Cerita Desa Ciawigajah Cirebon Sulap Sampah Jadi Pakan Ternak

Cerita Desa Ciawigajah Cirebon Sulap Sampah Jadi Pakan Ternak

Devteo Mahardika - detikJabar
Kamis, 04 Jun 2026 16:30 WIB
Proses pengolahan sampah di TPS 3R Desa Ciawigajah
Proses pengolahan sampah di TPS 3R Desa Ciawigajah. Foto: Devteo Mahardika/detikJabar
Cirebon -

Di banyak desa, tumpukan sampah identik dengan bau menyengat, lingkungan kumuh, dan perdebatan tanpa ujung soal siapa yang bertanggung jawab. Tapi di Desa Ciawigajah, Kabupaten Cirebon, ceritanya berbeda.

Sampah justru menjadi titik awal dari sebuah ekosistem ekonomi yang berputar mulai dari dapur warga, masuk ke mesin pengolah, lalu berakhir sebagai pakan ternak yang dibutuhkan para peternak lokal.

Dari sebuah inisiatif yang tidak sekadar mengelola limbah, tetapi membangun jaringan kolaborasi lintas sektor yang diinisiasi Kepala Desa Ciawigajah Nunung Nurhadi disebut sebagai model penthelix, yakni sinergi antara pemerintah desa, dunia akademis, pelaku usaha, dan komunitas antardesa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nunung Nurhadi tidak menampik bahwa masalah sampah terlalu besar untuk diselesaikan sendirian. Karena itu, sejak awal program yang digagasnya, pemerintah desa memilih jalan kolaborasi bukan kompetisi.

ADVERTISEMENT

"Pengolahan sampah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Kita membutuhkan kolaborasi atau penthelix dengan pihak-pihak terkait," ujar Nunung, Kamis (4/6/2026).

Ia menceeitakan langkah pertama yang diambil adalah menggandeng perguruan tinggi Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) yang menjadi mitra utama, dengan menjadikan Desa Ciawigajah sebagai laboratorium lapangan bagi mahasiswa dan peneliti. Kerja sama juga terjalin dengan STIKes Cirebon dan sejumlah perguruan tinggi lainnya di wilayah Ciayumajakuning.

Kemitraan dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UGJ terbukti langsung berdampak. Ketika desa ingin meningkatkan kualitas bubur organik sebagai produk olahan dari sampah yang telah diproses mengharuskan mereka tidak harus meraba-raba sendiri. Konsultasi dengan Fakultas Pertanian UGJ membuka jalan untuk membuat bubur organik tersebut berpotensi diformulasikan menjadi pakan ternak berkualitas, baik untuk unggas maupun budi daya perikanan.

"Dekan Fakultas Pertanian sudah berkunjung langsung ke Ciawigajah dan memberikan arahan. Tujuan kita jelas yaitu bubur organik ini bisa jadi pakan ternak yang sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya di Kabupaten Cirebon," katanya.

Jaringan Antardesa yang Saling Menguntungkan

Inovasi Ciawigajah tidak berhenti di batas wilayah desa. Melalui skema Memorandum of Understanding (MoU), sejumlah desa dari berbagai kecamatan kini secara rutin menyetorkan sampah mereka ke fasilitas pengolahan di Ciawigajah.

Beberapa di antaranya adalah SPPG Greged, SPPG Beber, SPPG Halimpu Kamarang, hingga Desa Cibuntu dari Kabupaten Kuningan. Pola kemitraan ini dirancang agar semua pihak merasakan manfaat, dengan ketentuan yang disepakati bersama.

"Ada hal-hal yang saling sangat menguntungkan. Desa-desa yang bergabung bisa menyelesaikan masalah sampah mereka, sementara kami mendapat pasokan bahan baku yang cukup untuk diolah," jelasnya.

Antusiasme pun terus melebar. Saat ini, sejumlah desa dari Kecamatan Greged dan Kecamatan Sedong tengah dalam tahap penjajakan untuk bergabung dalam ekosistem pengelolaan sampah bersama Ciawigajah.

Tidak Ada yang Terbuang Percuma

Yang membuat TPS 3R Ciawigajah Berkah layak disebut sebagai model, bukan sekadar program, adalah prinsip dasarnya zero waste dalam arti sesungguhnya.

Sampah yang masuk dipilah, diolah menjadi bubur organik, lalu diproses lebih lanjut menjadi pakan ternak. Rantai ini menciptakan nilai ekonomi yang sebelumnya tidak ada mampu mengubah beban sampah menjadi aset, dan mengubah masalah menjadi peluang.

"Dalam pengolahan sampah ini, tidak ada hal yang terbuang percuma. Semua berputar di sana," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman memgapresiasi Pemerintah Desa Ciawigajah dan pengelola TPS 3R atas keberhasilan mereka mengubah persoalan sampah menjadi sumber manfaat bagi masyarakat.

"Pemerintah Kabupaten Cirebon mengapresiasi Pemerintah Desa Ciawigajah dan pengelola TPS 3R Ciawigajah Berkah yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi nilai ekonomi bagi masyarakat. Ini merupakan contoh nyata pengelolaan lingkungan yang sejalan dengan peningkatan kesejahteraan warga melalui ekonomi sirkular," ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan TPS 3R Ciawigajah menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang didukung manajemen yang baik dan kolaborasi berbagai pihak mampu menciptakan dampak positif bagi lingkungan maupun perekonomian daerah.

"Keberhasilan TPS 3R Ciawigajah mengelola hingga 12 ton sampah per hari tanpa residu serta menyerap tenaga kerja lokal dengan upah sesuai UMR Kabupaten Cirebon layak menjadi percontohan bagi desa-desa lain. Hal ini membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang baik dan kolaborasi yang kuat, sampah dapat menjadi potensi pembangunan daerah," pungkasnya.

Dengan integrasi riset akademis, jaringan antardesa, dan visi ekonomi sirkular yang membumi, Desa Ciawigajah membuktikan satu hal yang sering dilupakan bahwa solusi atas masalah lingkungan yang paling efektif justru lahir dari gotong royong bukan dari satu tangan yang bekerja sendiri.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads