Banjir bandang melanda Desa Serang, Kecamatan Karangreja dan Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga dini hari tadi. Dua wilayah tersebut lokasinya bersebelahan di lereng tenggara Gunung Slamet.
Dalam kejadian ini satu warga Desa Serang bernama Solihah (26) tewas setelah terbawa arus banjir bandang. Kediamannya juga roboh, rata dengan tanah.
Pantauan detikJateng, jalanan desa tersebut luluh lantak. Material lumpur dan beberapa kayu gelondongan masih nampak meski sudah dibersihkan oleh tim relawan gabungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari kesaksian warga material banjir bandang sempat melintasi jalan utama ke arah jalur Basecamp Pos Bambangan, pendakian Gunung Slamet dari kota Purbalingga. Dampak terparah terjadi di sekitaran rumah yang berada di tepi Sungai Soso.
Salah satu warga RT 13 RW 05 Desa Sangkanayu, Tri Sasongko (29), menceritakan ngerinya banjir bandang yang menimpa desanya tersebut. Tri menuturkan, banjir terjadi sekitar pukul 03.15 WIB dini hari. Saat itu hujan sebenarnya tidak terlalu deras, namun disertai angin kencang yang sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
"Jam 3 lebih seperempat hujan tidak deras sebenarnya, cuma anginnya besar banget. Arah air dari barat atau atas. Tiba-tiba banter banget luapan sungai karena tertutup," kata dia saat ditemui detikJateng, Sabtu (24/1/2026).
Menurut Tri, saat kejadian ketinggian air mencapai sekitar 1 meter dan berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Air yang datang membawa lumpur dan pasir, lalu sempat surut sekitar 15 menit sebelum kembali menghantam permukiman warga dengan membawa material kayu.
"Air itu sekitar 1 meter, berlangsung setengah jam bawa lumpur dan pasir. Sempat hilang 15 menitan, terus dihajar lagi bawa material kayu," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan angin kencang sudah dirasakan warga selama tiga hari terakhir, bahkan membuat sebagian warga kesulitan tidur.
"Angin sudah tiga hari ini besar banget. Cuma sempat mendung, jadi jarang tidur ini," tambahnya.
Korban lainnya, Saryono Sakirin (68), warga RT 14 RW 05 Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, mengaku kehilangan rumah hingga seluruh peralatan produksi batakonya akibat diterjang arus deras.
Saryono menuturkan, peristiwa itu terjadi saat dirinya tengah tertidur lelap di rumah. Ia terbangun setelah istrinya menyadari air sudah masuk ke dalam rumah.
"Saya lagi tidur di rumah. Terus istri saya kebangun terus air sudah masuk rumah. Air besar banget. Saya panik terus naik ke lantai 2. Tapi air semakin besar dan suara gemuruh menakutkan," katanya.
Ia mengatakan, arus banjir semakin deras disertai material kayu besar yang menghantam rumahnya. Bahkan, tiang penyangga rumah sempat tertabrak batang kayu berukuran besar.
"Ternyata kayu yang datang sampai saka rumah saya tertabrak kayu besar. Alhamdulillah tidak patah. Kalau patah ya ambruk. Itu kejadian sekitar jam setengah 3 tadi," ujarnya.
Akibat banjir bandang tersebut, sebagian bangunan rumahnya hanyut terbawa arus. Tak hanya itu, kantor kecil yang biasa digunakan untuk usaha jual beli batako juga ikut hilang.
"Sebagian rumah saya ada yang hanyut, kantor yang buat jual beli batako juga hanyut, terus tembok keliling juga hilang," tuturnya.
Saryono mengaku kehilangan dua sepeda motor yang terseret arus. Sementara satu motor jenis Tossa miliknya tertimbun material lumpur.
"Sepeda motor saya hilang dua. Terus ada 1 motor Tossa yang terpendam material lumpur," katanya.
Selain bangunan dan kendaraan, bahan bangunan serta material produksi batako juga tak luput dari terjangan banjir.
"Saya kehilangan material batako mungkin ada 500-an, terus genteng. Rencana saya kan mau bangun rumah lagi," ucapnya.
Ia menambahkan, seluruh peralatan produksi di kantor batako miliknya hanyut terbawa arus, mulai dari cetakan batako hingga cetakan paving.
"Yang biasa buat kantor itu ya alat-alat produksi hanyut semua, cetakan batako, cetakan paving dan botolan," imbuh Saryono.
Akibat kejadian tersebut, Saryono memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai ratusan juta rupiah.
"Kerugiannya mungkin ya sampai ratusan juta," pungkasnya.
