Curhat Warga Tambaksari Semarang 2 Pekan Terisolasi Usai Jembatan Ambrol

Curhat Warga Tambaksari Semarang 2 Pekan Terisolasi Usai Jembatan Ambrol

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Kamis, 29 Jan 2026 17:07 WIB
Warga Tambaksari harus membeli gas dari luar kampung dan membawanya menggunakan gethek di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026).
Warga Tambaksari harus membeli gas dari luar kampung dan membawanya menggunakan gethek di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng.
Semarang -

Warga Kampung Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, terisolasi selama dua pekan usai jembatan penghubung kampung mereka ambrol diterjang banjir. Mereka mengeluhkan sulitnya mendapat gas LPG dan air minum.

Pantauan detikJateng di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, warga menyeberang sungai menggunakan gethek sederhana berbahan bambu dan jeriken plastik sebagai pelampung.

Gethek itu ditarik menggunakan tali yang diikat di kedua sisi sungai. Anak-anak hingga orang dewasa tampak bergantian naik, sebagian membawa barang, sementara sepeda motor para warga ditinggal di tepi sungai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi terisolasi ini sudah berlangsung sekitar dua pekan dan berdampak langsung pada kebutuhan dasar serta perekonomian warga. Salah satu warga Tambaksari, Tuminah (53), mengatakan aktivitasnya sebagai pedagang lumpuh karena akses masuk-keluar kampung terputus.

"Sudah dua minggu nggak bisa lewat sama sekali. Mau ngantar dagangan ya nggak bisa. Biasanya saya antar sendiri, sekarang harus nyuruh anak atau suami, apalagi kaki lagi sakit," kata Tuminah kepada detikJateng di lokasi, Kamis (29/1/2026).

Warga Tambaksari harus membeli gas dari luar kampung dan membawanya menggunakan gethek di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026).Warga Tambaksari harus membeli gas dari luar kampung dan membawanya menggunakan gethek di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng


Tuminah yang berjualan peyek gimbal serta jamu, dan menitipkannya ke warung-warung itu mengaku pendapatannya menurun drastis. Selain akses sulit, harga kebutuhan pokok ikut melonjak karena biaya angkut bertambah.

ADVERTISEMENT

"Harga-harga naik semua. Galon air isi ulang biasanya Rp 6 ribu sekarang jadi Rp 8 ribu. Barang juga jadi lebih mahal karena dibawa pakai gethek, sayur tadinya Rp 10 ribu jadi Rp 13 ribu," ujarnya.

"Belum lagi kalau nyari di luar itu harus bawa diangkut pakai gethek, terus ke rumahnya jalan kaki, nggak bisa pakai motor to, kan ditaruh di sana," lanjutnya.

Tuminah juga menyebut pasokan gas semakin sulit didapatkan. Bahkan stok di tingkat agen disebut berkurang, sementara harganya menjadi Rp 22 ribu.

"Gas susah. Katanya stok dikurangi. Biasanya satu pengepul bisa dapat banyak, sekarang cuma sedikit. Kalau mau nyari ya harus keluar jauh," katanya.

Tak hanya itu, warga juga hanya bisa salat berjemaah di musala karena tak ada masjid di kampung tersebut. Saat pertama terkena banjir dan jembatan ambrol, warga bahkan berjalan kaki menerjang Kali Bringin.

"Anak saya berangkat kerja malam jam 23.00 WIB juga masih harus melewati sungai itu pakai gethek. Warga yang sif malam juga," jelasnya.

"Wis terisolasi banget-banget lah. Saya selama dua minggu belum pernah 'njambat' (menyeberang jembatan)," tambahnya.

Warga Tambaksari harus membeli gas dari luar kampung dan membawanya menggunakan gethek di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026).Warga Tambaksari harus membeli gas dari luar kampung dan membawanya menggunakan gethek di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Sementara itu, warga Tambaksari lainnya, Hanafi (40) mengatakan, lumpuhnya akses jembatan membuat hampir seluruh aktivitas ekonomi di RW 7 Tambaksari terganggu.

"Kalau saya sehari-hari nelayan, sementara ini hampir 1 bulan libur karena ada cuaca ekstrem dan gelombang besar," kata Hanafi kepada detikJateng.

"Terus juga terhambat masalah akses jembatan, gara-gara itu ekonomi di wilayah RW 7 Tambaksari khususnya itu lumpuh karena ada robohnya jembatan itu," sambungnya.

Ia juga menyebut warga harus memanggul galon air minum menyeberangi sungai karena air bersih setempat tidak layak konsumsi.

"Air dari sumur bor itu kalau dikonsumsi rasanya agak asin, makanya sangat bergantung pada air galon kalau untuk konsumsi. Sedangkan air galon nyarinya susah. Susah harus ke sana, manggul," jelas Hanafi.



Sementara jika ada paket, ada kurir yang mengantar paket ke rumah tujuan dan menunggang gethek, tetapi banyak juga warga yang mengambil paket yang dititipkan kepada warga kampung sebelah.

"Kalau hujan lebat, warga juga takut lewat. Apalagi anak-anak pulang sekolah nyebrang pakai gethek, itu rawan sekali, takutnya pas mau nyeberang nggak ada orang dewasa, atau banjir airnya besar, kan bahaya," ujarnya.

Hanafi menambahkan, kesulitan ekonomi warga semakin berat dirasakan sebagian warga yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka sudah tidak melaut hampir sebulan terakhir, akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.

"Nelayan banyak yang libur karena gelombang besar. Jadi sekarang benar-benar tertekan, akses terputus, penghasilan nggak ada," ungkapnya.

Warga menyebut sudah ada peninjauan dari pemerintah kota, kecamatan, BBWS, hingga anggota DPRD. Namun hingga kini, belum ada kepastian kapan jembatan permanen akan dibangun.

"Kami sudah hampir tiga tahun berharap jembatan permanen dibangun. Sekarang kondisinya makin parah. Harapan kami satu, jembatan segera dibangun supaya ekonomi dan aktivitas warga bisa pulih," harap Hanafi.

Halaman 2 dari 2
(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads