Warga Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, beramai-ramai memasang ratusan spanduk berisi penolakan tambang tanah uruk untuk tol Jogja-Bawen. Spanduk kini bertebaran di sudut-sudut desa.
Pantauan detikJateng pagi ini sekitar pukul 08.00 WIB, warga dari enam dusun di Desa Sambeng mulai berdatangan di Posko Gema Pelita (Paguyuban Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan dan Tanah Air) Sambeng.
Selain itu, ada juga mobil pikap yang khusus membawa berbagai ukuran spanduk yang siap dipasang. Pemasangan spanduk ini dimulai dari berbatasan Desa Sambeng dengan Candirejo hingga Bigaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemasangan spanduk tersebut merupakan respons dari rencana penambangan tanah uruk di desa tersebut untuk mencukupi kebutuhan pembangunan jalan tol.
Humas Gema Pelita Sambeng, Suratman mengatakan, spanduk tersebut sengaja dipasang untuk mengakomodir keluh kesah warga.
"Jadi aspirasi masyarakat ditumpahkan semuanya lewat tulisan-tulisan dari baliho, spanduk, banner. Dari mulai perbatasan Sambeng-Bigaran dan sampai perbatasan Candirejo-Sambeng. Segala keluh kesah, segala aspirasi apapun dituangkan semuanya di sini (spanduk). Jadi ini bentuk aspirasi kekecewaan dan luapan amarah dan emosi dari seluruh masyarakat Desa Sambeng," kata Suratman, Minggu (22/2/2026).
Dia mengklaim penolakan itu didukung penuh oleh semua warga enam dusun yang ada di desa itu. Hal tersebut terlihat dari besarnya animo warga dalam pemasangan spanduk penolakan tambang tanah uruk.
"Semuanya kompak turun. Kalau perkiraan ini sekitar 400-500 orang. Tuntutannya tetap sama. Kita tetap kepingin proses perizinan ini berhenti. Kemudian, tidak ada proses tambang tanah uruk di Desa Sambeng," tegasnya.
Warga Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, beramai-ramai memasang ratusan spanduk berisi penolakan tambang tanah uruk untuk tol Jogja-Bawen, Minggu (22/2/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Sementara itu, salah satu perangkat Desa Sambeng, Teguh mengatakan aksi pemasangan spanduk itu murni dari suara warga.
"Kami hanya bisa membersamai dan memberi perlindungan kepada mereka untuk kegiatan kegiatan seperti ini (kerja bakti pemasangan spanduk)," kata Teguh yang Kepala Urusan (Kaur) Umum Desa Sambeng.
Perihal pemasangan spanduk yang ada berisi nada kritikan terhadap Pemdes Sambeng, kata dia, sangat terbuka dengan kritik dari warga yang berhubungan dengan kepala desa.
"Tentunya semua sudah mengetahui. Tapi, untuk ke dalam internal Pemdes tentunya kami akan selalu melakukan perbaikan," bebernya.
(ahr/ahr)

