Gerombolan monyet berkeliaran di rumah warga Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Warga resah karena kawanan monyet itu mencuri jemuran, mengintip orang mandi, hingga mengambil buah-buahan.
Video monyet-monyet yang berkeliaran di sekitaran rumah warga itu beredar di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Instagram @kabarungaran.
"Monyet masuk pemukiman warga Gintungan Desa Gogik RT 4 RW 2 Ungaran Barat," tulis takarir unggahan video tersebut, dilihat detikJateng pada Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam video tersebut terlihat segerombolan monyet berada di luar rumah warga. Monyet itu melompat-lompat ke jendela rumah.
Seorang warga Dusun Gintungan, Muamah mengatakan kedatangan monyet di sekitar tempat tinggalnya sudah sekitar satu tahun lalu.
"Kira-kira sudah setahun pada turun ke sini," kata Muamah pada detikJateng.
Rupanya, gerombolan monyet itu juga turun hingga wilayah Dusun Candi Babatan, Kelurahan Candirejo. Warga Dusun Candi Babatan, Ibu Ti mengaku para monyet itu juga kerap berulah di wilayahnya seperti mengintip orang mandi.
"Sampai sini juga mas (monyetnya), itu di sana kalau pas lagi datang juga ngintip orang mandi," kata Ti sambil menunjuk sebuah rumah tingkat tak jauh dari kediamannya.
Selain mengintip orang mandi, Ti menyebut monyet-monyet itu kerap mencuri jemuran milik warga. Ia yang memiliki toko kelontong juga merasa khawatir monyet itu mencuri dagangannya.
"Gombal-gombal, jemuran itu ya pada dibawa. Sekarang belum pernah masuk ke sini, tapi khawatir juga mas ini kan warung terbuka nanti takutnya mencuri," ujar Ti.
Prasetiyo, staf Desa Gogik membenarkan sudah satu tahun rombongan monyet kerap datang ke wilayahnya. Buruan favorit para monyet saat turun salah satunya adalah alpukat yang banyak dibudidayakan di wilayah tersebut.
"Di sini kan ada dua dusun, Gogik sama Gintungan. Tapi paling sering di Gintungan. Kalau turun pada dipetikin itu rata-rata alpukat, yang banyak di sini kan itu. Selain itu juga jambu," kata Prasetiyo saat ditemui di Kantor Desa Gogik.
Prasetiyo menuturkan, selain mencuri buah-buahan yang menggantung di atas pohon, gerombolan monyet ini juga mengambil singkong yang ditanam warga.
"Pohung (singkong) juga diambil. Akale pinter, mereka kencing dulu di situ, tanahnya basah terus jadi gampang dicabut," ungkapnya.
"Kerugian dan sebagainya belum ada laporan, ya paling dijaga terus tegalan (kebunnya), kalau ada monyet yang datang digusah (diusir) karena warga juga sudah mulai terbiasa," imbuh Prasetiyo.
Prasetiyo mengaku belum tahu dari mana monyet itu berasal. Namun ia menduga monyet yang datang ke wilayahnya itu memang sudah lama berada di bawah Gunung Ungaran.
"Mungkin monyet itu sudah terlalu lama di bawah, terus akhirnya mungkin kalau dia naik kan berkelahi sama yang di atas, kemungkinan seperti itu. Terus dia mungkin berkembang biak di wilayah-wilayah tegalan-tegalan yang dekat perkebunan-perkebunan," jelas Prasetiyo.
Warga sudah berusaha melacak di mana tempat monyet itu berkembang biak. Namun hingga kini, menurut Prasetiyo, usaha itu belum berhasil karena waktu kedatangan mereka yang tidak menentu.
"Di mana (sarangnya) itu yang kita enggak tahu, kita mau nyarinya itu sulit. Heeh. Karena itu pagi, siang, sore datangnya. Didatangi kita tahu-tahu sudah hilang. Kalau tahu rutenya pasti bisa dilacak (sarangnya)," kata Prasetiyo.
Pihak desa sudah berkoordinasi dengan dinas terkait mengenai fenomena yang meresahkan warga ini. Solusi sementara yang diberikan yaitu dengan memasang perangkap.
"Dari dinas terkait, seperti BPBD, Dinas Kehutanan dan lainnya itu sudah datang ke sini. Solusinya ya itu dikasih kotak perangkap kalau ketangkap dibawa ke Semarang," ujar Prasetiyo.
"Tapi akale (akalnya monyet itu) pinter, sampai sekarang belum ada yang ketangkep, kayaknya tahu (itu perangkap). Padahal di perangkap itu sudah dikasih pisang sama minuman," tambahnya.
Prasetiyo menyebut belum ada laporan monyet itu menyerang warga. Saat ini, warga juga sudah mulai terbiasa dengan kedatangan monyet itu.
"Nggak ada warga yang diserang sampai sekarang. Solusi (yang dilakukan warga) ya tidak memberi makan, kalau datang digusah (diusir)," terang Prasetiyo.
"Wis udah gitu aja. Mau gimana? Kita juga enggak ada solusi untuk ke arah situ. Kita juga bingung mau cari solusi harus bagaimana, karena ketika nanti dibunuh tetap enggak boleh karena dilindungi," pungkasnya.
Pantauan detikJateng di Desa Gogik dan Dusun Candi Babatan, Kelurahan Candirejo sejak siang hingga sore pada Kamis (29/1/2026), tidak ada monyet yang turun ke wilayah tersebut.
