Merasakan Sensasi Naik Keranjang Sultan Langit di Sukabumi

Merasakan Sensasi Naik Keranjang Sultan Langit di Sukabumi

Siti Fatimah - detikJabar
Kamis, 18 Jun 2026 13:30 WIB
Keranjang sultan langit di Sukabumi.
Keranjang sultan langit di Sukabumi. (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Rasa penasaran berbaur dengan sedikit debaran di dada saat menapakkan kaki di area peluncuran wahana Keranjang Sultan Langit, kawasan wisata alam Situ Gunung, Kabupaten Sukabumi. detikJabar berkesempatan mencoba wahana ekstrem yang belakangan viral di media sosial karena insiden tabrakan antar-keranjang gantung.

Sore itu, kabut tipis khas pegunungan mulai turun, menambah dramatis pemandangan Lembah Purba yang membentang hijau di bawah kaki. Sebelum diizinkan naik, seorang petugas dengan cekatan memasangkan safety harness ke tubuh.

"Tenang saja. Ini kapasitasnya sampai 300 kilo, sangat aman. Izin pakaikan pengaman dulu ya kak, nanti kakinya diangkat terlebih dahulu," ujarnya ramah berusaha menenangkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu duduk di dalam keranjang rotan ikonik tersebut, tatapan langsung tertuju pada sebuah tuas kecil di dekat lengan keranjang. Di sanalah letak potensio, yaitu tombol pengatur kecepatan berbasis baterai dan dinamo yang beberapa hari lalu sempat diusili pengunjung hingga memicu kepanikan di dunia maya.

Pengelola sengaja tidak mengedukasi cara pakainya kepada wisatawan umum demi alasan keselamatan, sehingga instruksi yang diberikan sangat sederhana, yakni cukup duduk manis, angkat kaki saat mendekati lantai rendah, dan nikmati pemandangan.

ADVERTISEMENT

Sreeek... Keranjang mulai meluncur perlahan meninggalkan bibir dermaga start. Derit tali baja (seling) yang bergesekan terdengar ritmis, menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di atas ketinggian.

Di bawah, jurang sedalam 160 meter dengan aliran sungai yang berkelok-kelok terlihat begitu mengagumkan sekaligus mengintimidasi. Angin dingin Sukabumi mulai menusuk kulit, membawa sensasi magis seolah sedang melayang bebas menembus jalur sepanjang 523 meter ini.

Namun, sensasi damai itu mendadak berubah menegangkan saat keranjang yang dinaiki tiba-tiba melambat lalu benar-benar berhenti bergerak.

Tepat di tengah lintasan, di titik tertinggi di atas permukaan sungai, keranjang terdiam. Tidak ada tanda-tanda kerusakan, hanya kesunyian total di atas ketinggian 160 meter.

Keranjang sultan langit di Sukabumi.Pemandangan saat naik keranjang sultan langit di Sukabumi. Foto: Siti Fatimah/detikJabar

Berada di ruang gantung yang statis di atas jurang dalam hitungan menit tentu memicu jantung berdegup dua kali lebih cepat. Pikiran langsung melayang pada video viral kemarin. Apakah keranjang di belakang akan datang menabrak?

Ketakutan itu rupanya tidak berlangsung lama. Dari kejauhan, tampak seorang petugas di area finis sigap memantau situasi. Melalui sistem kendali operasional, peluncuran wisatawan di titik start langsung dihentikan sementara.

Tak lama kemudian, dari arah belakang, sebuah keranjang penyelamat (rescue) yang dinaiki oleh petugas meluncur mendekat. Dengan teknik evakuasi standar yang tenang, petugas menggunakan keranjangnya untuk mendorong perlahan keranjang dari belakang.

Gesekan lembut antar-keranjang rotan itu membantu wahana kembali melaju stabil menembus lintasan hingga akhirnya menyentuh garis finish dengan selamat.

Begitu turun dan menapakkan kaki di tanah, rasa tegang itu langsung menguap, berganti dengan perasaan lega yang luar biasa. Pengalaman macet sesaat di ketinggian justru membuktikan omongan pengelola bahwa wahana ini dilengkapi sistem double safety.

Dua tali baja utama yang membentang kokoh menjamin keranjang tidak akan terjatuh ke bawah meski berhenti mendadak. Menjajal langsung Keranjang Sultan Langit memberikan sebuah kesimpulan bahwa wahana ini memang ekstrem dan memicu ketakutan bagi sebagian orang, namun di balik itu, sistem keselamatannya bekerja dengan sangat nyata.

Menanggapi video viral yang terjadi beberapa waktu lalu, Manajer Operasional Suspension Bridge, Usep Suherlan berjanji tidak akan menutup mata. Kejadian ini menjadi bahan kajian penting agar sistem operasional wahana dapat berjalan lebih ketat ke depannya.

"Betul, ini memang harus dievaluasi segala bentuk apapun. Hal kecil, hal besar, semua kita harus evaluasi untuk menuju lebih baik lagi," kata Usep, Kamis (18/6/2026).

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads