Situs Empu Ewangga Kuningan, Tempat Tempa Senjata Perang Abad ke-16

Situs Empu Ewangga Kuningan, Tempat Tempa Senjata Perang Abad ke-16

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Minggu, 28 Jun 2026 08:00 WIB
Situs bersejarah Penyepuhan dan petilasan Ewangga di Winduherang Kuningan
Situs bersejarah Penyepuhan dan petilasan Ewangga di Winduherang Kuningan. Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar
Kuningan -

Di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, terdapat sejumlah situs bersejarah yang menjadi bukti autentik jejak kehidupan masyarakat Kuningan pada masa lampau.

Salah satu situs yang cukup mencolok adalah Situs Penyepuhan Empu Ewangga Tabet yang berlokasi tepat di samping kantor Kelurahan Winduherang. Untuk mencapai lokasi tersebut, pengunjung cukup memasuki area kantor kelurahan dan akan disambut oleh gapura candi bentar yang tersusun dari bata merah, diikuti dengan pemandangan pepohonan yang asri.

Di bawah naungan pepohonan tersebut, terdapat susunan batu menyerupai makam petilasan berukuran besar. Tepat di bagian atasnya, terdapat sebuah batu besar berbentuk menyerupai mangkuk yang diletakkan di atas tumpukan batu petilasan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juru kunci situs Penyepuhan Empu Ewangga, Udin Sanudin (47), menjelaskan bahwa situs tersebut dahulunya merupakan tempat penyepuhan senjata yang digunakan oleh para pemimpin Kuningan di masa lalu. Hal ini diperkuat dengan keberadaan wadah penyepuhan yang terbuat dari batu besar.

ADVERTISEMENT

Menurut Udin, batu dengan lubang besar di tengahnya tersebut berfungsi sebagai wadah untuk menyepuh senjata agar menjadi kuat dan tajam. Senjata-senjata tersebut nantinya digunakan oleh pasukan Adipati Ewangga Kuningan dalam pertempuran melawan Kerajaan Pajajaran di Cirebon.

"Ini tempat penyepuhan. Biar tajam. Yang dari Cirebon pusakanya di sini semua. Untuk perang antara Cirebon dan Pajajaran di Palimanan juga itu ambil pusakanya di sini. Usianya sudah ratusan tahun, dari abad ke 16 juga ini sudah ada," tutur Udin.

Mengenai petilasan yang berada tepat di bawah wadah penyepuhan, Udin menuturkan bahwa menurut kepercayaan setempat, di dalamnya tersimpan berbagai perkakas atau pusaka peninggalan Adipati Kuningan zaman dahulu. Di samping petilasan tersebut, tersedia tempat duduk dari batu yang kerap digunakan oleh para peziarah.

"Kata orang tua itu pusaka semua yang dikubur. Di sini juga kadang jadi tempat orang berdoa. Ini ada tempat duduknya. Tapi tetap apapun permintaannya, minta do'anya tetap pada Allah," tutur Udin.

Situs bersejarah Penyepuhan dan petilasan Ewangga di Winduherang KuninganSitus bersejarah Penyepuhan dan petilasan Ewangga di Winduherang Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Sekitar 700 meter dari Situs Penyepuhan Empu Ewangga Tabet, terdapat situs lain di Kelurahan Winduherang, yakni area petilasan yang dikenal sebagai Petilasan Ewangga. Dari bagian depan, situs ini ditandai dengan candi bentar, yang kemudian mengarah pada area dengan pepohonan lebat dan rindang.

Di bawah pepohonan tersebut, terdapat sebuah bangunan yang melindungi susunan bebatuan berbentuk makam. Di sekitar area tersebut, terdapat tempat duduk yang letaknya berdekatan dengan beberapa makam kuno.

Udin menjelaskan bahwa dahulu area tersebut diperkirakan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah bagi para Adipati Kuningan. Meski data sejarah tertulis masih cukup minim, hingga saat ini lokasi tersebut masih sering dikunjungi oleh para peziarah.

"Nah kalau ini dulunya dipakai untuk tempat para Ewangga atau para Adipati yang memimpin Kuningan untuk bermusyawarah. Jadi kalau di bawah sebagai tempat penyepuhan senjata, kalau di sini itu sebagai tempat musyawarahnya," tutur Udin.

Lebih lanjut, Udin memaparkan bahwa banyaknya situs di Winduherang disebabkan oleh status wilayah tersebut sebagai salah satu desa tertua di Kabupaten Kuningan. Nama Winduherang sendiri berasal dari kata "Windu" yang berarti delapan dan "Herang" yang berarti jernih atau bersih.

Secara filosofis, nama tersebut merujuk pada sosok pemimpin yang memiliki delapan sifat bersih yang direpresentasikan melalui fenomena alam: Watak Matahari (memberi kehidupan tanpa pilih kasih), Watak Bulan (menyinari kegelapan), Watak Bintang (berpijar indah), Watak Api (tegas), Watak Mega/Mendung (berwibawa), Watak Tirta (mengalir), Watak Bumi (sabar), dan Watak Samudera (luas dan mampu menampung segala hal).

"Emang di sini ada banyak makam petilasan. Karena tadi Ewangga itu julukan pemimpin Kuningan. Nah pusatnya itu ada Winduherang yang jadi cikal bakal adanya Kuningan. Jadi pusat pemerintahan atau keraton Kuningan zaman dulu itu, kemungkinan adanya di sini. Dan situs situs tadi itu sisa peninggalan yang masih tersisa," pungkas Udin.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads