Kisah 'Wakil Rakyat' Rp 5 Ribu di Samping Gedung Dewan Kota Bogor

Serba-serbi Warga

Kisah 'Wakil Rakyat' Rp 5 Ribu di Samping Gedung Dewan Kota Bogor

Andry Haryanto - detikJabar
Rabu, 20 Mei 2026 11:00 WIB
Pangkas Rambut Pemuda di Kota Bogor.
Pangkas Rambut Pemuda di Kota Bogor. (Foto: Andry Haryanto/detikJabar)
Bogor -

Supri (56) dan Saiful (51) bukan wakil rakyat. Mereka tidak duduk di ruang sidang DPRD Kota Bogor, tak pula perlu menggelar reses untuk mengetahui kebutuhan warga atau memasang baliho penuh janji saat musim politik tiba.

Namun dari gang sempit di samping gedung dewan itu, keduanya justru menghadirkan sesuatu yang sederhana tetapi terasa dekat dengan rakyat: membuat orang pulang dengan senyum tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mencukur rambut, Rp 5 ribu per kepala.

Kakak-adik asal Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, itu mempertahankan tarif tersebut hampir empat dasawarsa di tengah harga kebutuhan hidup yang terus merangkak naik. Dengan gunting, sisir, dan kursi sederhana, Supri dan Saiful menjaga sesuatu yang perlahan makin langka di kota, yakni konsistensi memahami kemampuan kantong warga kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Cukur di sini Insyaallah dapat pahala. Lah gimana enggak dapat pahala, yang mau cukur kudu bisa sabar nunggu antrean saking banyaknya," kelakar Supri saat ditemui detikJabar, Selasa (21/5/2026) sore.

ADVERTISEMENT

Adalah Lord Supri, begitu orang biasa memanggilnya, yang menggawangi tarif murah tersebut. Sejak 1988 ia merantau ke Kota Hujan. Kala itu dia beradu nasib di area yang kini menjadi Stasiun Bogor.

"Waktu itu tarifnya Rp 500 pas beras biasa harga Rp 200 perak dan beras premium Rp 400 perak," kisah Supri.

Namun, ia hanya bertahan setahun karena tergusur pembangunan stasiun kereta yang terhubung dengan Jakarta. Supri kemudian berpindah-pindah lokasi demi mempertahankan nafkah dari keterampilan mencukur rambut. Sampai akhirnya menetap di samping gedung tempat wakil rakyat bekerja.

Di tengah himpitan harga kebutuhan pokok menjelang krisis 1998, Supri sempat menaikkan tarif menjadi Rp 2 ribu hingga Rp 4 ribu. Memasuki awal 2000-an, sang adik mulai bergabung dan tarif dipatok Rp 5 ribu per kepala hingga hari ini.

Gang Sempit Penuh Kehangatan

Adalah Pangkas Rambut Pemuda yang berlokasi di Jalan Pemuda, tepat di samping gedung DPRD Kota Bogor.

Jangan pernah membayangkan tempat pangkas rambut ini sekelas barbershop (orang bilang) kalcer kekinian. Tidak ada aroma terapi, alunan swing atau fusion jazz, pendingin ruangan, interior pemanja mata, senyum resepsionis, ataupun kopi racikan coffee maker untuk menemani antrean.

Pangkas Rambut Pemuda berada di sebuah gang sempit selebar sekitar 2,5 meter. Atapnya asbes tua yang tidak rata, beberapa bahkan tampak bolong. Lampu neon temaram menuntun para 'pasien' masuk ke lorong tersebut.

Dari mulut rumah tua yang kusam, sayup terdengar lagu Sore Tugu Pancoran milik Iwan Fals. Selain Iwan, lagu Ebiet G Ade dan Broery Marantika silih berganti diputar menemani suara gunting dan mesin cukur. Poster besar hitam putih Soeharto dengan bertopi bintang satu terpampang di dinding gang.

"Kalau bocor semuanya berdiri nutupin bocor dan kami sudah siap sepatu boot," kelakar Supri.

Meski sesak di ruang terbatas, kelakar dan obrolan ngalor-ngidul justru menghadirkan kemeriahan yang sulit ditemukan di tempat pangkas mahal. Rimbun pohon kenari di sepanjang Jalan Pemuda membuat angin sore menyusup ke dalam gang tempat para pelanggan duduk menunggu giliran.

Tidak ada nomor antrean. Semua berjalan berdasarkan kesadaran siapa yang datang lebih dulu, merekalah yang maju ke kursi cukur.

"Kalau ditanya berapa total yang cukur harian, jawaban saya, ngeri..." ujar Supri.

Ia mengaku tidak pernah menghitung pasti jumlah pelanggan ataupun penghasilan harian. "Pokoknya ngeri-lah," katanya terbahak, disambut tawa Ipul, sapaan akrab Saiful, yang bertugas di sebelahnya.

Pangkas Rambut Pemuda buka pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Saya datang sekitar 10 menit sebelum azan Ashar berkumandang. Antrean tak pernah benar-benar berhenti. Ada anak-anak yang digandeng orang tuanya, pelajar, pemuda, hingga lelaki paruh baya.

Supri dan Ipul nyaris tanpa jeda melayani pelanggan yang terus bergantian duduk di kursi cukur. Sampai pukul lima mereka masih terus memangkas rambut pelangganya.

"Yang stres itu bukan orangnya, tapi mesinnya," ujar Supri sambil tersenyum dan mendongakkan kepala.

Ornamen gang tempat 'operasi' Supri dan Ipul pun terbilang unik. Tidak ada poster Top Collection model rambut seperti di tempat pangkas modern. Namun, keduanya tetap melayani berbagai gaya rambut sesuai permintaan pelanggan. Caranya sederhana, cukup tunjukkan model dari telepon genggam, lalu mereka siap mengeksekusinya.

Bukan Sembarang Pelanggan

Pelanggan Pangkas Rambut Pemuda bukan hanya warga sekitar Jalan Pemuda. Banyak yang datang dari kawasan lain di Kota Bogor demi mempertahankan tradisi sederhana yang sulit ditemukan di tengah menjamurnya barbershop modern.

Friska (33), misalnya. Warga Balumbang Jaya itu rela datang cukup jauh bersama dua anaknya. Baginya, alasan datang ke Pangkas Rambut Pemuda bukan semata perkara murah, tetapi juga soal kecocokan yang terbangun selama bertahun-tahun.

"Karena murah, terjangkau. Anak juga banyak. Terus sudah cocok di sini," ujar Friska.

Ia mengaku sudah hampir sembilan tahun menjadi pelanggan tetap. Bahkan sejak anaknya masih kecil. Meski antrean sering mengular dan membuat pengunjung harus menunggu lama, Friska justru menganggap suasana itu sebagai bagian dari pengalaman menyenangkan.

"Ya antreannya. Tapi malah bikin seru. Jadi walaupun nunggu, dinikmati saja," katanya sambil tersenyum.

Cerita serupa datang dari Putra (29). Pria yang sudah mencukur rambut di sana sejak masa SMA pada 2014 itu mengatakan tarif murah bukan satu-satunya alasan dirinya bertahan. Menurut dia, kecepatan tangan Supri dan Saiful menjadi kelebihan yang sulit ditemukan di tempat lain.

"Paling lima menit juga beres," ujar Putra.

Dengan ongkos Rp 5 ribu, pelanggan tetap bisa memilih berbagai model rambut. Dari gaya cepak anak sekolah hingga potongan mengikuti tren terkini. Putra mengaku cukup menunjukkan contoh model dari telepon genggam, lalu Supri atau Saiful akan menirunya tanpa banyak bicara.

"Bisa milih model apa saja, tapi harganya tetap segitu," ucapnya.

Sementara itu, Heni (38) bahkan rela datang dari Ciluar demi memangkas rambut anaknya di tempat tersebut. Padahal di sekitar rumahnya juga tersedia jasa pangkas rambut. Namun baginya, selisih harga tetap berarti untuk pengeluaran rumah tangga sehari-hari.

"Kalau di sana sekitar Rp 12 ribu. Di sini Rp 5 ribu per kepala," kata Heni.

"Ada anggota dewan yang pangkas di sini?," tanya saya.

"Ah, kalau itu jangan ditanya. Ngeri pokoknya," seloroh Supri disambut tawa Ipul. "Tahu sama tahu aja," katanya lagi sambil terkekeh.

Lantas, apa yang membuat kakak-adik ini bertahan dengan tarif Rp 5 ribu di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat?

Jawaban sederhana keluar dari mulut Supri.

"Sudah males dengan gaya hidup. Apa yang didapat itu yang disyukuri," ujar pria berambut mullet tersebut.

Namun, Ipul memiliki pengalaman yang membuat dirinya merinding sekaligus menguatkan komitmen mereka untuk tidak menaikkan harga.

Suatu hari, seorang satpam kantor datang untuk mencukur rambut atas perintah atasannya. Sang atasan memberinya uang Rp 25 ribu untuk ongkos pangkas rambut. Karena baru pertama kali datang, satpam itu bertanya berapa biaya cukur. Iseng, mereka menjawab Rp 25 ribu, pas seperti uang yang diberikan atasannya.

Usai rambut dirapikan, Ipul kemudian berkata bahwa dari Rp 25 ribu itu sebenarnya ada 'subsidi' Rp 20 ribu. Candaan sederhana untuk menghibur pelanggan.

Namun respons si satpam membuat keduanya terdiam.

"Dia langsung bilang, 'Alhamdulillah ada sisa buat beli beras di rumah'," ujar Ipul.

Kalimat sederhana itu terus diingat Ipul. Bukan soal nominalnya, melainkan tentang bagaimana ongkos cukur ternyata bisa menentukan ada atau tidaknya beras yang dibawa pulang seseorang malam itu.

Di tengah kota yang terus bergerak cepat dan makin mahal, Pangkas Rambut Pemuda menjadi ruang kecil yang menjaga hal sederhana: tempat di mana orang masih bisa mendapatkan layanan layak tanpa harus khawatir isi dompet terkuras, dan tempat di mana rasa saling berbagi masih dipertahankan.

"Seganas-ganasnya harimau, tapi kalau dapat tangkapan berburu dia masih berbagi. Masa kita manusia tidak mau berbagi?," Supri tersenyum menutup obrolan sore itu.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads