Sejumlah warga yang bermukim di lereng Gunung Slamet, Kabupaten Purbalingga sudah tiga hari dibuat tidur tidak nyenyak. Pasalnya angin kencang sudah berhembus selama tiga hari terakhir. Suasana semakin mencekam ketika angin berhembus disertai hujan deras.
Pantauan detikJateng, saat berada di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet angin kerap kali berhembus kencang dari arah timur. Angin itu menerbangkan debu bekas banjir bandang dan menggetarkan atap rumah warga.
Menurut penuturan Tri Sasongko (29), warga RT 13 RW 05 desa setempat, angin tersebut sudah berlangsung selama tiga hari terakhir. Waktunya tidak tentu sehingga membuat was-was sepanjang hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Angin sudah tiga hari ini besar banget. Jadi warga sini jarang yang bisa tidur nyenyak. Terlebih kalau disertai hujan," kata Tri saat ditemui detikJateng, Sabtu (24/1/2026).
Namun, kondisi tersebut yang justru membuat warga terjaga sampai dinihari. Hingga akhirnya pada pagi tadi banjir bandang menerjang wilayah desanya.
"Jam 3 lebih seperempat hujan tidak deras sebenarnya, cuma anginnya besar banget. Arah air dari barat atau atas. Tiba-tiba banter banget luapan sungai karena tertutup," terangnya.
Kondisi serupa juga dialami Kusito (42). Tiga hari ini ia merasa lesu karena selalu terjaga akibat angin kencang yang melanda wilayahnya.
"Saya sudah tiga malam tidak bisa tidur pulas karena anginnya besar banget, apa lagi kalau campur hujan," ujar dia.
Warga sebenarnya sudah terbiasa jika hujan deras terjadi. Hanya saja jika bercampur angin membuat warga cemas.
"Sudah standby 3 malam ini karena kepikiran terus. Kalau misal air tok (hujan) masih bisa tidur, tapi ini campur angin besar," jelasnya.
Kusito mengaku pada saat kejadian banjir bandang dini hari tadi wilayahnya juga dilanda angin yang cukup besar. Sehingga banyak warga yang tidak tidur.
"Semalam itu anginnya luar biasa. Saya lagi tidur terus ada suara gemuruh keras banget jadi bangun. Terus saya melihat depan rumah sudah rata karena banjir bandang," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, banjir bandang melanda Desa Serang, Kecamatan Karangreja dan Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga dinihari tadi. Dua wilayah tersebut lokasinya bersebelahan di lereng tenggara Gunung Slamet.
Dalam kejadian ini satu warga Desa Serang bernama Solihah (26) tewas setelah terbawa arus banjir bandang. Kediamannya juga roboh, rata dengan tanah.
Pantauan detikJateng, jalanan desa tersebut luluh lantak. Material lumpur dan beberapa gelondongan kayu masih nampak meski sudah dibersihkan oleh tim relawan gabungan.
Dari kesaksian warga material banjir bandang sempat melintasi jalan utama ke arah jalur Basecamp Pos Bambangan, pendakian Gunung Slamet dari kota Purbalingga. Dampak terparah terjadi di sekitaran rumah yang berada di tepi Sungai Soso.
Salah satu warga RT 13 RW 05 Desa Sangkanayu, Tri Sasongko (29), mengatakan banjir terjadi sekitar pukul 03.15 WIB dinihari. Saat itu hujan tidak terlalu deras, namun disertai angin kencang yang sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
"Jam 3 lebih seperempat hujan tidak deras sebenarnya, cuma anginnya besar banget. Arah air dari barat atau atas. Tiba-tiba banter banget luapan sungai karena tertutup," kata dia saat ditemui detikJateng, Sabtu (24/1).
(afn/afn)
