Kisah Misbah, 30 Tahun Setia Jajakan Tahu Gejrot di Kuningan

Serba-serbi Warga

Kisah Misbah, 30 Tahun Setia Jajakan Tahu Gejrot di Kuningan

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Jumat, 03 Jul 2026 10:00 WIB
Misbah saat berjualan tahu gejrot khas Cirebon di Kuningan
Misbah saat berjualan tahu gejrot khas Cirebon di Kuningan. (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Di salah satu sudut ruang terbuka hijau Open Space Gallery Kuningan, terdapat seorang pedagang tahu gejrot khas Cirebon yang telah menekuni profesinya selama puluhan tahun di Kabupaten Kuningan.

Pria tersebut adalah Misbah (54). Dengan menggunakan gerobak pikul sederhana, setiap hari Misbah menjajakan dagangannya di sekitar jalan Bojong-Linggarjati, Kuningan. Sambil menyiapkan pesanan pelanggan, Misbah menuturkan bahwa dirinya berasal dari Cirebon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap hari, ia menempuh perjalanan ke Kuningan khusus untuk berdagang tahu gejrot. Misbah mengisahkan bahwa ia telah memulai usaha ini sejak usia belia. Kala itu, ia memutuskan untuk mengikuti jejak kerabatnya dalam melestarikan kuliner tradisional tersebut.

"Sudah ada 30 tahun lebih. Sejak lulus SD sudah mulai jualan. Jualannya di sini, bulak-balik saja. Meski saat tahun baru gitu ramainya macet, tetep aja pulang. Mulai berangkat dari Cirebon itu naik elf dari 08.00 WIB pulangnya itu jam 16.00 WIB atau jam 17.00 WIB," tutur Misbah.

ADVERTISEMENT

Misbah menjelaskan bahwa pemilihannya terhadap Kuningan sebagai lokasi mencari nafkah bukan tanpa alasan. Menurutnya, dahulu wilayah Kuningan, khususnya di sekitar Gedung Perundingan Linggarjati, merupakan kawasan yang sangat ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat musim libur panjang. Bahkan pada masa kejayaannya, ia mampu menjual hingga ribuan porsi dalam sehari.

"Kalau ramai tuh tahun 2000-an itu. Kalau Lebaran ya, nggak kehitung lah. Satu karung tahu saja habis. Asal tangannya kuat sampai 1.000 porsi ada," kenang Misbah.

Namun, kondisi tersebut kini telah berubah. Seiring dengan menjamurnya destinasi wisata baru di Kuningan, kawasan Linggarjati perlahan mulai sepi pengunjung. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan Misbah. Situasi mencapai puncaknya saat pandemi COVID-19 melanda, yang memaksa Misbah untuk berhenti berjualan sementara waktu.

Misbah saat berjualan tahu gejrot khas Cirebon di KuninganMisbah saat berjualan tahu gejrot khas Cirebon di Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Kendati demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat juang Misbah. Saat situasi pandemi mulai mereda, ia memutuskan untuk kembali berdagang. Namun, karena Gedung Perundingan Linggarjati kian sepi, ia kini memfokuskan aktivitas dagangnya di sekitar Open Space Gallery Kuningan, yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi sebelumnya.

"(Pandemi) COVID-19 tuh libur. Jualan lagi ketika dapat informasi Gedung Linggarjati buka tapi sekarang jarang ke situ lagi. Karena sepi. Jadi jualannya seringnya nongkrong di sekitar sini," tutur Misbah.

Misbah juga memaparkan bahwa sebagai kuliner tradisional, tahu gejrot miliknya memiliki keunikan tersendiri, yakni penggunaan piring tanah liat yang dibakar secara rutin. Menurutnya, proses pembakaran wadah saji tersebut bertujuan untuk menjaga cita rasa sekaligus mencegah pertumbuhan jamur pada media tanah liat tersebut.

Selain itu, berbeda dengan pedagang lainnya, Misbah menghindari penggunaan penyedap rasa instan. Dalam meracik tahu gejrot, ia hanya menggunakan bahan-bahan alami seperti bawang merah, cabai, gula merah, kecap, dan garam secukupnya. Hal ini dilakukan demi mempertahankan rasa autentik yang menjadi ciri khasnya.

Saat dimakan, tahu gejrot racikan Misbah memiliki cita rasa sedap yang berasal dari tahu yang lembut gurih, berpadu dengan manis dan pedasnya kuah gula merah yang segar.

"Kalau punya orang lain kan, kebanyakan kan ada yang dikasih bumbu penyedap, ada yang dikasih salam, kayak sayur asem aja gitu. Padahal jadi timbulnya kalau sudah dimakan jadinya nggak enak diperut. Untuk wadahnya juga memang kudu sering dibakar, biar nggak berjamur," tutur Misbah.

Meski intensitas pembeli tidak setinggi dahulu, konsistensi terhadap cita rasa yang ia bangun selama puluhan tahun membuat tahu gejrot Misbah tetap memiliki pelanggan setia. Dengan harga Rp10.000 per porsi, dalam sehari Misbah mampu menjual puluhan porsi. Baginya, hasil penjualan tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Rata rata paling 30 porsi sehari itu bisa. Pendapatan bersihnya sekitar Rp100.000 per hari. Kalau hari Minggu kadang ramai. Alhamdulillah lidahnya masih pada cocok," pungkas Misbah.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads