Sosok Rakai Watukura Dyah Balitung yang Mengkudeta Kerajaan Mataram Kuno

Sosok Rakai Watukura Dyah Balitung yang Mengkudeta Kerajaan Mataram Kuno

Anindya Milagsita - detikJateng
Jumat, 23 Jan 2026 08:01 WIB
Candi Borobudur
Candi Borobudur peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. (Foto: Mario La Pergola/Unsplash)
Solo -

Selama Kerajaan Mataram Kuno berjalan, berganti tampuk kepemimpinan dari satu raja ke raja yang lain dengan kisahnya masih-masih. Salah satunya ada Rakai Watukura atau Dyah Balitung yang dikenal berhasil melakukan kudeta kekuasaan hingga mampu berperan dalam memperluas wilayah kekuasaan. Seperti apa kisahnya?

Sebelumnya, mari mengenal terlebih dahulu wilayah kerajaan yang dipimpin oleh Dyah Balitung ini. Kerajaan Medang yang merupakan istilah lain dari Mataram Kuno adalah kerajaan yang pernah berjaya di wilayah Jawa Tengah. Kejayaan Kerajaan Medang di Jawa Tengah berlangsung sekitar abad ke-8.

Pusat kerajaan Medang atau Mataram Kuno beberapa kali sempat mengalami perpindahan tempat. Selain melibatkan wilayah Jawa Tengah, Kerajaan Medang pernah juga berpusat di Jogja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat masih berjaya, Kerajaan Medang dipimpin oleh raja-raja yang memberikan kontribusi tersendiri dalam mendukung terwujudnya masa-masa keemasan. Termasuk Rakai Watukura yang dikenal juga dengan nama Dyah Balitung ini.

Lantas, seperti apa sosok Rakai Watukura Dyah Balitung yang disebut-sebut berhasil menggulingkan takhta di Kerajaan Medang demi naik sebagai raja? Simak ulasannya berikut.

ADVERTISEMENT

Poin Utamanya:

  • Rakai Watukura Dyah Balitung adalah Raja Mataram Kuno (855-885 M) dari Dinasti Sanjaya yang naik takhta melalui kudeta terhadap pamannya, Dyah Saladu Rakai Gurunwangi, dan dikenal berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga Jawa dan Bali.
  • Sebagai Raja Mataram Kuno, Rakai Watukura Dyah Balitung dikenal sebagai pemimpin yang kuat secara politik dan peduli rakyat, dengan fokus pada pembangunan wilayah, penguatan ekonomi, pembebasan pajak desa, serta penerapan falsafah kepemimpinan Hasta Brata yang berorientasi pada kesejahteraan negara dan rakyat.
  • Perannya penting dalam sejarah Mataram Kuno, dibuktikan lewat Prasasti Kedu yang menegaskan silsilah Dinasti Sanjaya, pembaruan struktur jabatan kerajaan, serta kebijakan pemberian anugerah bagi desa dan pejabat yang berjasa.

Siapa Rakai Watukura Dyah Balitung?

Rakai Watukura Dyah Balitung adalah Raja Mataram Kuno yang dikenal sebagai keturunan pendiri dari Mataram Kuno, yaitu Raja Sanjaya. Rakai Watukura Dyah Balitung adalah salah satu raja Medang (Mataram Kuno) yang dikenal mampu menaklukkan raja sebelumnya.

Demi naik takhta, Dyah Balitung tidak segan untuk melakukan kudeta dan menggulingkan kekuasaan. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru di lingkup kerajaan. Sebab, ada raja-raja terdahulu yang juga melakukan tindakan serupa demi bisa bertakhta di Mataram Kuno.

Seperti halnya dijelaskan dalam 'Falsafah Kepemimpinan Jawa : Dari Sultan Agung Hingga Hamengkubuwono IX' karya Sri Wintala Achmad, Dyah Balitung dikenal sebagai raja yang penuh dengan rasa curiga. Hal ini dilakukannya demi mempersatukan kerajaan kekuasaannya yang berisiko terpecah-belah.

Bukan hanya itu saja, selama memerintah Rakai Watukura juga berusaha menyelesaikan berbagai persoalan yang dialami oleh kerajaan. Bahkan Rakai Watukura dikenal sebagai Raja Mataram Kuno yang peduli terhadap rakyatnya. Ia berusaha memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya dengan berfokus pada pembangunan wilayah kerajaan dan memajukan perekonomian secara menyeluruh.

Falsafah Rakai Watukura adalah 'Hasta Brata' atau 'mulat laku jantraning surya' dan 'murakabi' yang berfokus pada rakyat serta negara yang dipimpinnya. Dyah Balitung memimpin Kerajaan Mataram Kuno sejak tahun 855 hingga 885 M.

Kisah Kudeta Rakai Watukura Dyah Balitung untuk Jadi Raja

Sebelum Rakai Watukura Dyah Balitung naik takhta, Raja Medang atau Mataram Kuno dipimpin oleh Dyah Saladu Rakai Gurunwangi. Seperti halnya dikisahkan dalam buku 'Takhta Raja-raja Jawa' karya Dwi Lestari, Dyah Saladu Rakai Gurunwangi sebelumnya berhasil menggulingkan takhta Dyah Lokapala Kanyuwangi.

Padahal Dyah Lokapala Kanyuwangi adalah saudaranya sendiri. Kendati begitu, kepemimpinan Dyah Saladu Rakai Gurunwangi tidaklah lama. Sebab, ada Dyah Balitung atau Rakai Watukura yang berhasil melakukan kudeta demi merebut takhta Kerajaan Medang.

Dikatakan Dyah Balitung masih berkerabat dekat dengan Dyah Saladu Rakai Gurunwangi. Dirinya adalah keponakan menantu.

Teguh Rakai Watumalang adalah mertuanya, sedangkan Dyah Saladu Rakai Gurunwangi merupakan saudara seayah dari Teguh Rakai Watuhumalang. Inilah yang membuat Dyah Balitung masih terhitung kerabat dekat pamannya sendiri, yaitu Dyah Saladu Rakai Gurunwangi.

Setelah berhasil melakukan kudeta terhadap pamannya sendiri, Dyah Balitung secara resmi naik takhta sebagai Raja Mataram Kuno. Setelah naik takhta, Dyah Balitung memindahkan ibu kota Kerajaan Medang dari Mamratipura ke Poh Pitu.

Dyah Balitung dikenal sebagai sosok Raja Mataram Kuno yang piawai mengekspansi wilayah-wilayah di Nusantara. Tak hanya menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur, Mataram Kuno berhasil 'melebarkan sayapnya' hingga Bali. Inilah yang membuat kisah kudeta Rakai Watukura Dyah Balitung tercatat dalam sejarah hingga saat ini.

Peran Rakai Watukura Dyah Balitung bagi Kerajaan Mataram

Dalam masa kepemimpinan Dyah Balitung, ada begitu banyak perubahan yang terjadi di Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Termasuk adanya peran Rakai Watukura Dyah Balitung dapat mengukuhkan kepiawaiannya di bidang politik.

Salah satu bukti sejarah yang menunjukkan peran besar Dyah Balitung adalah pembuatan inskripsi panjang. Di dalam buku 'Pararaton' tulisan Otto Sukatno, CR dan Untung Mulyono, inskripsi panjang menyatakan Dyah Balitung sebagai keturunan Sanjaya (pendiri Mataram Kuno). Tidak hanya itu saja, melalui inskripsi panjang tersebut Dyah Balitung turut menyebutkan nama-nama pendahulunya.

Hal ini dibuat oleh Dyah Balitung sebagai seorang raja pada era abad ke-8 sampai ke-9 yang nantinya dikenal sebagai prasasti Kedu. Berikut isi dari inskripsi tersebut yang berisikan silsilah Dinasti Sanjaya:

  1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
  2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran
  3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan
  4. Sri Maharaja Rakai Warak
  5. Sri Maharaja Rakai Garung
  6. Sri Maharaja Rakai Pikatan
  7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
  8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
  9. Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung

Lebih lanjut, berkat adanya inskripsi tadi, Dyah Balitung menjadi raja yang paling terkenal pada masanya. Pembaruan juga dilakukan oleh Rakai Watukura Dyah Balitung soal jabatan-jabatan di lingkup kerajaan.

Pada saat itu, Dyah Balitung memperkenalkan jabatan kerajaan dengan istilah tertentu. Misalnya 'Rakyan i Hino' sebagai pejabat tertinggi sesudah raja. Lalu di bawahnya ada Rakyan i Halu dan Rakyan i Sirikan.

Lebih lanjut, di dalam buku 'Ensiklopedi Raja-Raja dan Istri-Istri Raja di Tanah Jawa Dari Wangsa Sanjaya hingga Hamengku Buwono IX' tulisan Krisna Bayu Adji, saat masa pemerintahan Rakai Watukura, pajak di desa-desa dibebaskan olehnya. Bahkan sang raja meminta agar rakyatnya tidak memungut upah dari para penyeberang yang melalui wilayahnya.

Tak sampai di situ saja, secara berkala Raja Medang Rakai Watukura juga turut memberikan anugerah kepada mereka yang memberikan peran besar terhadap kerajaan. Baik itu desa-desa yang berjasa memperluas wilayah maupun merawat bangunan tertentu, sampai para patih yang menjaga keamanan di wilayah sekitar.

Memahami kisah sejarah yang pernah terjadi di masa lampau dapat menambah wawasan baru dan memberikan gambaran tentang silsilah raja-raja terdahulu. Semoga informasi mengenai sosok Rakai Watukura Dyah Balitung yang diuraikan tadi membantu.




(sto/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads