Tongkang hanyut menabrak permukiman tengah laut Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak dan merusak sejumlah fasilitas umum hingga rumah. Warga takut dampak kerusakan makin parah jika tongkang tak segera dievakuasi.
Warga Dukuh Tambaksari RT 4 RW 1, Khafidi meminta tongkang itu segera dievakuasi. Masyarakat setempat takut dampak yang ditimbulkan makin meluas jika tongkang masih di sana.
"Yang diminta untuk saat ini yang pertama itu secepatnya evakuasi kapal karena ditakutkan itu pasti kalau nanti robnya besar, gelombang besar, angin besar, itu kalau rumahnya Mas Khairul Umam sudah terkena itu imbasnya akan ke rumah warga yang lain karena rumahnya di situ kan berhimpitan semua, bahkan juga masjid juga," kata Khafidi kepada detikJateng, Sabtu (7/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika tongkang sudah terevakuasi, Khafidi mengungkapkan warga juga menginginkan adanya ganti rugi. Sejumlah fasilitas umum, rumah, dan warung warga rusak karena hantaman kapal tongkang itu.
"Kami juga di situ kan ada kerusakan dari jembatan yang sudah kita buat juga rumah juga dapur, itu semuanya yang bikin kan dari warga. Jadi gimana caranya nanti agar bisa diganti rugi dari pihak yang yang punya tongkang," harap Khafidi.
"Gapura kampung rusak, terus jembatan kampung juga rusak, jembatan makam juga rusak. Terus rumahnya Mas Khoirul Umam itu rusak, juga warung miliknya juga rusak, terus juga warung miliknya Pak Makmun, Pak Habib juga terkena imbasnya semua," imbuhnya.
Khafidi yang berada di lokasi saat kapal itu menghantam permukimannya mengaku sangat panik ketika peristiwa tersebut terjadi. Ia juga meminta warga untuk segera menyelamatkan harta bendanya.
"Panik sekali ketika itu, setelah saya melihat kejadian itu, saya langsung pergi lagi ke masjid memberi tahu warga bahwasanya untuk barang-barang yang berharga harus cepat dikeluarkan karena saya berpikir itu pasti tongkang itu akan terkena rumah," ujar Khafidi.
Di tempat yang sama, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Muham Faiz meminta agar pemilik tongkang lekas bertanggung jawab. Ia juga menyinggung terkait Undang-undang Pelayaran.
"Kami memohon, kami meminta agar segera pihak terkait yang memiliki kapal tersebut segera mengevakuasi dan menyelesaikan tanggung jawabnya," tutur Faiz.
"Apalagi dalam pelayaran juga sudah diatur dalam undang-undang pelayaran yang sudah diubah pada pasal Undang-Undang Nomor 66 Tahun 2024. Di situ jelas bahwasanya pihak yang terkait harus bertanggung jawab atas insiden ini," ujar pria yang juga berprofesi sebagai advokat itu.
Sementara itu, Kasat Polairud Polres Demak, Iptu Bambang Suhartoyo merinci ada sekitar 40 orang yang mengungsi karena peristiwa ini.
"(Pengungsi) berkisar ada 11 KK. Terus ada kisaran manusia dalam KK tersebut baik orang tua dan anak mengungsi di sebuah masjid yang terletak di area sana juga. Ya sekitar kurang lebih hampir 30-40 orang yang mengungsi sampai saat ini tadi," kata Bambang.
Terpisah, seorang kru kapal dari Padang, Mahdi Ibrahim menceritakan awal mula peristiwa tersebut. Semula kapal tongkang itu berangkat dari Tegal hendak menuju Banjarmasin dan singgah di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang untuk mengisi BBM.
"Dari Tegal ke Banjar (Banjarmasin), mau ngisi BBM di sini, di Semarang ini. Mau singgah dulu," kata Mahdi saat ditemui detikJateng usai dievakuasi ke daratan, Sabtu (7/3/2026).
Mahdi menyebut tongkang tersebut sedang tidak membawa muatan. Biasanya, tongkang ini mengangkut batu bara.
"Biasanya untuk ngangkut batu bara, untuk sekarang kosong," ujar Mahdi.
Data yang dihimpun detikJateng, kapal ini bernama Alfine Marine milik PT Trans Logistik Perkasa. Pada bagian badan tongkang itu, tertulis "GOLD TRANS 3008".
Kru kapal lain dari Flores, Rido Tukan mengungkapkan kapal sebenarnya sudah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Mas. Namun tiba-tiba datang badai dan ombak tinggi yang membuat dua tali penghubung thug boat dengan tongkang terputus.
"(Di Tanjung Mas) sudah lego jangkar juga sudah berlabuh. Sudah berlabuh jangkar. Tapi karena kondisi cuaca yang enggak mendukung jadi larat. (Terombang ambing) dari jam 10.00 WIB sampai jam 20.00 WIB malam," tutur Rido.
"(Jam 10.00 WIB) masih narik-narik cari tempat untuk berlabuh yang bagus. Putus sekitar jam 12.00 WIB siang sama jam 14.00 WIB. Enggak bisa di atasi lagi karena sudah enggak ada lagi tali towing-nya. Dari jam 10 itu kejar kejaran (thug boat dengan tongkang). Sampai di sini (Dukuh Tambaksari) pas habis buka puasa, pas mau terawih," sambungnya.
Selama berjam-jam terombang-ambing di lautan, empat kru kapal itu merasa sangat ketakutan. Mereka juga tidak membawa alat komunikasi.
"Takut sekali, tidak tahu harus gimana dan sampai kapan. Jadi kami kan ke tongkang untuk memperbaiki tali yang putus, waktu masih putus satu sepertinya bisa tapi ternyata putus dua duanya," ucap Rido.
"Semua HP itu kami tinggal karena di tongkang kan niatnya cuma perbaiki itu, tapi malah larat. Untungnya kapal sampai di wilayah Syekh Mudzakir itu, dan di sana ada warga," pungkasnya.
(alg/alg)