Banjir Bandang di Sangkanayu Purbalingga Bawa Kayu Gelondongan

Banjir Bandang di Sangkanayu Purbalingga Bawa Kayu Gelondongan

Anang Firmansyah - detikJateng
Sabtu, 24 Jan 2026 13:40 WIB
Kondisi kerusakan permukiman warga yang diterjang banjir bandang dengan dengan membawa material kayu di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (24/1/2026).
Kondisi kerusakan permukiman warga yang diterjang banjir bandang dengan dengan membawa material kayu di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (24/1/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng.
Purbalingga -

Banjir bandang di Desa Serang dan Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga dini hari tadi tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga merusak rumah dan tempat usaha warga. Banjir bandang di lereng tenggara Gunung Slamet turut membawa kayu gelondongan.

Salah satu korban terdampak, Saryono Sakirin (68), warga RT 14 RW 05 Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, mengaku kehilangan rumah hingga seluruh peralatan produksi batakonya akibat diterjang arus deras.

Saryono menuturkan, peristiwa itu terjadi saat dirinya tengah tertidur lelap di rumah. Ia terbangun setelah istrinya menyadari air sudah masuk ke dalam rumah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya lagi tidur di rumah. Terus istri saya kebangun terus air sudah masuk rumah. Air besar banget. Saya panik terus naik ke lantai 2. Tapi air semakin besar dan suara gemuruh menakutkan, kata Saryono saat ditemui detikJateng, Sabtu (24/1/2026).

Ia mengatakan, arus banjir semakin deras disertai material kayu besar yang menghantam rumahnya. Bahkan, tiang penyangga rumah sempat tertabrak batang kayu berukuran besar.

ADVERTISEMENT

"Ternyata kayu yang datang sampai saka rumah saya tertabrak kayu besar. Alhamdulillah tidak patah. Kalau patah ya ambruk. Itu kejadian sekitar jam setengah 3 tadi," ujarnya.

Akibat banjir bandang tersebut, sebagian bangunan rumahnya hanyut terbawa arus. Tak hanya itu, kantor kecil yang biasa digunakan untuk usaha jual beli batako juga ikut hilang.

"Sebagian rumah saya ada yang hanyut, kantor yang buat jual beli batako juga hanyut, terus tembok keliling juga hilang," tuturnya.

Saryono mengaku kehilangan dua sepeda motor yang terseret arus. Sementara satu motor jenis Tossa miliknya tertimbun material lumpur.

"Sepeda motor saya hilang dua. Terus ada 1 motor Tossa yang terpendam material lumpur," katanya.

Selain bangunan dan kendaraan, bahan bangunan serta material produksi batako juga tak luput dari terjangan banjir.

"Saya kehilangan material batako mungkin ada 500-an, terus genteng. Rencana saya kan mau bangun rumah lagi," ucapnya.

Ia menambahkan, seluruh peralatan produksi di kantor batako miliknya hanyut terbawa arus, mulai dari cetakan batako hingga cetakan paving.

"Yang biasa buat kantor itu ya alat-alat produksi hanyut semua, cetakan batako, cetakan paving dan botolan," imbuh Saryono.

Akibat kejadian tersebut, Saryono memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai ratusan juta rupiah.

"Kerugiannya mungkin ya sampai ratusan juta," pungkasnya.

Warga lainnya, Tri Sasongko (29), mengatakan banjir terjadi sekitar pukul 03.15 WIB dini hari. Saat itu hujan tidak terlalu deras, namun disertai angin kencang yang sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir.

"Jam 3 lebih seperempat hujan tidak deras sebenarnya, cuma anginnya besar banget. Arah air dari barat atau atas. Tiba-tiba banter banget luapan sungai karena tertutup," katanya.

Menurut Tri, ketinggian air mencapai sekitar 1 meter dan berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Air yang datang membawa lumpur dan pasir, lalu sempat surut sekitar 15 menit sebelum kembali menghantam permukiman warga dengan membawa material kayu.

"Air itu sekitar 1 meter, berlangsung setengah jam bawa lumpur dan pasir. Sempat hilang 15 menitan, terus dihajar lagi bawa material kayu," ujarnya.




(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads