Kontroversi Wasit di Laga Dewa United Vs Persib, Bobotoh: Apa Guna VAR?

Kontroversi Wasit di Laga Dewa United Vs Persib, Bobotoh: Apa Guna VAR?

Whisnu Pradana - detikJabar
Selasa, 21 Apr 2026 13:30 WIB
Ilustrasi VAR Liga 1
Ilustrasi VAR Liga 1. Foto: Auliyau Rohman
Bandung -

Persib Bandung meraih hasil imbang 2-2 kontra Dewa United pada Senin (20/4/2026) malam. Kekecewaan dirasakan pendukung, utamanya karena kepemimpinan wasit yang dinilai sangat buruk.

Laga yang digelar di Banten International Stadium (BIS) Serang, Banten itu dipimpin wasit Yoko Suprianto yang kinerjanya dipertanyakan. Beberapa keputusan wasit Yoko dinilai kontroversi dan merugikan Persib Bandung.

Pentolan Viking Lembang, Kukuh Wiguna mengatakan keputusan Yoko sebagai pengadil lapangan tak mencerminkan prinsip fairplay seperti yang ramai digaungkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Terkait pertandingan semalam, terlepas hasil seri yang perlu disoroti itu kepemimpinan wasit. Keputusannya itu kontroversial dan merugikan Persib Bandung terlepas ada kartu merah buat Alex Martin," kata Kukuh saat dikonfirmasi, Selasa (21/4/2026).

ADVERTISEMENT

Misalnya ketika Yoko mengesahkan gol pertama Dewa United yang dicetak Alex Martins Ferreira di menit ke 24. Bola saat itu sebetulnya sudah melewati garis lapangan, namun wasit tak meniup peluit. Wasit kemudian mengecek Video Asistant Referee (VAR), namun keputusan yang diambil tetap janggal.

"Gol pertama itu kita semua tahu bola sudah out. Pertanyaannya, apa fungsinya VAR? Di liga yang jauh lebih maju, penggunaan VAR sangat dimaksimalkan. Saat cek VAR itu reviewnya ditampilkan di layar, dilihat semua penonton. Jadi semua tahu apa yang menyebabkan gol tidak sah, apa yang memicu pelanggaran, apa penyebab gol sah, itu jelas di VAR," kata Kukuh.

Lalu proses gol kedua Dewa United yang tak kalah mengundang tanda tanya. Wasit tetap mengesahkan gol padahal sebelumnya pemain Dewa United terlebih dahulu menyentuh bola meskipun sebelumnya terjadi pantulan dari kaki.

"Oke enggak apa-apa kita terima gol pertama walaupun janggal. Gol kedua, itu handsball. Kalau dianggap sah, maka regulasinya perlu diperjelas. Apakah tidak handsball karena memantul dulu ke kaki, sementara di kasus lain itu handsball. Harus ditegaskan supaya tidak seperti kemarin," kata Kukuh.

Sebagai penikmat sepakbola tanah air, ia kecewa karena orang-orang yang ada di balik layar masih melakukan praktik merugikan dengan melabrak norma-norma sportivitas dalam lingkup olahraga terutama sepakbola.

"Ini kelas nonteknis sudah dimainkan. Intinya di sini, semakin mendekat ke akhir liga, Persib harus berhati-hati dan fokus, jangan pikirkan nonteknis meskipun sudah dimainkan, banyak keputusan yang dirasakan merugikan dan tidak berpihak ke Persib," ujar Kukuh.

Kinerja wasit yang tidak menjunjung tinggi sportivitas, kata Kukuh, bisa menjadi batu sandungan mimpi Timnas Indonesia melenggang ke Piala Dunia. Sebab kondisi liga yang masih acak-acakan akan memberikan efek tak bagus pada kultur sepakbola tanah air.

"Bagaimana kita ingin maju ke Piala Dunia, hal seperti ini saja masih dibudayakan di liga. Tidak menjunjung tinggi fairplay, berusaha memenangkan dan menguntungkan salah satu tim kontestan liga. Biarkan liga se-fair mungkin, semenarik mungkin supaya mimpi kita melihat timnas di piala dunia kesampaian," kata Kukuh.

"Lihat Jepang, sudah sejajar Eropa dan Amerika Latin. Itu diawali dengan menjaga kualitas liga dengan baik, selain pembinaan yang terstruktur sehingga dampaknya ke timnas jadi sangat maju. Kita main bola lebih dulu dari Jepang, tapi sekarang kualitas liga dan timnas kita sangat ketinggalan jauh dari Jepang," imbuhnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads