Domba Tubing: Bukan Wisata Biasa, Aksi Nyata Rawat Ciliwung

Domba Tubing: Bukan Wisata Biasa, Aksi Nyata Rawat Ciliwung

Andry Haryanto - detikJabar
Rabu, 08 Jul 2026 11:00 WIB
Komunitas Domba Tubing, Bogor.
Komunitas Domba Tubing, Bogor. Foto: Andry Haryanto
Bogor -

"Ini bukan wisata tubing, tapi edukasi mengajak siapapun untuk peduli Sungai Ciliwung. Wisata tubing itu bonusnya," kata Budi Sugiono, salah satu penggagas Komunitas Domba Tubing, memulai perbincangan dengan detikJabar, Selasa (7/7/2026).

Kalimat itu menjadi penjelasan sekaligus bantahan atas anggapan banyak orang yang mengenal Domba Tubing hanya sebagai destinasi bermain air. Di balik ban-ban pelampung (tubing) yang mengapung di Sungai Ciliwung, sesungguhnya ada pekerjaan yang jauh lebih berat daripada sekadar menyusuri arus. Setiap hari, komunitas kecil itu berjibaku memunguti sampah yang datang tanpa henti dari hulu.

Tak ada tiket masuk. Tak ada loket. Tak ada tarif untuk menikmati sungai yang mulai kembali jernih. Satu-satunya 'bayaran' yang diminta hanyalah kesediaan memungut sampah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau mau dibilang bayar, ya bayarnya pakai keringat. Ambil sampah di sungai. Itu saja," ujar Budi sambil tersenyum.

ADVERTISEMENT

Komunitas itu justru lahir dari dunia yang sama sekali berbeda. Sebelum dikenal sebagai pegiat lingkungan, Budi lebih dulu mengumpulkan anak-anak muda yang menganggur untuk belajar beternak domba. Mereka diajari memelihara kambing, mencari pakan hingga memahami cara menjual ternak. Beberapa berhasil. Salah satunya bahkan mampu mengembangkan usaha sendiri.

Namun, rutinitas mencari rumput membawa mereka pada persoalan lain. Setiap kali beristirahat di tepian Ciliwung, mereka menyaksikan pemandangan yang miris sebagai warga yang tinggal dekat dengan sungai purba yang dipenuhi sampah.

"Nah, waktu habis cari pakan kambing kami istirahat di pinggir kali. Lama-lama kami lihat kok sungainya makin tercemar, sampahnya makin banyak. Dari situ kami mulai bersihin pelan-pelan," tuturnya.

Mulanya hanya membersihkan tumpukan sampah di sekitar tempat mereka berkumpul. Sedikit demi sedikit. Tanpa target besar. Tanpa kamera. Tanpa dukungan siapa pun.

Belakangan mereka menyadari, membersihkan sungai yang menjadi saksi bisu peradaban saja tidaklah cukup. Dibutuhkan wadah yang mampu menarik lebih banyak anak muda agar mau turun tangan. Dari situlah lahir Komunitas Domba Tubing, sebuah nama yang sengaja dipertahankan sebagai pengingat bahwa gerakan itu bermula dari kandang domba, bukan dari bisnis wisata.

Membangun komunitas ternyata tidak lebih mudah daripada membersihkan sungai. Budi mengaku banyak anak muda tertarik ketika melihat hasilnya. Mereka melihat ada anggota yang berhasil memelihara belasan ekor kambing hingga meraup puluhan juta rupiah saat Iduladha. Namun ketika diajak menjalani proses, satu per satu memilih mundur.

"Mereka banyak yang lihat hasilnya. Tapi waktu masuk prosesnya, banyak yang gugur di jalan. Berat buat mereka," kata laki-laki 34 tahun ini.

Pengalaman itu membuatnya mengubah pendekatan. Ia tidak lagi sekadar mengajak bekerja, tetapi menunjukkan manfaat yang bisa dirasakan langsung.

"Kita kasih lihat dulu. Bahwa bersih itu indah. Setelah mereka lihat sungai bersih, baru kita edukasi. Enak enggak kalau lingkungan seperti ini kita jaga?" kata Budi.

Kini, sekitar 20 anggota aktif bergantian merawat sungai. Sebagian besar memiliki pekerjaan masing-masing sehingga aktivitas bersih-bersih dilakukan seusai bekerja atau pada akhir pekan. Meski demikian, bagi mereka, Ciliwung tidak mengenal hari libur.

Namun, bersih-bersih sungai tidak pernah tuntas. Persoalan kembali muncul setiap hujan turun di kawasan hulu, sampah kembali berdatangan.

"Setiap hari kami dikirim sampah. Debit air naik sedikit saja, sampah numpuk lagi. Makanya harus dirawat setiap hari," ujarnya.

Kiriman sampah itu bahkan tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar. Budi dan rekan-rekannya kerap menyusuri sungai hingga wilayah Cilebut untuk memungut sampah yang hanyut sebelum akhirnya menumpuk di lokasi mereka.

"Kami sampai izin ke warga Cilebut untuk bersih-bersih di wilayah mereka. Mudah-mudahan semua warga sadar supaya tidak buang sampah ke sungai," kisah Budi.

Komunitas Domba Tubing, Bogor.Komunitas Domba Tubing, Bogor. Foto: Andry Haryanto

Musuh Terbesar: Pampers Sampai Styrofoam

Musuh terbesar mereka bukan sekadar banyaknya sampah, melainkan plastik dan styrofoam yang nyaris tak bisa terurai. "Paling banyak itu sampah plastik sama styrofoam. Itu yang benar-benar susah hancur," Budi mengeluhkan.

Dalam sekali kegiatan, sampah yang terkumpul bisa memenuhi satu mobil bak terbuka. Ironisnya, seluruh biaya pengangkutan selama ini ditanggung komunitas secara swadaya.

Mereka mengumpulkan uang receh, Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per orang, sekadar agar sampah bisa diangkut ke tempat pembuangan.

"Kami patungan. Sampahnya kami ambilin dari mana-mana, tapi buangnya tetap bayar pakai uang komunitas," ujarnya sambil tersenyum.

Dana hasil beternak domba pun tak lagi tersisa. Hampir seluruh keuntungan diputar untuk membeli ban bekas, pelampung, helm keselamatan hingga perlengkapan kegiatan.

"Kandang kami sekarang kosong. Hasil jual domba habis buat beli peralatan. Mudah-mudahan nanti pelan-pelan bisa mulai lagi," Budi penuh harap.

Perlengkapan itu bukan untuk membuka wahana wisata, melainkan menunjang operasi bersih-bersih sungai. Ban-ban bekas menjadi alat mengangkut karung sampah, sedangkan pelampung dan helm dipakai agar anggota tetap aman saat bekerja di arus sungai.

Meski begitu, semakin bersih sungai, semakin banyak masyarakat berdatangan. Warga dari Bogor, Depok, Citayam, Bekasi hingga Cikarang bahkan Tangerang mulai mengenal lokasi tersebut melalui media sosial.

Fenomena itu sempat membuat banyak orang mengira Domba Tubing adalah destinasi wisata baru. Budi tak menampiknya. Ia justru memanfaatkan keramaian itu sebagai ruang edukasi.

Anak-anak yang ingin berenang terlebih dahulu dikumpulkan. Mereka diberi penjelasan mengapa sungai harus dijaga, mengapa sampah tidak boleh dibuang sembarangan, dan mengapa sungai bukan tempat pembuangan akhir.

"Saya selalu bilang ke anak-anak, jangan buang sampah di mana pun. Apalagi di sungai. Kalau sungainya bersih seperti ini, kalian sendiri yang bisa menikmati," ia mengisahkan.

Baginya, melihat anak-anak lebih lama bermain di sungai daripada menatap layar gawai menjadi kebahagiaan tersendiri. "Anak-anak lebih bahagia tanpa gadget. Mereka jadi belajar mencintai lingkungannya."

Meski mulai dikenal luas, Budi mengaku komunitasnya belum pernah berpikir menjadikan kegiatan itu sebagai sumber penghasilan.

"Kalau nilai ekonomi, kami belum berpikir ke sana," ujarnya.

Namun ia tak menampik ada dampak ekonomi yang muncul secara alami. Setiap akhir pekan, pedagang mulai berdatangan. Warung-warung kecil hidup. Warga sekitar mendapat tambahan pembeli.

"Bonusnya itu ekonomi masyarakat ikut bergerak. Banyak warga yang jualan. Itu sudah bikin kami puas," ujarnya Bangga.

Yang paling mereka harapkan justru bukan bantuan materi, melainkan perubahan cara pandang. Masyarakat yang masih serampangan membuang sampah ke sungai menjadi tantangan untuk dapat menjaga kebersihan aliran Ciliwung.

"Tantangan terbesar kami sebenarnya belum sadarnya masyarakat. Selama orang masih buang sampah ke sungai, pekerjaan kami enggak akan selesai," ia mengeluhkan.

Karena itu, impian Budi sederhana. Ia berharap gerakan kecil yang dimulai dari sekelompok peternak domba itu bisa menular ke bantaran sungai lainnya.

"Kalau semua warga di sepanjang sungai mau bergerak, saya yakin sungai-sungai lain juga bisa seperti ini. Kami siap membantu. Tapi yang paling penting, gerakannya harus lahir dari hati masyarakatnya sendiri," katanya.

Bergerak Mandiri

Gerakan yang dibangun Komunitas Domba Tubing juga menyisakan satu harapan besar. Bagi Budi dan kawan-kawan, menjaga sungai tidak mungkin selamanya dibebankan kepada relawan. Ia meyakini perubahan yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan pemerintah, mulai dari tingkat desa, kelurahan, kecamatan hingga pemerintah daerah.

"Kami ini komunitas kecil. Suara kami tentu berbeda dengan pemerintah. Makanya kami berharap ada dukungan dari pemerintah daerah yang benar-benar peduli terhadap gerakan seperti ini," ujarnya.

Dukungan yang dimaksud bukan semata bantuan materi. Selama ini mereka lebih membutuhkan sistem yang membuat upaya menjaga sungai tidak berjalan sendiri. Edukasi kepada masyarakat, penyediaan sarana pengelolaan sampah, hingga pengangkutan sampah secara rutin dinilai jauh lebih penting dibandingkan membiarkan relawan terus patungan untuk mengangkut sampah yang bukan mereka hasilkan.

Harapan mulai terlihat ketika Dinas Lingkungan Hidup turun langsung membantu mengangkut tumpukan sampah yang telah mereka kumpulkan. Respons itu, menurut Budi, memberi semangat baru bagi para relawan.

"Kami senang sekali ketika ada yang datang mendukung. Artinya apa yang kami kerjakan diperhatikan. Mudah-mudahan ke depan sungai ini bisa benar-benar terawat karena sudah ada yang membantu mengangkut sampah," katanya.

Lika-liku aktivitas komunitas Domba Tubing memperlihatkan bahwa menyelamatkan Ciliwung bukan semata urusan komunitas, melainkan tanggung jawab bersama. Relawan dapat menjadi penggerak, masyarakat menjadi penjaga, sementara pemerintah hadir memastikan gerakan itu tidak berjalan sendiri.

Halaman 2 dari 2
(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads