Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum, Dwi Purwantoro, meninjau kondisi Sungai Bremi dan Meduri di Kota Pekalongan malam ini. Tinjauan ini berkaitan dengan banjir yang terjadi sejak Sabtu (17/1) lalu.
Dwi mengatakan, banjir dipicu oleh curah hujan tinggi ditambah kondisi laut yang sedang pasang. Kombinasi tersebut membuat aliran air sungai tertahan kemudian melimpas ke permukiman.
"Biasanya saat air laut tidak pasang, kita bisa melakukan flushing air ke sungai. Namun saat pasang, air tertahan dan akhirnya terjadi genangan," ujar Dwi Purwantoro kepada wartawan di lokasi, Kamis (22/1/2026) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai langkah darurat, Kementerian PU akan mengeringkan kawasan terdampak banjir dengan mengerahkan pompa-pompa air.
"Dua unit pompa berkapasitas 500 liter per detik disiapkan, sehingga total kapasitas mencapai 1.000 liter per detik, ditambah pompa milik Pemerintah Kota Pekalongan," kata dia.
Sedangkan untuk penanganan jangka menengah, pemerintah akan membangun sistem polder guna mengendalikan banjir saat curah hujan tinggi dan air laut pasang. Sistem ini akan dilengkapi drainase kolektor dan pompa yang disesuaikan dengan luas daerah tangkapan air (catchment area) di sekitar sungai.
"Dengan polder, air akan dikumpulkan di klaster tertentu lalu dipompa keluar. Kawasan di dalamnya bisa lebih terlindungi," jelasnya.
Dwi juga mengungkapkan tahun ini Kementerian PU telah menganggarkan dana Rp 37 miliar untuk program pengendalian banjir wilayah Sungai Bringin-Meduri.
Meski sungai tersebut merupakan kewenangan pemerintah provinsi, pemerintah pusat turun tangan karena banjir telah mengganggu fasilitas umum dan jalur vital seperti rel kereta api.
"Untuk penanganan secara tuntas, kami sudah menghitung kebutuhan anggaran sekitar Rp 500 hingga Rp 600 miliar. Ini akan dilaksanakan bertahap dengan kerja sama pemerintah kabupaten dan kota, khususnya terkait pembebasan lahan," jelasnya.
Dia juga menyoroti adanya bottleneck di jembatan kereta api yang menghambat aliran air ke laut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan PT KAI dan Kementerian Perhubungan untuk menaikkan elevasi jembatan hingga 50 sentimeter agar aliran air lebih lancar dan risiko banjir berkurang.
"Kalau bottleneck ini bisa dikurangi, air bisa lebih cepat mengalir ke laut dan tidak meluap ke kawasan permukiman," pungkas Dwi.
Di lokasi yang sama, Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, menyebut Sungai Bremi dan Meduri selama ini belum tertangani optimal seperti Sungai Loji dan Banger.
"Bremi dan Meduri ini belum tertangani, Seperti Sungai Loji, Banger. Ya memang kondisinya kalau curah hujan sangat tinggi memang akan seperti ini (banjir)," kata Afzan Arslan Djunaid.
"Mudah-mudahan bisa dimulai dengan tahun ini ya, dengan anggaran Rp 37 miliar, sampai nanti ke depannya bisa dimaksimalkan sekitar 600 miliar," sambungnya.
(dil/dil)
