Bukan Introvert, Ini Alasan Ilmiah Orang Betah di Rumah

Kabar Internasional

Bukan Introvert, Ini Alasan Ilmiah Orang Betah di Rumah

Suci Risanti Rahmadania - detikJabar
Senin, 06 Jul 2026 06:00 WIB
Young attractive beautiful asia female girl or university student sit smile look outside window put arm hand back behind head at sofa couch living room feeling relax comfort at cozy home houseplant.
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/ChayTee)
Jakarta -

Bagi sebagian orang, rumah hanyalah tempat untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Namun, bagi yang lain, rumah adalah tempat paling nyaman di dunia. Mereka lebih memilih menghabiskan akhir pekan di rumah, membaca buku, menonton film, memasak, atau sekadar menikmati suasana tenang daripada bepergian ke luar.

Fenomena ini sering kali dikaitkan dengan kepribadian introvert. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rasa betah di rumah tidak semata-mata ditentukan oleh karakter seseorang.

Melansir detikHealth, sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology pada 2024 menemukan bahwa keterikatan emosional terhadap rumah lebih banyak dibentuk oleh pengalaman yang dirasakan seseorang saat berada di dalamnya. Dengan kata lain, bukan sekadar bentuk atau ukuran rumah yang membuat seseorang betah, melainkan perasaan yang muncul ketika ia pulang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rumah Menjadi Tempat untuk 'Mengisi Ulang' Emosi

Penelitian berjudul Predicting Home Attachment Through Its Psychological Costs and Benefits yang dipimpin Benjamin R. Meagher dari Departemen Psikologi Hope College mencoba menjawab pertanyaan sederhana: mengapa seseorang bisa memiliki ikatan emosional yang begitu kuat dengan rumahnya?

ADVERTISEMENT

Untuk mencari jawabannya, para peneliti melibatkan lebih dari 650 responden dalam dua studi terpisah. Mereka ingin mengetahui manfaat psikologis apa yang diberikan rumah, sekaligus faktor-faktor yang membuat seseorang merasa benar-benar terikat dengan tempat tinggalnya.

Pada studi pertama, peserta diminta menceritakan pengalaman mereka tentang rumah menggunakan kata-kata mereka sendiri.

Hasilnya menunjukkan pola yang sangat jelas. Sebanyak 86,7 persen responden menggambarkan rumah sebagai tempat untuk memulihkan diri setelah menjalani tekanan dan kesibukan sehari-hari. Rumah menjadi ruang untuk "mengisi ulang baterai" secara mental maupun emosional.

Selain fungsi tersebut, banyak responden juga menyebut rasa aman, privasi, suasana yang menenangkan, serta kebebasan melakukan berbagai aktivitas sebagai alasan utama mengapa mereka merasa nyaman berada di rumah.

Temuan ini menunjukkan bahwa rumah bukan sekadar bangunan tempat tinggal, tetapi juga ruang yang membantu seseorang mengembalikan energi psikologisnya.

Yang Membuat Betah Ternyata Bukan Ukuran Rumah

Banyak orang beranggapan rumah yang luas atau mewah otomatis membuat penghuninya lebih bahagia. Namun, penelitian ini justru menunjukkan hasil yang berbeda.

Pada studi kedua, peserta diminta menilai berbagai aspek rumah yang mereka tempati, mulai dari kondisi fisik hingga pengalaman emosional yang mereka rasakan setiap hari.

Hasilnya menunjukkan bahwa rasa betah paling kuat dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu kemampuan rumah membantu pemulihan emosional, hubungan sosial yang positif dengan penghuni lainnya, serta tersedianya ruang pribadi yang memadai.

Ketiga faktor tersebut sama-sama memberikan kontribusi terhadap munculnya rasa memiliki dan keterikatan terhadap rumah.

Sebaliknya, responden yang sering mengalami konflik dengan anggota keluarga, merasa kekurangan privasi, tinggal di ruang yang sempit, atau terus-menerus mengkhawatirkan kondisi rumah cenderung memiliki ikatan emosional yang jauh lebih rendah.

Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal

Menurut para peneliti, seseorang tidak mencintai rumah hanya karena sudah lama tinggal di sana. Yang jauh lebih penting adalah apakah rumah mampu memenuhi kebutuhan emosional, sosial, dan fisiknya.

Rumah yang menghadirkan rasa aman, hubungan keluarga yang hangat, suasana tenang, serta ruang untuk beristirahat tanpa gangguan akan lebih mudah menjadi tempat yang selalu dirindukan.

Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian orang memilih langsung pulang setelah bekerja daripada mencari hiburan di luar. Bagi mereka, rumah bukan sekadar tujuan akhir, melainkan tempat terbaik untuk memulihkan pikiran setelah menghadapi berbagai tuntutan kehidupan.

Pada akhirnya, para peneliti menyimpulkan bahwa faktor yang paling menentukan seseorang merasa betah di rumah bukanlah luas bangunan, desain interior, atau kemewahan fasilitasnya. Faktor terkuat justru adalah pengalaman psikologis yang dirasakan setiap kali pulang-perasaan tenang, aman, dan kembali segar setelah berada di rumah.

Mungkin itulah alasan mengapa bagi sebagian orang, kalimat "tidak ada tempat sebaik rumah" bukan sekadar ungkapan, melainkan sesuatu yang benar-benar mereka rasakan.

Artikel ini sudah tayang di detikHealth




(suc/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads