan oleh amblesnya saluran irigasi di bawah trotoar ini, sudah terjadi sejak Oktober 2025 dan belum juga disentuh perbaikan hingga Juli 2026.

ADVERTISEMENT

Kondisi ini bukan lagi sekadar merusak estetika kota, melainkan sudah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pejalan kaki dan pedagang di kawasan tersebut.

"Hampir setahun dibiarkan, belum ada perbaikan. Padahal sudah ada yang datang buat ngukur, foto bahkan sampai turun ke bawah," kata seorang pedagang saat ditemui di lokasi, Jumat (3/7/2026).

Warga sekitar sebenarnya sempat bergotong royong memperbaiki kerusakan ringan di sekitarnya. Namun untuk lubang raksasa ini, warga angkat tangan karena keterbatasan kemampuan dan kewenangan.

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya, Hery Nugraha mengatakan perbaikan trotoar Pasar Mambo sebenarnya masuk skala prioritas. Rencana penanganan sudah siap, namun realisasinya terkendala masalah dana.

"Perkembangannya masih menunggu kesiapan anggaran. Anggaran yang dibutuhkan untuk memperbaiki trotoar tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp400 juta," ujar Hery.

Sedikit bergeser dari Jalan Empang, keluhan warga juga muncul di Simpang Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Lampu lalu lintas di salah satu persimpangan tersibuk jantung Kota Tasikmalaya ini mati total. Kondisi ini memaksa para pengendara bertaruh kesabaran dan saling serobot untuk bisa melintas.

Traffic light mati di Simpang Empat Masjid Agung Kota Tasikmalaya.Traffic light mati di Simpang Empat Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Foto: Faizal Amiruddin

"Kalau sedang ramai memang cukup semrawut. Pengendara harus lebih cermat mencari celah dan saling mengalah supaya tidak terjadi kecelakaan," kata Jaenal Abidin (32), salah seorang pengendara motor, Jumat (3/7/2026).

Arus lalu lintas tanpa stopan ini juga dikeluhkan pejalan kaki, karena menyulitkan saat menyeberang jalan.

"Jadi agak susah kalau menyeberang, soalnya kendaraan yang dari arah Jalan Dokter Soekardjo nggak ada stopan," kata Adung, salah seorang pedagang asongan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Tasikmalaya, Iwan Kurniawan menjelaskan bahwa mati totalnya fasilitas tersebut disebabkan oleh kerusakan pada komponen vital, yaitu modul CPU dan perangkat remote pairing. "Saat ini sedang kami coba perbaiki di Bandung. Belum tentu kapan rampung, karena saat ini masih dalam proses pengerjaan," kata Iwan.

Selama proses perbaikan yang tidak pasti kapan selesainya ini, Dishub mengimbau para pengguna jalan untuk ekstra hati-hati, mengurangi kecepatan, dan mengutamakan keselamatan saat melintasi persimpangan tersebut.

Kerusakan dua fasilitas publik ini disesalkan sejumlah warga, salah satunya Zaydan, mahasiswa Universitas Siliwangi Tasikmalaya. "Kota Tasikmalaya seperti sedang dalam mode 'autopilot', tanpa pemimpin. Selain kerusakan fasilitas, urusan sampah juga kan nggak kunjung beres," kata Zaydan.

Dia mengatakan alasan keterbatasan anggaran tidak bisa diterima. Menurut dia yang jadi persoalan adalah prioritas alokasi anggaran.

"Iya kita tahu negara sedang efisiensi, itu artinya bukan tidak ada anggaran. Tapi mendahulukan kebutuhan yang dianggap penting. Nah yang jadi pertanyaan, kebutuhan publik ini jadi prioritas atau tidak?," kata Zaydan.

Halaman 2 dari 2
(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads