Beragam peristiwa terjadi di wilayah Priangan dan sekitarnya dalam sepekan, mulai dari oknum pimpinan pondok pesantren di Garut jadi tersangka, seorang warga Tasikmalaya tewas dalam insiden kebakaran, hingga Kades di Ciamis tutup jembatan penghubung kabupaten.
Berikut rangkumannya:
Pimpinan Ponpes yang Cabuli Santriwati di Garut Jadi Tersangka
Jajaran Polres Garut akhirnya melakukan penahanan terhadap AN, seorang oknum pimpinan pondok pesantren yang diduga melakukan tindakan pencabulan terhadap salah seorang santriwati. AN ditahan usai lebih dari sebulan dilakukan penyelidikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penahanan pria berumur 45 tahun itu dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Garut AKP Herman Saputra. Herman menjelaskan, AN telah menjalani masa penahanan dalam beberapa hari terakhir.
"Sudah kami tetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan," kata Herman, Selasa (30/6).
Aksi dugaan pencabulan yang menyeret nama AN menghebohkan warga Garut pada pertengahan Mei 2026 lalu. Saat itu, warga di lingkungan ponpes yang mengetahui kabar dugaan pencabulan itu dari korban geram dan menggeruduk rumah pelaku.
Saat itu, personel Polsek Samarang sebagai penanggung jawab wilayah kemudian mengamankan AN ke kantor polisi atas dasar situasi yang tidak kondusif. Sementara kasusnya saat itu baru saja dilaporkan ke polisi pada siang hari sebelum aksi penggerudukan rumah pelaku pada malam hari.
Penanganan kasus ini memakan waktu hingga lebih dari satu bulan. Di awal bulan Juni 2026 lalu, massa bahkan menuntut Polres Garut untuk membebaskan AN karena AN dianggap hanyalah korban fitnah.
Namun, penyelidikan diteruskan. Setelah mengantongi alat bukti, Polres Garut akhirnya menetapkan AN sebagai tersangka belum lama ini. Selain ditetapkan sebagai tersangka, AN juga kini ditahan polisi.
"Dilakukan penahanan di Rutan Mako Polres Garut," ungkap Herman.
1 Orang Tewas dalam Insiden Kebakaran di Tasikmalaya
Kebakaran hebat melanda permukiman warga di Kampung Bojongneros, Desa Nusawangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis dini hari (2/7).
Peristiwa tersebut menghanguskan tiga rumah warga, sementara dua rumah lainnya terdampak. Seorang warga bernama Nasir meninggal dunia. Korban diduga mengalami sesak napas dan memiliki riwayat penyakit jantung.
Laporan kebakaran pertama diterima Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Tasikmalaya dari Ketua RT setempat, Uminar. Petugas Regu 2 yang dipimpin Aam Gunawan kemudian langsung menuju lokasi untuk melakukan penanganan.
"Benar ada laporan ke kantor. Kami langsung bergerak tangani," kata Komandan Regu Damkar Kabupaten Tasikmalaya, Aam Gunawan, saat dikonfirmasi detikJabar, Kamis (2/7).
Berdasarkan data Damkar, api pertama kali muncul dari atap rumah milik Abdul Halim. Material bangunan yang mudah terbakar serta kondisi udara yang kering membuat api dengan cepat membesar dan merambat ke rumah di sekitarnya.
Api kemudian menjalar ke rumah milik Ruhimat dan Rojak. Selain itu, dua rumah lainnya milik Uminar dan Ahmad turut terdampak dengan kerusakan pada bagian atap.
"Ada tiga rumah yang terbakar. Dugaannya akibat korsleting arus pendek listrik dari salah satu rumah," ujar Aam.
Untuk memadamkan api, Damkar Kabupaten Tasikmalaya mengerahkan empat unit mobil pemadam serta satu unit bantuan dari Damkar Kota Tasikmalaya.
Petugas sempat mengalami kendala saat proses pemadaman karena akses menuju lokasi cukup sempit. Selain itu, hanya satu unit kendaraan pemadam yang dapat menyedot air.
"Akses jalan kecil dan kendaraan Damkar yang bisa menyedot air hanya satu unit," demikian keterangan dalam laporan Damkar.
Akibat kejadian tersebut, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp500 juta.
Masyarakat diimbau segera melaporkan apabila terjadi kebakaran melalui Call Center Damkar Kabupaten Tasikmalaya di nomor 0265-548113 atau 0811-2355-113.
"Kerugian ditaksir mencapai Rp500 juta," pungkas Aam.
Jembatan di Ciamis Ditutup
Jembatan Gantung Sukamenak yang menghubungkan Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis dengan Desa Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, menyita perhatian. Sebab, bibir jembatan ditutup oleh Kepala Desa Wanasigra dengan rumpun bambu sejak selama enam hari.
Sejak selesai dibangun tahun 2024, jembatan gantung yang dibangun pemerintah pusat dengan anggaran sekitar Rp 5 miliar itu memang belum dapat dimanfaatkan masyarakat. Hal ini karena belum adanya akses jalan menuju jembatan di wilayah Kota Tasikmalaya. Sedangkan di wilayah Ciamis, sepeda motor pun sudah bisa sampai ke bibir jembatan gantung.
Suasana jembatan cukup sepi, beberapa jam di lokasi hanya ada warga yang melakukan aktivitas memancing dengan memarkirkan motor di bibir jembatan.
Maman Suherman, salah seorang warga Desa Wanasigra, membenarkan kondisi jembatan masih ditutup. Menurutnya, sejak selesai dibangun hingga sekarang jembatan hanya dapat dilalui oleh pejalan kaki. Ia sendiri menyambut baik adanya jembatan tersebut.
"Dari Tasik belum ada akses, hanya ada jalan setapak, hanya bisa dilewati pejalan kaki," ujar Maman saat ditemui di lokasi, Kamis (2/7).
Maman yang merupakan salah satu warga yang lahannya dihibahkan menjelaskan, bersedia merelakan lahannya untuk dibangun jembatan karena mendapat informasi awal bahwa dari wilayah Tasikmalaya pun lahan warganya dihibahkan untuk akses jalan. Ia pun berpikir akses jembatan itu nantinya dapat dimanfaatkan oleh anak cucunya di masa depan.
"Tapi kemarin mendengar dari warga di Tasikmalaya ada penggantian. Padahal awalnya swadaya (hibah), saya selaku pribadi niatnya ibadah sudah swadaya. Yang jadi pertanyaan di sini swadaya tapi di Tasikmalaya ada penggantian," ungkap Maman.
Sejak awal, pembangunan jembatan gantung ini berasal dari pengajuan di wilayah pemerintahan Tasikmalaya. Pihak Tasikmalaya pun datang menemui Maman dan meminta izin untuk membangun jembatan di lahannya tapi tidak ada penggantian. Terjadi komunikasi dan Maman pun menyetujui pembangunan jembatan.
"Bagi saya ini kan sudah swadaya, moal ciduh diletak deui (tidak akan menjilat ludah sendiri), tapi kalau di sini swadaya, di sana juga swadaya. Ini ditutup sama Pak Kuwu," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Wanasigra Yudi Wahyudi mengatakan penutupan jembatan gantung itu dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Hingga saat ini, dari pihak Tasikmalaya belum ada penjelasan secara resmi terkait kesepakatan awal yang menyebutkan lahan untuk akses jalan dihibahkan oleh warga kedua wilayah.
"Persoalannya, kenapa jembatan ini dibangun terlebih dulu ketika akses belum ada. Kemudian kaitan dengan lahan akses jalan, merasa dibohongi, ada pengkhianatan cinta. Ini aksi kekecewaan saja. Kalau andaikan di awal pembangunan dulu ada pembebasan lahan, tentunya berbeda lagi (prosesnya)," jelasnya.
Dibuka Usai Didatangi KDM
Pada Sabtu (4/7/2026), Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung ke lokasi. Dalam kunjungan itu, Dedi sekaligus membuka kembali akses jembatan yang sebelumnya ditutup.
Pantauan di lokasi pada Minggu (5/7/2026), bambu yang semula menutup bibir jembatan sudah tidak terlihat lagi. Jembatan gantung itu pun kembali bisa digunakan warga untuk melintas. Sejumlah warga tampak mendatangi lokasi, ada yang sekadar melihat kondisi jembatan, jogging, hingga berfoto di sekitar area tersebut.
Kepala Desa Wanasigra Yudi Wahyudi membenarkan jembatan yang sempat ia tutup kini telah dibuka kembali oleh Gubernur Jawa Barat.
"Betul, kemarin Pak Dedi Mulyadi datang langsung ke lokasi dan jembatannya dibuka," ujar Yudi.
Yudi mengatakan, dalam pertemuan di lokasi, ia sempat menjelaskan alasan penutupan jembatan kepada Dedi Mulyadi. Menurutnya, penutupan itu dilakukan karena ada persoalan yang belum tuntas terkait akses menuju jembatan.
"Tadi kami sempat menjelaskan kenapa jembatan itu ditutup. Pak Dedi meminta dari pihak desa untuk membuka dulu aksesnya. Nanti persoalan ini rencananya akan dimediasi oleh Pak Dedi antara pihak Tasikmalaya dan pihak Wanasigra," katanya.
Dengan dibukanya kembali jembatan tersebut, akses masyarakat kini sudah kembali normal. Warga dari dua wilayah yang sebelumnya terdampak penutupan kini bisa kembali melintas menggunakan jembatan gantung tersebut.
"Sudah bisa dilalui lagi," ucap Yudi.
Meski demikian, Yudi menegaskan persoalan yang menjadi latar belakang penutupan jembatan belum sepenuhnya selesai. Pihak desa, kata dia, masih menunggu tindak lanjut dan arahan dari Gubernur Jawa Barat terkait rencana mediasi tersebut.
"Untuk sementara kami menunggu hasil mediasi nanti seperti apa. Kami menunggu arahan dari Pak Dedi Mulyadi untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkaitan dengan persoalan ini," jelasnya.
Yudi berharap, setelah jembatan kembali dibuka, persoalan yang selama ini memicu polemik bisa diselesaikan dengan baik. Ia ingin ada jalan keluar yang adil bagi semua pihak, terutama warga yang selama ini memanfaatkan jembatan sebagai akses penghubung antarwilayah.
"Harapan kami tentu semuanya bisa baik-baik saja. Mudah-mudahan ada solusi terbaik setelah dimediasi nanti," pungkasnya.
(orb/orb)
