Tedjowulan Ungkap Proses Rekonsiliasi dengan PB XIII, Dibahas di Lereng Lawu

Tedjowulan Ungkap Proses Rekonsiliasi dengan PB XIII, Dibahas di Lereng Lawu

Tara Wahyu NV - detikJateng
Kamis, 25 Des 2025 21:57 WIB
Mahamenteri Keraton Solo KGPA Tedjowulan saat berada di kantor detikJateng, Rabu (24/12/2025).
Mahamenteri Keraton Solo KGPA Tedjowulan saat berada di kantor detikJateng, Rabu (24/12/2025). Foto: Tara Wahyu/detikJateng.
Solo -

Sebelum adanya dualisme Keraton Solo antara Paku Buwono XIV Purbaya dan Paku Buwono XIV Mangkubumi, dualisme serupa pernah terjadi pada tahun 2004. Kala itu, perebutan takhta terjadi antara Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi dan PB XIII Tedjowulan.

Keduanya akhirnya memilih jalan rekonsiliasi yang menetapkan Hangabehi sebagai Sinuhun Paku Buwono XIII. Mahamenteri KGPA Tedjowulan menceritakan alasannya akhirnya bersedia mengalah dan legowo Keraton Solo dipimpin oleh kakaknya.

"Tatkala waktu itu sama-sama PB XIII Hangabehi dan PB XIII Tedjowulan. Nah, waktu itu saya bertemu orang nomor satu di Indonesia (Presiden). Beliau menyampaikan ke saya, 'Dik, kita kan sama-sama dari almamater, apa tidak sebaiknya yang muda itu mengalah, yang tua merangkul?'," ujarnya dalam podcast bersama detikJateng, Rabu (24/12/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah mendengar saran tersebut, Tedjowulan sempat berbincang dengan kerabat dekatnya. Menurutnya, saat itu banyak pihak yang tidak setuju jika ia mengalah.

"Setelah itu saya mengobrol dengan orang-orang di sekitar saya. Hampir 100 persen tidak ada yang setuju. Karena melihat dari sisi lahiriah dan sebagainya, mereka bertanya kok saya mau mengalah," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Namun, tekadnya sudah bulat. Ia kemudian menghubungi PB XIII Hangabehi untuk bertemu secara langsung di wilayah kaki Gunung Lawu.

"Akhirnya saya berniat menghubungi Mas Behi, kakak saya. Saya menemui beliau secara langsung di sebuah penginapan di lereng Gunung Lawu," ujarnya.

Pertemuan tersebut tidak dilakukan sendirian. Ada sejumlah kerabat yang hadir, termasuk istri dari Paku Buwono XIII.

"Ada Sinuhun, Benowo, Hari, Asih, dan saya. Saya bertemu Mas Behi dan menyampaikan wacana tersebut. Terus Mas Behi bilang, 'Gimana Mas, masa nanti ada dua ratu (raja)?'. Lalu saya bilang, 'Mboten, mengke jenengan sing jumeneng dalem' (Tidak, nanti Anda yang bertahta)," cerita Tedjowulan.

Sepulangnya dari pertemuan itu, ia memikirkan gelar yang akan digunakannya. Ia akhirnya memilih nama Panembahan Agung.

"Panembahan itu saya mengambil dari nama Panembahan Senopati. Terus Agung dari Sultan Agung. Menurut saya, mungkin ke depan ini mau mengikuti eranya Panembahan Senopati atau Sultan Agung. Akhirnya saya menetapkan nama itu," terangnya.

Setelah menentukan nama, ia berangkat ke Jakarta untuk menyusun nota kesepahaman antara dirinya dan PB XIII Hangabehi.

"Di Jakarta, sebelum pelaksanaan, dibuat surat pernyataan atau kesepahaman antara PB XIII Hangabehi dengan saya mengenai pengelolaan keraton. Akhirnya muncul kesepakatan jabatan Mahamenteri," tambahnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah turut andil dalam menyelesaikan konflik internal tersebut. Ia pun berharap dualisme yang terjadi saat ini bisa segera diselesaikan dengan semangat yang sama.

"Harapannya tadi, sing enom ngalah, sing tuwa merangkul (yang muda mengalah, yang tua merangkul), jadinya rukun dan baik. Ternyata perjalanannya tidak selalu mulus, masih menyisakan masalah. Saya mendampingi Sinuhun karena semua orang tahu Mas Behi itu ada plus minusnya," pungkasnya.




(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads